Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Peristiwa

Peristiwa

Perpanjangan Tenggat bagi Relawan Asing

RELAWAN asing di Nanggroe Aceh Darussalam boleh bernapas lega. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab, sudah memutuskan perpanjangan masa kerja mereka 30 sampai 60 hari. Perpanjangan itu berlaku sejak akhir masa tanggap darurat Aceh pada 26 Maret 2005. Hal itu dilakukan agar, "Relawan asing lebih maksimal dalam bekerja," ujar Alwi dalam siaran persnya, pekan lalu.

Alwi bahkan memberikan sinyal, bisa jadi aktivitas relawan dan lembaga asing di Aceh tidak dibatasi tenggat yang ketat. Langkah itu, ujar Alwi, diperlukan agar masa transisi ke fase konstruksi berlangsung efektif dan transparan. Keputusan Jakarta itu mendapat tanggapan positif. Badan PBB untuk anak-anak (Unicef), misalnya, menyatakan akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. "Kami akan menggunakan waktu seoptimal mungkin," ujar Gianfranco Rotigliano, perwakilan Unicef di Indonesia.

Lapar Mengetam di NTT

KEKERINGAN dan rawan pangan melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Akibat rendahnya curah hujan, ratusan hektare lahan pertanian dan perkebunan gagal panen. Ancaman kelaparan kini membayangi 12 dari 18 kabupaten di provinsi itu. Ke-12 kabupaten itu adalah Rote Ndao, Timor Tengah Utara, Alor, Sikka, Ngada, Flores Timur, Sumba Timur, Sumba Barat, Timor Tengah Selatan, Lembata, Belu, dan Kupang.

Untuk sekadar mengganjal rongga perut, warga kini terpaksa mengkonsumsi makanan seadanya seperti jagung, kacang-kacangan, maupun umbi-umbian yang diawetkan sejak musim panen tahun 2004 lalu. Bahkan warga di Kabupaten Lembata mesti memakan buah dan bunga pohon bakau serta kacang hutan untuk bertahan. Bupati Lembata, Andreas Duli Manuk, mengatakan 80 persen lahan pertanian di wilayahnya kering lantaran tak ada hujan sejak Januari lalu.

Pemerintah memperkirakan kerugian materiil akibat krisis kekeringan ini Rp 191 miliar lebih. Perkiraan tersebut didasarkan pada hasil perhitungan terhadap ratusan hektare lahan pertanian yang puso, puluhan ribu hektare jagung, padi gogo, padi sawah, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan sawah tadah hujan yang gagal panen. Hasil rekapitulasi sementara yang dikeluarkan Biro Bina Sosial Sekretariat Daerah NTT, wilayah kabupaten yang mengalami rawan pangan mencapai 32.920 hektare, gagal tanam 1.136 hektare, dan yang terserang hama 824 hektare.

Untuk mengantisipasi krisis pangan, Panitia Anggaran DPRD Provinsi NTT menyetujui diusulkan kepada pemerintah untuk pengalokasian dana Rp 11 miliar. Dana ini dimasukkan dalam APBD 2005 dan akan segera digunakan.

Merebut Kiai di Langitan

MUKTAMAR Partai Kebangkitan Bangsa masih sebulan lagi digelar. Namun, riaknya sudah terasa hari-hari ini. Adalah pertemuan antara 15 kiai sepuh dan Ketua Umum PKB nonaktif Alwi Shihab serta mantan Sekretaris Jenderal PKB Saifullah Yusuf, awal pekan lalu, yang menghangatkan tubuh partai kaum nahdliyin itu. Para kiai dalam pertemuan di Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, tersebut—menurut Anwar Iskandar, Ketua Dewan Syuro Jawa Timur—meridai Alwi dan Saifullah menempuh jalur hukum atas penonaktifan mereka dari PKB.

Tidak hanya itu, para kiai juga menolak kepemimpinan tunggal yang direncanakan pimpinan pusat PKB dengan hanya memilih Ketua Dewan Syuro dalam muktamar mendatang. Menurut Anwar, kiai yang hadir antara lain KH Abdullah Faqih, KH Mas Subadar, KH Muhaiminan Gunardho, KH Abdurrahman Chudori, dan Warsun. Ketua PKB Choirul Anam pun hadir.

Tak pelak, peristiwa itu membuat dinamika partai mulai menggeliat. Tetapi, seperti biasa, KH Abdurrahman Wahid selaku Ketua Dewan Syuro menanggapinya santai. "Ah, kiai Langitan enggak begitu," ujar Abdurrahman. Gus Dur juga menyatakan utusan Kiai Abdullah Faqih sudah menemuinya. "Kiai Abdullah Faqih tidak tahu-menahu (soal pertemuan di Langitan)," katanya. Meski demikian, Sekjen PKB Muhaimin Iskandar menegaskan PKB siap menghadapi somasi Alwi Shihab dan Saifullah Yusuf. Sebab, kata dia, Alwi dan Saifullah dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap partai.

Alwi sendiri malah belum siap bertarung. "Saya tak punya sikap apa-apa. Saya kira terlalu jauh," katanya.

27 Tewas Akibat Sergapan 'Bono'

TRAGEDI mengenaskan terjadi di perairan Tanjung Pulai, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan, Riau. Ahad pekan lalu, kapal cepat Tuakal Express disergap badai Bono. Akibatnya, 27 orang tewas.

Berdasar pemeriksaan polisi dan keterangan para saksi, Tuakal Express sebelumnya sempat kandas di perairan tersebut sebelum Bono mendera. Badai kemudian datang mengirimkan gelombang besar yang naik hingga ke geladak. Puluhan penumpang panik. Sebagian besar dari mereka tersapu dan gagal menyelamatkan diri.

Petugas SAR masih terus melakukan pencarian dan diperkirakan jumlah korban tewas bakal bertambah. "Sedikitnya masih ada 12 orang yang mengaku masih mencari anggota keluarga mereka yang menjadi penumpang kapal tersebut," ujar Kepala Polres Pelalawan, AKBP Slamet Soeroso, Kamis pekan lalu.

Kapolres menduga, kapal itu total dimuati 80 orang meski kapasitas maksimalnya hanya 50 orang. Polisi telah menetapkan nakhoda L. Samosir, 48 tahun, sebagai tersangka. Dia dituduh melakukan kelalaian yang menyebabkan orang lain celaka. Sesuai dengan Pasal 359 KUHP, L. Samosir diancam hukuman penjara di atas lima tahun. Seorang penjual tiket kapal, Erpriartini, kini diperiksa polisi untuk memastikan jumlah penumpang.

Rumah Jaksa Agung Muda Disatroni Lelaki Bersenjata

DUA pria bersepeda motor menyatroni kediaman Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Sudhono Iswahyudi, Sabtu dini hari pekan lalu. Tak jelas benar maksud mereka. Tapi mereka sempat menembak seorang petugas piket Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Seorang jaksa yang bertugas malam di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan melihat dua lelaki sedang membongkar pintu gerbang rumah Sudhono, tak jauh dari kantornya. "Karena curiga, jaksa itu berteriak, maling, maling!" ujar Kepala Humas Kejaksaan Agung Soehandojo.

Karena terkejut, dua pria itu tancap gas. Sialnya, mereka masuk gang buntu. Gunawan, petugas piket Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, mengejar. Saat berbalik arah, salah satu dari mereka meletupkan pistol ke Gunawan. Dor! Sebutir peluru bersarang di perutnya. Kedua pria itu lolos. Gunawan dilarikan ke rumah sakit Pertamina.

Soehandojo tak tahu motif kedua pria itu. "Belum bisa diprediksi," ujarnya. Sudhono sendiri saat itu sedang tak di rumah. Kasus ini dilaporkan ke kepolisian Taman Puring, Jakarta Selatan.

Flu Burung Kembali Menyerang

LAMA tak terdengar, virus flu burung (avian influenza) kembali menyerang. Menteri Pertanian Anton Aprianto mengakui virus mematikan itu telah mewabah di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Akibatnya, puluhan ribu ekor ayam di kedua provinsi itu mati. "Peternak mengalami kerugian miliaran rupiah," ujar Anton, pekan lalu.

Agar tak meluas, Departemen Pertanian telah mengisolasi unggas dan pakan unggas di kedua daerah endemik itu. Pemerintah juga telah melarang peternak menjual ayam yang terindikasi tertular flu burung. "Pemerintah berusaha agar virus ini tak menyerang manusia," kata Anton. Dia perlu mewanti-wanti karena, di Vietnam, flu burung telah merenggut tujuh nyawa selama 2005 ini.

Departemen Pertanian juga melakukan vaksinasi unggas secara massal. Anton berharap wabah besar flu burung pada 2003 lalu tak terulang. Saat itu sekitar 15 juta ayam di sepuluh provinsi mati akibat virus ganas ini.

Dita Indah Sari Memimpin PRD

BALLROOM Hotel Sahid, Jakarta, hiruk oleh pekik perlawanan, Jumat pekan lalu. Itulah saat Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyelenggarakan acara peluncuran pengurus baru hasil kongres luar biasa di Jawa Tengah, Januari 2005 lalu. Lagu-lagu revolusioner dikumandangkan oleh kelompok paduan suara. Lalu ada yel-yel yang menjunjung rakyat. Juga puisi-puisi yang menggelorakan jiwa.

Ketua Umum PRD yang baru adalah Dita Indah Sari, yang selama ini dikenal sebagai aktivis buruh. Dalam pidatonya, Dita mengatakan PRD mengharapkan pemerintah yang lebih berani dan lebih punya harga diri dalam menghadapi neokolonialisme dan Orde Baru. "Kami menuntut pergantian pemerintah SBY," ujarnya. Pemerintah, kata dia, mesti diganti dengan persatuan para tokoh kritis yang pro-rakyat, bersih, dan konsekuen. Dalam kepengurusan partai, Dita didampingi Lukman Hakim (ketua I), Agus Priyono (sekretaris jenderal).

Acara ini dihadiri juga oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer, anggota DPR RI Alvin Lie, mantan Menteri Ekuin Rizal Ramli, dan mantan aktivis Hariman Siregar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data