100 Tahun Empu Damar Kurung Masmundari, pelukis lampion rakyat asal Gresik, usianya memasuki 100 tahun lebih. Dirayakan dengan pameran di Bentara Budaya, Jakarta, 17-26 Maret ini. |
Mobil Panther sewaan untuk ke Jakarta itu telah datang. Tapi Gang VII di Desa Tlogo Pojok, Gresik, Jawa Timur, terlalu sempit untuk sang mobil. Setelah Panther itu parkir di Jalan Raya Gubernur Suryo, dari sebuah rumah berukuran 8 x 15 meter dan bernomor 41 B, keluarlah satu keluarga yang hendak ke Jakarta itu.
Seorang perempuan sangat sepuh duduk di atas kursi roda?kursi roda yang beberapa tahun lalu dibelikan Kartika Affandi. Anak, cucu dan cicit mendorong, sanak lain ikut mengantar, menempuh jarak 200 meter, sampai di ujung gang. Masmundari, pelukis lampion Gresik, bersama putri tunggalnya Rokhayyah, 50 tahun, cucu keduanya Nursamaji, cicitnya Syaiful Bakhtiar, dan kerabatnya Elisa, kini bertolak ke Jakarta.
Dalam KTP-nya, Masmundari tercatat lahir 4 Januari 1904. Dengan kata lain, usianya kini lebih dari 101 tahun. Dan selama itu ia setia mengabdi pada lampion, yang di Gresik disebut damar kurung (pelita yang dikurung). Seni membuat lampion syahdan muncul di Gresik semenjak zaman Sunan Perapen, awal abad ke-17. Kertas dihiasi ilustrasi dongeng rakyat seperti Anglingdarma, lalu dibentuk kubus?tanpa alas dan atap?untuk kerudung lampu minyak. Konon, bila Ramadhan tiba, orang ramai memasangnya.
Betapapun tradisi itu surut, Masmundari, yang telah membuat damar kurung semenjak tahun 1920-an, tak berhenti memproduksi sampai kini. Damar kurung di tangannya tak hanya sebuah hobi, tapi menjadi semacam harga diri seni rakyat yang tak bisa mati. Kini, di Jawa Timur banyak pejabat, termasuk Bupati Gresik Robbach Ma'sum, mengoleksi karya-karyanya.
Selain dibentuk lampion, karya-karya Mbah Buyut Masmundari juga dibingkai menjadi lukisan. Itulah dunia yang berubah. Dulu ia menggunakan bahan dasar kertas minyak, kertas roti, atau kertas bekas tembusan ketikan. Kini ia memakai kertas karton. Masmundari juga tak lagi melukis dengan sumba tapi akrilik atau cat poster. Dahulu, tahun 1980-an, di kampungnya selembar lukisan ia lepas Rp 5.000, atau bila dijual di Jakarta Rp 50.000. Kini, untuk ukuran yang besar bisa sampai Rp 10 juta. "Ini pesanan anaknya Gubernur Jawa Timur Imam Utomo. Harganya Rp 10 juta," kata Nurhayati, cucu pertamanya yang tak ikut ke Jakarta. Ia menunjuk sebuah gulungan lukisan berukuran 2 x 2 meter di sudut lemari rumahnya.
Akhir-akhir ini Masmundari sebetulnya selalu menolak bila diajak berpameran. "Untuk ke Jakarta ini kami harus merayu dulu, kami bilang ada saudara Si Mbah yang mengajak berobat," kata Nursamaji, sang cucu. Memang, semenjak terpeleset dua tahun lalu, ngilu di sendinya sering kumat. Pada Agustus 2003, dia jatuh dan tulang pinggulnya retak. Di rumah sehari-hari ia mengenakan kruk, dan bila ingin keluar, didorong di kursi roda. Juga kini makin hari pendengarannya makin berkurang. Sejak kena rematik sekitar 1995, telinga kirinya sama sekali tak berfungsi. Kini telinga kanannya pun hanya bisa mendengar sayup-sayup.
Bagi sosok yang uzur dan berfisik ringkih, perjalanan Gresik-Jakarta naik Panther tentu amat berat. Ketika Tempo mengontak Nursamaji dalam perjalanan, ia mengabarkan, "Kapan pun Mbah mau berhenti, mobil harus berhenti." Maklum, nenek tua itu tak mau memakai pampers (popok untuk menahan air kencingnya). Yang mengherankan, Masmundari jarang tidur di mobil. Ia selalu antusias melihat-lihat dan bertanya ini-itu. Bahkan ketika macet, dia berseloroh: montor kok mandeg (mobil kok berhenti).
Dari situ terlihat sumber imajinasinya. Apa yang lalu-lalang selalu membetot perhatiannya. Coret-moretnya yang kekanak-kanakan itu sering menampilkan berbagai rupa deretan kendaraan umum: bemo, opelet, ojek, becak. Bahkan helikopter. "Si Mbah tidak berani naik pesawat. Takut coklek (patah), lalu dia membayangkan orang-orang jatuh melayang-layang. Fantasi Si Mbah memang seperti itu," kata Nursamaji.
Hebatnya, perjalanan sehari semalam dari Gresik tidak membuatnya kelelahan. Setelah sampai di Hotel Santika, beristirahat semalaman, paginya, ketika seorang kenalannya menjemput untuk ke Sea World, Ancol, ia langsung bangkit. "Mau dijak nglencer (diajak pelesir) Bu Sony neng Ancor-ancor (maksudnya Ancol). Disorong honda (didorong di kursi roda), rasane ati malu malu kucing," katanya sambil tersipu malu sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Masmundari tak bisa berbahasa Indonesia. Dia selalu berbicara bahasa Jawa Timuran ngoko, terkadang campur kromo. Giginya sudah ompong, sehingga bicaranya tidak begitu jelas. Suaranya cempreng dan celat, bicaranya agak cepat sehingga kita sering kesulitan mengikuti makna pembicaraannya.
Di Sea World itu, Masmundari tampak berseri. Sampai Nursamaji sang cucu heran, mbahnya kok tidak ada capeknya. Di sana Masmundari sempat mencoret gambar ikan duyung putih di selembar kertas kecil. Ikan duyung mungkin sebuah memori tersendiri baginya. Sebab, pertama kalinya ia coba-coba membuat damar kurung pada umur 20 tahun?itu karena ia melihat gambar ikan duyung di poster bioskop.
Dan di Bentara Budaya, Kamis Malam pekan lalu, setelah pamerannya dibuka oleh aktris Rachael Maryam, ia juga tak segan demo mengambar. Di dinding kita melihat lukisan-lukisannya tak berubah, seperti dulu: tanpa perspektif, warna-warna mencolok, dan suka sekali menampilkan pusat keramaian?tempat rakyat jelata berkumpul. Pasar, pelabuhan, lomba 17-an, posyandu, pesta kawin, hari raya Idul Fitri, hari raya kurban, tingkeban. Dari lukisan-lukisannya terpancar sebuah kegembiraan bersahaja dari kalangan kecil.
Ia suka menampilkan suasana kolektif. Ibu-ibu yang gotong-royong sibuk memasak. Pengantin yang ditandu ramai-ramai. Suasana riuh saat orang nanggap wayang atau ludruk. Bayi-bayi yang ditimbang di posyandu. Komidi putar, kereta-keretaan. Para penjual es kelapa muda, tukang bakwan. Ikan-ikan bandeng atau jemuran pakaian yang digantung. Seri gambarnya Nyonya Muluk tetap mengundang senyum. Di usia mudanya, entah benar atau tidak, kisahnya, ia pernah melihat nyonya Belanda naik ke udara dengan balon. Dan ia menggambar seri nyonya gendut bersayap mengenakan longdress terbang.
Hampir semua lukisan Masmundari kini dibuat berdasarkan pesanan. Waktu pengerjaannya 10 hingga 12 hari. "Ruang kerjanya di dapur," cerita Aspuah, 60 tahun, sanaknya yang menunggu di rumah. Masmundari merupakan seniman yang amat moody. Ia sendiri yang menentukan kapan bekerja dan kapan beristirahat.
Kini muncul di Gresik suvenir-suvenir imitasi damar kurung. Suvenir itu tak langsung dilukis tangan, tapi disablon. Dan perbedaan paling mencolok, di empat sisi damar kurung imitasi itu, terdapat dua lukisan serupa. Padahal, ciri khas lukisan Masmundari tak pernah sama di empat sisinya. Tapi Masmundari tak marah saat mengetahui hal itu. Ia tetap menjalankan kehidupan dengan semangat. Perasaan riang, selalu terpikat pada keramaian, tempat masyarakat kecil bisa tergelak-gelak, saling sapa, itu mungkin menyebabkan di usianya lebih dari 100 tahun ini ia masih merasa muda.
Seno Joko Suyono, L. Idayanie (Jakarta), Jojo Raharjo (Surabaya)
|