Lebih Menantang dalam Kerangkeng Crushbone, olahraga basket dalam kerangkeng, semakin digemari. Orang Filipina dan Malaysia pun terpikat. |
Di sebuah sudut, Yosi, 34 tahun, mati langkah. Personel grup Project Pop ini berusaha mati-matian mempertahankan bola dari rebutan lawan yang berbadan lebih besar. Pergumulan terjadi. Akhirnya ia terjerembap dan terduduk di lantai. Bola pun berpindah tangan. Dengan sigap sang lawan mengoper bola kepada kawan setimnya yang sudah siaga di bawah keranjang basket. Plung, bola pun bersarang. Kedudukan 8-6. Tim Hard Rocker Biang yang diperkuat Yosi tertinggal.
Memiliki berat 65 kilogram dan tinggi 175 sentimeter, ia sebetulnya cukup lincah. Yosi berusaha bangkit sambil membetulkan posisi handuk kecil yang dililitkan menutupi kepalanya. Ia lalu meraih bola dan mencoba kembali membangun serangan bersama dua rekan setimnya. Sebuah operan dari Yosi mengantar seorang kawannya mencetak poin. Pertarungan terus belanjut, makin cepat dan keras. Selang beberapa menit, ia keluar kerangkeng dengan segores senyum di bibir. Menang? "Kalah dua bola. Berat, lawannya gede-gede," jawab pria bernama lengkap Herman Josis Mokalu ini.
Begitulah akhir pertarungan antara tim Hard Rocker Biang dan Satria Mentari. Mereka sedang mengikuti babak penyisihan Starmild Crushbone Basketball National Championship, yang digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Sabtu dua pekan lalu. Dalam kejuaraan ini, Yosi hanya tampil sekali karena timnya langsung tersisih. Toh ia tak kecewa. "Sejak awal saya ikut untuk senang-senang saja," katanya.
Yosi mengaku jadi penggila basket sejak kecil. Pada akhir 1990-an ia sempat mengikuti beberapa kejuaraan 3 on 3 di Bandung. "Kegiatan ini berhenti karena saya sempat trauma setelah melihat kaki kawan saya patah dalam satu kejuaraan," katanya. Kini Yosi sudah rutin berlatih lagi di sela kesibukannya sebagai selebriti. Ia berusaha mengikis rasa trauma itu dengan ikut berlaga di kejuaraan crushbone, yang dinilainya cukup menarik. "Olahraga baru ini cukup menantang," ujarnya.
Itulah crushbone yang kini semakin digemari para penggila basket. Diciptakan oleh Mahaka Sports, sebuah sports organizer di Jakarta, olahraga ini mulai dipertandingkan tahun lalu. Mula-mula hanya digelar kejuaraan di beberapa kota. "Nah, tahun ini kita menggelar kejuaraan nasional dengan babak penyisihan di 15 kota," kata Direktur Mahaka Sports, Hasani Abdulgani.
Ternyata sambutan masyarakat luar biasa. Sebagai contoh, babak penyisihan yang diadakan di Medan, tiga minggu lalu, diikuti oleh 142 tim. Di Jakarta, 84 tim ikut berlaga. Untuk seluruh babak penyisihan di 15 kota, panitia menargetkan tak kurang dari 1.000 peserta. Hadiah yang ditawarkan memang cukup besar, totalnya mencapai Rp 250 juta.
Crushbone lahir dari keinginan Hasani untuk menghadirkan sebuah permainan bola basket yang lebih menantang. Dia berusaha mengadaptasi permainan streetball yang aturannya sangat longgar dan lebih banyak menekankan style. Unsur permainan 3 on 3 yang aturannya lebih ketat dan sudah memasyarakat di Indonesia juga diambil. "Kami mengambil 40 persen dari keduanya dan melakukan modifikasi di sana-sini," kata Hasani.
Agar memiliki kekhasan, Hasani menggunakan pagar kawat setinggi tiga meter untuk mengelilingi lapangan seluas 8x8 meter. Dengan demikian, lapangan permainan pun berbentuk seperti kerangkeng. Kerangkeng adalah simbol batas-batas dari kebebasan. "Lewat crushbone, orang dipersilakan main semaksimal mungkin tapi tidak boleh melewati batas kerangkeng," ujarnya.
Dalam kerangkeng yang sempit, permainan akan berlangsung lebih keras. Untuk mencegah terjadi tawuran, dibuatlah aturan yang ketat. Pemain dilarang menyikut dan bila melakukannya dihitung sebagai fouls alias kesalahan. Melempar bola ke badan lawan juga dihitung sebagai fouls. Pemain yang melakukan tujuh kali fouls akan dikeluarkan. Pemain yang melakukan pemukulan juga bakal diusir dari lapangan.
Crushbone dimainkan selama tujuh menit tanpa istirahat. Dua tim yang bertanding, masing-masing terdiri dari tiga pemain inti dan satu cadangan. Tak ada bola out dan bola boleh dipantulkan ke dinding. Bola rebound bisa langsung ditembakkan ke keranjang dan tak usah di bawa dulu ke luar garis putih (dikenal dengan garis three point pada basket biasa). Uniknya, keranjang untuk memasukkan bola hanya satu. Tingginya sama dengan keranjang basket biasa, yakni 2,90 meter.
Setiap bola masuk keranjang dari dalam area garis putih dihitung satu poin. Begitu pula bola dari lemparan bebas (free throw). Adapun bola yang dilempar dari luar garis dihitung dua poin. Permainan ini juga mengenal istilah star poin, yakni tembakan tiga angka yang bisa dilakukan dari dua titik bintang di luar garis putih di kiri dan kanan tiang keranjang. Ada juga tembakan lima poin yang dilakukan dari titik bintang di pojok kanan kerangkeng. Setelah masuk, bola langsung dimainkan kembali oleh tim yang kemasukan dari luar garis.
Di mata Yosi, permainan crushbone membutuhkan konsentrasi lebih tinggi. "Berbeda dengan 3 on 3, di sini tidak dikenal bola out, sehingga kita bermian nonstop," katanya. Tak seperti basket biasa, dalam permainan ini yang dibutuhkan adalah tenaga dan kelincahan, bukan stamina. Mereka yang berbadan besar dan tinggi akan lebih diuntungkan dalam crushbone.
Hal itu diakui pula oleh Arvien Setiawan, 17 tahun, salah seorang peserta. Siswa kelas 3 SMAK Sang Timur ini memiliki tinggi 168 sentimeter dan berat 50 kilogram. Ia merasakan beratnya bersaing dengan pemain yang berbadan lebih besar. "Kayaknya saya harus membesarkan badan lagi nih," katanya. Arvien tampil bersama rekan-rekannya sesekolah dengan mengusung nama tim Anak-anak Sang Timur. Tim ini terhenti di babak kedua. "Tapi kami enjoy. Tahun depan pasti ikut lagi," kata Arvien.
Mantan pemain Liga Basket Indonesia (IBL), Syahrizal Affandi, juga mengakui permainan crushbone sangat mengandalkan kelebihan fisik. "Tapi sesungguhnya hal itu bisa disiasati dengan kerja sama tim," katanya. Dalam kejuaraan ini, Syahrizal tampil bersama tim Baller3. Tim ini berhasil menjadi juara di babak penyisihan di Jakarta setelah di final mengalahkan tim Borobudur3 dengan 12-9. Baller3 adalah juara bertahan yang memang bermateri bagus. Selain Syahrizal, bekas mantan pemain IBL lainnya, Bayu Radityo, juga ikut memperkuat Baller3.
Dalam babak penyisihan di Medan, gelar juara juga menjadi milik tim yang di perkuat pebasket IBL, yakni tim Badu Cidu. Tim ini beranggotakan dua pemain Angsapura, Willy Intan, dan Donald Marpaung. Tapi Willy dan Donald tak akan lagi bisa tampil di babak berikutnya karena pihak IBL sudah mengeluarkan kebijakan yang melarang para pemainnya terjun di kejuaraan ini. Alasannya? "Kita tidak ingin mematikan kesempatan pebasket lain berkembang. IBL tak mau memonopoli kegiatan basket di Indonesia," kata Direktur IBL, Agus Mauro.
Hasani sendiri tak terlalu hirau dengan kebijakan itu. Dengan atau tanpa pemain IBL, kejuaraan crushbone yang digelar cukup menarik minat peserta. Dia pun melihat munculnya pemain-pemain berbakat dari kejuaraan ini. Hanya, "Kami tak ada program untuk menjaring mereka. Pembinaan adalah tugas Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) atau IBL. Kami sih hanya berfokus menggelar pertandingan," ujarnya.
Rupanya, crushbone menarik perhatian sports organizer di luar negeri. Paling tidak itulah pengakuan Hasani. Sports Network Management dari Filipina berminat mengembangkan olahraga ini di sana. Begitu pula Total Sport yang berkedudukan di Kuala Lumpur, berkeinginan mempertandingkan crushbone di Malaysia dan Singapura. Tapi Hasani mengaku berhati-hati menanggapinya, karena pihaknya masih berusaha mendaftarkan hak ciptanya di tingkat internasional. "Untuk Indonesia, hak ciptanya sudah didaftarkan sejak tahun lalu. Dengan demikian kami bisa menuntut pihak yang menggelar pertandingan tanpa izin, " katanya.
Nurdin
|