Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXXIV/04 - 10 April 2005
   
Nasional

Setelah Mega dan Guruh Berpelukan

LIFT membawa Guruh Soekarnoputra turun dari lantai delapan Hotel Grand Bali Beach ke lantai tujuh. Tepat di suite room 7100, Kamis petang pekan lalu, Guruh membuka pintu. Ruangan penuh orang. Sang empunya kamar, Ketua Umum PDI Perjuangan itu, tak bisa diganggu. Dia tengah repot meracik susunan kepengurusan partainya—yang akan diumumkan beberapa jam lagi—di lantai atas. Sejenak kemudian, Mega turun.

Begitu pintu terbuka, kedua kakak-beradik itu saling menghampiri. Mereka berpelukan. Hiruk-pikuk di lantai itu seketika senyap. Tak ada yang bicara.

Kakak-beradik itu kemudian duduk bersanding di sofa. Keduanya saling menepuk bahu, saling memandang. Kemesraan kelihatan tanpa perlu banyak kata-kata. Mega segera kembali ke "pertapaan"-nya. Sebuah kerja sudah menunggu.

"Guruh telah kembali," kata Wakil Sekjen PDIP Agnita Singedikane, yang juga kawan dekat Mega. Guruh, yang semula diduga memperkuat barisan "Pembaruan" yang berlawanan dengan kubu Mega, telah kembali ke pangkuan kakaknya.

Guruh mengaku sudah "pamit" menjadi calon penantang, awal Januari silam. Megawati tidak jelas-jelas melarang, tapi dalam pertemuan keduanya bekas Presiden RI itu hanya berpesan halus. "Sebagai kakak, saya bangga kamu punya keinginan seperti itu. Tapi, bakatmu itu di seni dan budaya."

Kemudian Mega bercerita betapa sulitnya ia meraih jabatan Ketua Umum PDI Perjuangan. Perlu keringat, sabar, dan tabah terhadap tekanan penguasa. "Jadi, bukan semata karena anak Soekarno," ujar Mega kepada Guruh, seperti diceritakan sebuah sumber.

Ringkasnya, Mega minta Guruh mengikuti darah seninya saja. Di antara putra-putri Bung Karno, hanya Guruh yang sejak kecil berkesenian. Guruh di usia remaja mendirikan Swara Mahardhika, paguyuban seni yang menjelma menjadi organisasi seni besar. Swara Mahardhika pernah dicoba dijadikan partai politik oleh Guruh. Tapi aturan main Orde Baru mengganjal ide ini.

Hawa panas politik menjelang Kongres II PDIP di Bali sempat membuat kakak-adik itu berjauhan. Keduanya terlihat kaku saat bertemu di acara pembukaan kongres. Ciuman dan pelukan Guruh disambut Mega dingin.

Setelah keributan soal tata tertib sidang dimenangi kubu Mega, Guruh mulai berpikir seribu kali untuk tetap maju ke pencalonan ketua umum. Tata tertib sidang sama sekali "tak berpihak" kepadanya. Penyempitan jumlah suara yang bisa memilih, dari sekitar 1.800 suara menjadi tinggal 440 suara, membuat dukungan daerah kepada Guruh sirna. "Ya, habislah saya," kata Guruh.

Guruh hanya punya dua pilihan: terus bersama kubu Pembaruan dengan menggelar kongres tandingan, atau kembali ke kubu Mega. Ada pilihan lain untuk Guruh. Sukmawati datang menawarkan jabatan pimpinan PNI Marhaenisme, dengan syarat Guruh keluar dari PDIP.

Akhirnya Guruh memilih tetap bersama Mega. Kongres PDI Perjuangan tandingan ricuh. Guruh menolak meneruskan langkah bersama kelompok tandingan. Kabarnya, Guruh sempat mencoba menelepon Mega. Tapi telepon seluler sang Ketua Umum tidak diaktifkan. Mega sibuk dengan kegiatan meracik susunan pengurus yang baru. Guruh hanya sempat menitipkan pesan lewat Agnita: "Peluk cium dan salam hormatku buat Mbak Ega."

Pesan itu sampai ke telinga Mega. Sebuah perjumpaan pun dirancang di ruang 7100, tempat Mega beristirahat. Setelah keduanya berpelukan—ditingkahi sedikit air mata—Mega pun memaafkan sang adik, yang sudah "keliru" memilih jalan menantangnya. Ketika susunan kepengurusan dibacakan, ia memberikan "kado" itu: jabatan ketua bidang pendidikan dan kebudayaan untuk sang adik.

Widiarsi Agustina, Imron Rosyid


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data