Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIV/28 Maret - 03 April 2005
   
Luar Negeri

Tak Ada TKI, India pun Jadi

Seiring dengan gelombang pemulangan pekerja ilegal asal Indonesia, Malaysia mulai merekrut pencari nafkah dari Asia Selatan.

KISAH sedih itu masih terus berdatangan dari negeri jiran. Selasa pekan silam, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Riau bernama Anik, 45 tahun, ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi kantor polisi Tanah Merah, Kota Baru, Kelantan. Padahal, hari itu Anik akan dipindahkan ke pusat tahanan sementara di Semenyih, Selangor, untuk menjalani persidangan. Anik tahu hukuman yang akan ia hadapi: deportasi. "Tampaknya, dia tak mau pulang ke Indonesia dan memilih gantung diri," kata Ketua Badan Pemantau Masyarakat Indonesia di Malaysia, Khairuddin Harahap, kepada Tempo.

Kejadian ini mengundang reaksi keras dari lembaga swadaya masyarakat yang khusus menangani persoalan TKI di Malaysia, seperti Migrant Care, Labour Resources Center (LRC), Suara Rakyat Malaysia (Suaram), dan Aliansi Buruh Migran (ABM). Koordinator ABM di Malaysia, Syaiful Amin S.W., mengaku sudah mencari kepastian berita itu. "Saya minta kepada KBRI agar kejadian itu diinformasikan kepada keluarga korban secepatnya," ujar Syaiful.

Gelombang massal deportasi, yang diperkirakan akan mencapai jumlah 500 ribu pencari nafkah asal Indonesia, kini menjadi bumerang yang berbalik menghantam pemerintah Malaysia sendiri: kekurangan tenaga kerja dalam jumlah masif, terutama di pabrik-pabrik, restoran, industri konstruksi, dan perkebunan untuk minyak kelapa. Bila hal ini tak segera diatasi, kekuatan ekonomi Malaysia bisa limbung secara signifikan.

Masalahnya adalah tingkat pengangguran di negeri itu sangat kecil. Persentase penganggur terbesar adalah lulusan perguruan tinggi yang baru menyelesaikan kuliah mereka. Tapi, tenaga kerja muda yang terdidik ini jelas enggan menangani pekerjaan kasar dengan gaji rendah.

Kamis pekan lalu, para politisi Malaysia yang menangani masalah ini bertemu di Kuala Lumpur untuk mencari pemecahan. Hasilnya, sebuah rekomendasi untuk segera merekrut pekerja dari Nepal, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Banyaknya kesamaan kultur antara masyarakat Asia Selatan dan masyarakat Malaysia dirasakan lebih memudahkan ketimbang mendatangkan pekerja dari negeri, misalnya, Filipina, yang sudah dikenal sebagai negara penyuplai tenaga kerja asing terbesar di dunia.

Meski begitu, usulan ini masih belum mendapat kesepakatan bulat. Tak sedikit juga yang menentang masuknya pekerja dari negara-negara Asia Selatan ini, terutama dari Pakistan. Ada kekhawatiran bahwa 100 ribu pekerja dari negeri itu akan disusupi anggota Al-Qaidah atau organisasi Islam radikal lainnya yang akan berdampak pada ketertiban dalam negeri.

Terhadap kekhawatiran ini, Menteri Dalam Negeri Azmi Khalid menyatakan Kuala Lumpur dan Islamabad telah sepakat akan melakukan pengecekan keamanan dan kriminal yang ketat terhadap calon tenaga kerja yang akan memasuki Malaysia. "Satu dari 10 tenaga kerja yang sudah terpilih secara acak akan tetap diseleksi lagi," katanya. Apa pun, paling tidak posisi tawar Malaysia, yang tadinya ciut lantaran perginya para TKI, kini bisa ditingkatkan lagi. Jadi, tampaknya hanya tinggal menunggu waktu sebelum peta pekerja asing di negeri jiran itu berubah secara drastis.

Akmal Nasery Basral, T.H. Salengke (Kuala Lumpur)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Teleskop Antariksa Baru Siap Sisir Jagat Raya - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data