Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXXIV/04 - 10 April 2005
   
Buku

Sebuah Buku, Pesaing Harry Potter

Novel Da Vinci Code telah mengundang kontroversi sejak pertama kali diterbitkan pada 2003. Kisah Yesus Kristus yang memiliki keturunan melalui Maria Magdalena, misalnya, mengundang protes dari umat Kristiani. Bahkan, salah seorang kardinal dari Vatikan secara resmi mengeluarkan larangan kepada pengikutnya membaca novel karya Dan Brown ini. Namun, larangan petinggi Vatikan itu tidak mampu mengerem laju popularitas Da Vinci Code.

Novel yang rencananya akan difilmkan ini telah terjual jutaan kopi dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa. Indonesia adalah salah satunya. Edisi Indonesia diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta pada Juli 2004. Cetakan pertama sebanyak 3.000 kopi terjual habis dalam waktu dua minggu. "Sekarang sudah cetakan ke-12 dan terjual sekitar 50 ribu. Untuk cetakan ke-13 sudah disiapkan dengan 15 ribu kopi," kata Husni Syawie, salah satu anggota redaksi penerbit Serambi yang bertanggung jawab untuk karya-karya fiksi.

Dengan perhitungan tersebut, tidak salah jika Serambi menempatkan Da Vinci Code pada urutan pertama daftar buku terlaris mereka saat ini. Untuk ukuran Indonesia, buku ini telah mengukir prestasi yang tidak biasa. Mungkin hanya Harry Potter dan Jakarta Undercover yang bisa menyaingi angka penjualan seperti itu. "Saya memperkirakan buku ini akan bertahan lama dan menjadi long best-seller," kata Husni.

Setelah sukses dengan versi soft cover, baru-baru ini Serambi meluncurkan Da Vinci Code versi hard cover. Selain itu, Serambi juga sedang mempersiapkan Da Vinci Code versi illustrated. Versi yang dipersiapkan ini akan dilengkapi dengan deskripsi berupa gambar-gambar berwarna. "Bukan komik, tetapi sekadar ilustrasi gambar di beberapa halaman," kata Husni.

Selama ini Serambi dikenal sebagai penerbit yang rajin menerbitkan buku-buku bernapaskan Islam. Husni mengakui hal itu. Namun, akhir 2003, pihak manajemen sepakat merambah ke berbagai tema umum. Pada tahun yang sama, di Barat, khususnya Amerika, penjualan Da Vinci Code membubung. Kontroversi yang melekat di novel itu justru menyedot perhatian Serambi. Tanpa menimbang lebih lama, Serambi memutuskan untuk menerbitkan Da Vinci Code dalam bahasa Indonesia. Mereka meminta lisensi kepada Tuttle Mori Agency, agen Da Vinci Code yang berkedudukan di Bangkok, Thailand. Ternyata saat itu sudah ada beberapa penerbit Indonesia yang memiliki tujuan sama. Namun, tidak sampai sebulan, Tuttle memberikan lisensi kepada Serambi.

Husni hanya bisa meraba alasannya. "Mungkin dari segi harga," katanya. Berapa harga yang ditawarkan Serambi? Husni tidak bersedia menyebutkan dengan alasan tidak etis karena akan menyinggung penerbit lain yang sudah mengajukan penawaran terlebih dahulu. Dia hanya menyebutkan royalty yang diberikan Serambi untuk penulis aslinya sebesar 7 persen.

Tidak takut mendapat protes umat Kristiani di Indonesia? Husni menyadari kemungkinan itu, namun dia berharap hal ini tidak terjadi. Menurut dia, apa yang dituliskan Dan Brown bukanlah isu baru. Pada tahun 1970-an, berbagai isu tentang teks-teks suci yang tidak masuk ke dalam Injil sudah diungkapkan oleh banyak peneliti. Namun, karena hasil penelitian disampaikan secara teknis akademis, hasil kerja peneliti itu kurang populer. Sedangkan Dan Brown memilih jalur fiksi untuk menyampaikannya. "Jadi, sebenarnya kami menyajikan buku dari suatu hasil pergumulan yang cukup panjang," kata Husni.

Sebagai penyeimbang, Serambi berencana menerbitkan buku lain yang masih berkaitan dengan Da Vinci Code. Buku ini merupakan tanggapan atas karya Dan Brown yang kontroversial itu. Seiring dengan popularitas Da Vinci Code, ada sejumlah penulis yang memberikan respons. Sekitar 40 judul sudah diterbitkan. Sebagian besar menyanggah isi Da Vinci Code. Serambi sendiri tengah mempertimbangkan dua judul buku yang akan diterjemahkan, yaitu Secret of the Code karya Dan Burstein dan Da Vinci Code Decoded karya Martin Lunn.

Suseno


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data