Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIV/28 Maret - 03 April 2005
   
Kolom

Kebangkitan Si Dawai Majemuk

Denny Sakrie
Pengamat musik

Instrumen petik ini memang aneh bentuknya. Ia perpaduan antara gitar dan harpa, maka disebut gitar harpa. Instrumen musik yang dianggap penerus dari instrument lut ini mulai muncul sejak zaman Renaissance, lalu berkembang di Eropa dan Amerika. Tapi entah kenapa gitar harpa malah menjadi forgotten instrument. Di Amerika Serikat, misalnya, gitar harpa hanya sempat eksis pada 1895 hingga dasawarsa 1920.

Tapi pada pertengahan 1980-an, toh ada juga pemusik Amerika yang ingin membangkitkan pesona si dawai majemuk. Dialah John Doan, gitaris, dosen musik sekaligus perancang sejumlah gitar harpa pada 1986. Dan seperti gerakan bawah tanah, secara perlahan banyak pemusik—terutama gitaris—yang menyentuh kembali gitar harpa. Bahkan gitaris jazz sohor Pat Metheny pun telah memainkan gitar harpa dalam album Watercolors (1977) dan New Chautauqua (1979).

Komunitas gitar harpa ini pun menyebar ke seantero jagat. Di Indonesia sendiri, pemusik kontemporer Iwan Hasan bisa disebut satu-satunya pemusik yang menekuni gitar harpa ini. Iwan memainkan instrumen ini dalam dua album Discus, grup rock progresif yang dipimpinnya. Di dunia luar, tercatat tiga pemusik yang berupaya membangkitkan gitar harpa: Stephen Bennett, John Doan, dan Greg Miner. Mereka memproduksi sebuah album bertajuk Beyond Six Strings, yang dirilis akhir tahun lalu. Album yang memilih nuansa new age yang lirih dan sejuk, dan melibatkan 13 pemusik gitar harpa—termasuk ketiganya dan Iwan Hasan dari Indonesia— memainkan komposisinya dalam album ini. Mereka berasal dari genre musik yang berbeda, dari tradisi folk dan country, klasik dan jazz, maupun musik kontemporer hingga rock dan new age.

Dalam album ini, selain memainkan komposisi karya sendiri, kecuali Stay Hobbs yang memainkan Scarborough Fair, mereka lebih memfokuskan diri memainkan genre new age. Rasanya ini merupakan pilihan tepat, mengingat misi mengembalikan perhatian dan minat khalayak terhadap instrumen ini. Komposisi yang dimainkan terasa enteng dan renyah. Bisa dinikmati siapa saja, apalagi yang membutuhkan suasana batin yang tenang. Di balik bunyi-bunyian akustik yang menyejukkan dari gitar harpa ini, memang tak sedikit yang masih penasaran dengan kegunaannya.

Menurut Iwan Hasan, gitar harpa adalah sebuah gitar dengan tambahan open strings harpa yang tidak memiliki fret. Tujuan penambahan ini adalah untuk menambah range dari sebuah gitar standar. Dan jangan lupa, gitar harpa ini pun memiliki resonansi ekstra dan "warna". Bentuk yang paling umum dari gitar harpa sekarang ini adalah semacam "tangan" tambahan yang terdapat pada sisi bas atau nada terendah untuk mendukung 5 hingga 7 sub-bas open strings. Gitar harpa ini dirancang oleh Chris Knutsen pada akhir abad ke-19 dan bisa dinikmati dalam lagu Deserted Island yang ditulis dan dimainkan Greg Miner dalam album Beyond Six Strings ini.

Bandingkan misalnya dengan gitar harpa era 1906-1920, yang diproduksi W.J. Dryer & Bro, dan simak Emmet's Rising yang dimainkan Andy Wahlberg atau Scarborough Fair yang dimainkan Stacy Hobbs. Bentuk gitar harpa versi Dryer ini pun banyak mengalami modifikasi yang disesuaikan dengan permintaan sang pemusik. Komposisi yang dimainkan Andy McKee, Dan La Voie, Bill Dutcher, Larry Berwarld, dan Stephen Bennet dalam album ini adalah dari gitar harpa Dryer yang sudah mengalami perubahan dan disebut Modern Dryer style instruments.

Gitar harpa yang dirancang John Doan yang terdiri atas 20 dawai di antaranya 6 dawai sub-bas dan 8 dawai super-treble yang mampu menghasilkan nada-nada paling bening diwakili pada komposisi In John Fahey There Is Not East or West yang ditulis dan dimainkan John Doan.

Iwan Hasan sendiri juga memainkan varian gitar harpa yang mirip kreasi John Doan tetapi dengan penambahan satu dawai untuk menjangkau nada yang lebih rendah lagi. "Saya meminta tambahan satu dawai lagi pada John Doan untuk mendapatkan wilayah bunyi yang lebih luas lagi," tutur Iwan Hasan, yang memainkan karyanya Heavenly Earth Dance dalam album ini.

Bagi Iwan sendiri, kontribusinya dalam album Beyond Six Strings ini bisa bermakna luas. "Saya ingin menampilkan sisi lain dari penampilan musik saya. Selama ini banyak orang yang menuding karya-karya saya, baik yang rock progresif maupun kontemporer, cenderung complicated dan bikin stres. Tapi dalam album ini toh saya juga mampu membuat komposisi yang bisa menghilangkan stres," ujar Iwan Hasan.

Dan pada saat Anda didera stres berkepanjangan, cobalah simak rentetan melodi yang dimainkan para pemusik gitar harpa. Bening dan hening. Tanpa harus mengernyitkan kening.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data