Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIV/28 Maret - 03 April 2005
   
Olahraga

Sepotong Doa dari Jombang

Wanita itu lama terdiam saat dimintai komentarnya tentang petinju Muhamad Rachman. Matanya menerawang. Sejurus kemudian keluar juga kalimat pelan dari mulutnya. "Saya harus tetap mendoakan dia supaya menang dan tetap jadi juara," kata Nuning Purwiyati, 29 tahun.

Nuning yang kini tinggal di Dusun Ngelawak, Jombang, Jawa Timur, tampak masih sedih setelah dicerai oleh Rachman. Kendati begitu ia pasrah dan tetap bersikap baik terhadap bekas suaminya. "Saya juga tak mau kalau ia kalah kemudian dia menuduh itu karena doa buruk dari saya," ujarnya saat ditemui Tempo di rumahnya, Rabu pekan lalu.

Rachman dan Nuning pernah menikmati masa-masa bahagia sebagai suami-istri selama sembilan tahun. Mereka dikaruniai dua anak, Rangga, 7 tahun, dan Puri, 6 tahun. Setelah bercerai pada akhir Oktober tahun lalu, Nuning hidup bersama dua anaknya di Jombang, sedangkan Rachman tinggal bersama istri ketiganya di Probolinggo, Jawa Timur.

Dari penuturan Nuning, terekamlah jejak Rachman di luar ring tinju. Lulusan SMEA ini mengenal Rachman saat sang petinju berkunjung ke rumah kerabatnya di Jombang. Perkenalan itu berujung ke pelaminan pada 1996. Nuning pun dengan setia mendampingi Rachman berlatih dan bertanding, menapaki karier di dunia tinju. Kebetulan Rachman sering berpindah-pindah sasana.

Ketika perkawinan sudah berbuah dua anak dan karier Rahman makin meroket bahtera rumah tangga mereka justru oleng. Setelah Rachman meraih gelar juara IBF Intercontinental, pada 2001, Nuning mengendus kehadiran wanita lain. Dialah Cut Asna Amelia, 42 tahun, wanita asal Malang yang kemudian jadi istri kedua Rachman pada 2002. "Sejak itu kami sering ribut," kenang Nuning.

Hanya sekitar dua tahun Amelia menjadi istri Rachman. Ia akhirnya juga dicerai setelah sang juara dunia menikah lagi dengan Dyah Retnoningsih, 25 tahun, seorang janda asal Blitar, pada Desember 2004.

Nuning kini berusaha menjalani hidup bersama anak-anaknya. Rachman masih rutin mengirim uang untuk kebutuhan anaknya meski jumlahnya tak sampai Rp 500 ribu. Rachman juga kadang-kadang datang bersama istri ketiganya, Dyah. "Dia sempat dua kali meminta saya rujuk dan membujuk agar mau jadi istri mudanya, tapi saya menolak. Saya sudah sampai pada kesadaran dia itu bukan jodoh saya," ujar Nuning.

Rachman sendiri, ketika ditemui Tempo di rumah kontrakannya di Jalan Hayam Wuruk, Probolinggo, tampak sangat mesra dengan istrinya, Dyah. Ketika ditanya kemungkinan menambah istri lagi, Rachman tertawa. "Bisa disembelih sama ini," katanya sambil mengelus pipi istrinya.

Dia tak risih dituding sebagai petinju tukang kawin-cerai. "Saya pikir, tidak masalah seorang petinju memiliki istri lebih dari satu. Yang penting, saya bisa bertanggung jawab, bisa membagi waktu yang adil," kata lelaki yang mengaku senang hidup teratur dan tak suka begadang ini.

Nurdin, Jojo Raharjo (Jombang), Abdi Purmono (Probolinggo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data