Dalam Dukamu, Tano Niha Sekali lagi bencana itu datang. Di keremangan malam, Nias jadi puing. Gempa 8,7 skala Richter menggada. Jalan kaku. Lurus. Putus. Orang-orang menjerit. Itu tubuh mengucur darah, mengucur darah.... |
ISYARAT itu datang dari sekawanan hewan. Di Jalan Lamnyong, Banda Aceh, Senin 28 Maret 2005 lalu, jam menunjukkan pukul 22.10. Sepi menyergap ibu kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tiba-tiba sekawanan sapi lari tunggang-langgang. Debu beterbangan. Sekelompok wartawan yang berkumpul di kantor Lembaga Hukom Adat Panglima Laot Nanggroe Aceh Darussalam tersentak. Bumi bergetar di Serambi Mekah. Gempa datang lagi. Tapi ini bukan yang pertama. Sejak tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004, puluhan gempa besar dan kecil bersusulan. Tapi gerombolan sapi itu membuat curiga: hewan lebih lihai mengendus bencana. Tsunami datang lagi?
Semua pewarta, termasuk Tempo, menghambur ke luar rumah. Tak ada yang harus dilakukan kecuali lari ke tempat yang lebih tinggi. Semua orang: warga, relawan asing, perempuan, anak-anak dan orang tua. Kendaraan berdesakan di jalan-jalan. Suara klakson berteriak-teriak.
Ketika gempa reda, setelah mengguncang dua menit lamanya, orang-orang saling pandang. Beberapa wartawan asing meminta Tempo menelepon pejabat untuk memastikan apa yang terjadi. Sayang, tak banyak yang bisa dikontak. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab, orang yang mengkoordinasi penanggulangan Aceh pascabencana, sedang di Qatar dan tak mengaktifkan telepon selulernya. Beruntung Panglima Operasi Penanggulangan Bencana Aceh-Nias, Mayor Jenderal TNI Bambang Darmono, bisa ditelepon. Tapi ia pun mengaku belum tahu apa yang terjadi.
* * *
TAK putus dirundung malang. Dihantam gempa dan tsunami pada 26 Desember lalu, Nias tak mendapat perhatian sederas Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa kali ini—syukurlah, tak diikuti tsunami—membuat luka yang belum kering itu menganga lagi. Pulau seluas 5.449 kilo meter persegi luluh-lantak. Seluruh kota gulita seketika. Ratusan rumah, sekolah, gereja, kantor, dan bangunan lainnya ambruk digetarkan gempa pada 8,2 skala Richter.
Pasangan suami-istri Sukarni dan Rosmini tersentak dari lelapnya. Hotel Wisata yang mereka tempati tiba-tiba runtuh. Sebuah balok menghantam rusuk Rosmini. Dokter yang aktif di Aceh setelah gempa dan tsunami itu kini berbalik menjadi orang yang harus ditolong. Delapan jam sulit bernapas, ia tak sanggup bertahan. Perempuan itu tewas. Rencana memberikan pelatihan pencegahan TBC di Rumah Sakit Gunung Sitoli, keesokan harinya, tak pernah terlaksana.
* * *
KEPANIKAN menular ke kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Telepon bersahutan dari dan menuju ajudan Presiden. Semua bertanya atau memberikan kabar tentang gempa di Nias. Dua di antara penelepon itu adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Widodo A.S. dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Para ajudan mengecek ke sana-kemari. Setelah memastikan apa yang terjadi, barulah Presiden dibangunkan.
Pukul 2.30 dini hari giliran Susilo yang menelepon anak buahnya. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab, segera diminta pulang. Setelah berbincang dengan Panglima TNI, Yudhoyono mengontak Bupati Nias Bina Hati Baeha. Tapi gagal. Baru sekitar pukul 05.00, Wakil Bupati Nias Induk Agus Mendrofa bisa dihubungi. Esok harinya, Presiden mengeluh di hadapan wartawan. Susilo mengakui jam-jam pertama setelah terjadi gempa, keadaan kacau. Selain karena adanya isu tsunami, juga karena beberapa pemimpin dan pejabat daerah Nias tidak ada di tempat.
Segenap info, mesti masih sangat minim, diboyong ke rapat pukul 7.00 pagi di Istana Negara. Hadir di sana Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo A.S., juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng dan Dino Pati Djalal, serta beberapa menteri dan pejabat lainnya.
Biasanya rapat di Istana mengharamkan dering telepon genggam, tapi tidak kali ini. "Suasana seperti warung," kata Andi Mallarangeng. Riuh-rendah. Semua menteri menelepon dan ditelepon. Di tengah rapat, telepon dari pemimpin dunia pun berdering untuk Presiden Yudhoyono, termasuk dari Perdana Menteri Australia John Howard.
* * *
TERPISAH 125 kilometer dari pusat provinsi, Tano Niha, nama lain Nias, harus ditempuh lewat udara atau sepuluh jam naik kapal dari Sibolga—kota di pesisir Sumatera Utara. Samudra Hindia terhampar di bagian barat pulau itu. Di sebelah utara, ia berbatasan dengan Kepulauan Banyak, yang masuk wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dan di selatan, ia bersanding dengan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Posisi yang terbuka dan dikelilingi Samudra Hindia inilah yang membuat Tano Niha rentan terhadap gempa. Dalam musibah gempa dan tsunami pada Desember silam, korban tewas di sana mencapai 270 orang. Di tengah riuh-rendahnya pemberitaan tentang Aceh, Nias hilang dari peta bencana. Saat mendatangi pulau itu pada Januari lalu, Presiden Yudhoyono menampik tudingan pemerintah menomorduakan Nias.
Kini, Nias luluh lagi. Hingga Jumat malam, korban tewas di Gunung Sitoli, ibu kota kabupaten, mencapai 285 orang dan 797 lainnya terluka. Angka ini diperkirakan masih terus bergulir lantaran banyaknya korban yang belum dievakuasi.
Tempo mendarat di Nias pada Rabu sore. Suasana kota hancur lebur. Jauh lebih buruk daripada pemandangan dari udara dengan pesawat Fokker 27, sehari sebelumnya. Pasar, rumah, gedung, gereja, hotel, dan sekitar 40 persen bangunan di Gunung Sitoli runtuh. Sebuah gereja luluh-lantak bagai tumpukan kartu yang dijatuhkan. Puing di mana-mana. Para korban pergi ke langit begitu cepat, barangkali tanpa lagi merasa sakit.
Ketika reruntuhan mulai disingkirkan, barulah tampak mayat-mayat yang sebagian sudah dirubung lalat. Mereka pergi menghadap Yang Kuasa dalam berbagai posisi. Kebanyakan telentang karena belum lagi sempat bangun dari tidur. Bau anyir merebak di seantero Gunung Sitoli (lihat Jangan Kami Ditinggalkan...).
Korban ditampung di berbagai tempat, termasuk di Gereja Santa Maria. Jenazah terus berdatangan sebelum bantuan apa pun datang dari pemerintah. Berdasar laporan petugas di sana, hingga akhir pekan lalu masih 28 jenazah yang belum dimakamkan dan telah mulai membusuk. Sebelumnya, 27 orang sudah dimakamkan oleh pengurus gereja.
Pastor Frans, seorang pemuka agama setempat, sempat mengisahkan peristiwa tak mengenakkan. Menjelang kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke gereja itu, sejumlah petugas Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) memasang tulisan "Tidak Menerima Mayat". Bahkan mereka juga meminta mayat yang berbau diungsikan ke luar gereja.
Tak hanya memikirkan mereka yang telah tiada dan sulit dimakamkan, Pastor Frans juga menyadari ratusan pengungsi di gerejanya juga butuh bantuan. Karena itu, ia mengandalkan bantuan pangan dari susteran setempat dan satu kapal dari Pastoran Manado. "Stok paling lama hanya untuk satu bulan," katanya mengeluh.
Keesokan harinya, pasukan SAR dari Singapura, Jepang, dan Spanyol tiba di Nias. Misi mereka adalah menyelamatkan yang masih hidup. Tiap tim hanya beranggotakan lima sampai enam orang. Kecil tapi efektif. Mereka bekerja manual, tanpa alat berat. Dengan tangan, mereka mengangkat satu per satu batu yang menimbun. Perlahan tapi efektif untuk menemukan korban yang tertimpa reruntuhan.
Sayang, banyak yang sudah tak tertolong. Seharian menyusur Gunung Sitoli, cuma dua orang—ibu dan anak—yang ditemukan dalam keadaan bernapas setelah terperangkap 52 jam.
Meski jumlah korban tak sebanyak di Gunung Sitoli, Teluk Dalam di Nias Selatan juga terhantam penderitaan. Bantuan makanan dan obat-obatan dari pemerintah belum masuk hingga Jumat pekan lalu. Sekitar 2.000 pengungsi di kompleks Gereja Bintang Laut justru mendapat bantuan dari negara asing seperti Hungaria, Amerika Serikat, dan Prancis. Pastor Selabius L., kepala asrama Gereja Bintang Laut, Teluk Dalam, mengeluh, "Kami mengumpulkan beras dari sisa-sisa toko bahan makanan."
Ajun Komisaris Besar Robin Simatupang, Kepala Bagian Operasional Polres Persiapan Nias Selatan, menyatakan bahwa bantuan tersendat masuk Teluk Dalam karena putusnya jalur transportasi dari Gunung Sitoli.
Di Sumatera Utara, secara keseluruhan, lima kabupaten terempas gempa, yaitu Nias, Nias Selatan, Sibolga, Madina, dan Simalungun. Tapi kerusakan di tiga kabupaten terakhir tidak parah. Di Aceh, empat kabupaten—Aceh Simeulue, Aceh Timur, Singkil, dan Aceh Selatan—yang terlanda gempa.
Kini, meski masih tersendat-sendat, bantuan mulai mengalir ke dua provinsi itu, termasuk bantuan medis. Banyak korban luka-luka yang diterbangkan ke Medan. Mereka umumnya luka di dada atau luka robek di kepala akibat tertimpa benda keras.
* * *
GUNCANGAN Samudra Hindia kali ini ditanggapi dengan siaga oleh negara-negara korban gempa dan tsunami Desember lalu. Salah satunya Thailand. Departemen meteorologi Thailand buru-buru menerapkan peringatan tsunami begitu mereka mendapat informasi gempa di Nias, Senin dini hari. Pemerintah segera mengevakuasi warga di enam provinsi Thailand, termasuk kawasan wisata Phuket, yang pada Desember lalu menewaskan 5.395 korban.
Begitu peringatan disiarkan lewat radio dan televisi pada tengah malam, jalan-jalan di Phuket langsung dipadati turis dan warga lokal yang mengungsikan diri ke daerah yang lebih tinggi. Deputi Gubernur Phuket, Wichai Buapradit, kepada Reuters menyebut 3.000 hingga 4.000 orang yang dievakuasi. Lima jam sesudah gempa, pemerintah mengumumkan bahwa kondisi sudah aman untuk kembali ke rumah masing-masing. Meski begitu, ribuan orang masih bertahan di bukit-bukit hingga keesokan harinya.
Nias memang bukan Phuket, meski keduanya sama-sama memiliki pantai eksotis. Tiada peringatan dini, apalagi evakuasi sebelum peristiwa terjadi. Pulau yang pernah dijuluki Bali Kedua ini sekarang memendam cemas dan kesedihan. Sebuah pulau dengan tubuh mengucur darah, mengucur darah....
Andari Karina Anom, Mardiyah (Banda Aceh), Istiqomatul Hayati (Nias), Bambang Soed dan Hambali Batubara (Medan)/AZ
|