Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Nasional

Tersandung di Pulau Berhala

Dalam dua pekan, tiga pembajakan kapal terjadi di Selat Malaka. Masih banyak kasus tak dilaporkan.

MATAHARI mulai redup ketika kapal tanker Tri Samudra membelah perairan Pulau Berhala di perbatasan Riau-Sumatera Utara, Sabtu dua pekan lalu. Mendadak, sebuah kapal nelayan berkecepatan tinggi memintas dan merintangi jalan. Seraya mengurangi kecepatan, kapal itu memberondongkan peluru ke anjungan Tri Samudra. Nakhoda dan ke-13 awak Tri Samudra panik luar biasa: kapal mereka memuat gas etanol, yang mudah meledak.

Tak menunggu lama, awak kapal kecil itu berlompatan ke anjungan Tri Samudra. Sambil menodongkan senjata, mereka berteriak-teriak, menyuruh seluruh anak buah kapal masuk ke dek. Para perompak bahkan memboyong nakhoda, Kapten Fuady Mardjonet (49 tahun), dan kepala kamar mesin, Andi Sulaiman (40 tahun), sebagai sandera. Dua hari kemudian, kapal milik Grup Humpuss ini dibawa ke pos Pangkalan Angkatan Laut Pelabuhan Sei Pakning, Bengkalis, Riau. Awak yang selamat pun masih dikawal sejumlah aparat.

Drama perompakan itu masih menyisakan rasa takut pada para awak. Mereka tak mau bicara kepada wartawan. "Mungkin masih trauma," kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut Dumai, Letkol Laut drg. Nora Lelyana. Betapa tidak, dua rekan mereka hingga kini masih di tangan penculik. Hingga hari keenam pembajakan, aparat belum menemukan dua sandera maupun para perompaknya.

Menurut sumber Tempo di TNI-AL, ada indikasi para perompak itu bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka minta tebusan Rp 2 miliar. "Negosiasi sedang berlangsung untuk membebaskan dua sandera," kata sumber ter sebut. Namun, ketika dikonfirmasi, Nora hanya menjawab, "Kita belum dapat menjelaskan sekarang."

Kapten Pottengal Mukundan, Direktur Biro Maritim Internasional yang bermarkas di London, Inggris, menyatakan aksi pembegalan di Selat Malaka memang kian merajalela. Dalam dua pekan terakhir, pusat pelaporan pembajakan di Kuala Lumpur, Malaysia, menerima tiga laporan peristiwa pembajakan.

Peristiwa pertama terjadi pada 28 Februari. Sebuah kapal membawa batu bara untuk stasiun pengisian bahan bakar Lumut diserang di dekat Pelabuhan Penang. Kelompok lanun itu menculik kapten kapal dan meminta tebusan. Peristiwa kedua yang dilaporkan adalah pembegalan kapal tanker Tri Samudra itu.

Kejadian ketiga menimpa kapal Jepang, Idaten, yang menarik kapal tongkang Kuroshio I di Selat Malaka. Kapal yang bertolak dari Batam, Indonesia, ke Myanmar itu diserang sekitar 70 mil di barat daya Penang, Malaysia. Setelah menghadang dengan tiga kapal nelayan, perompak bersenjata ini menculik seorang warga Filipina dan dua warga Jepang. Polisi Malaysia segera mengirim kapal patroli, dan Idaten pun dikawal menuju Penang.

Gara-gara peristiwa itu, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yutaka Iimura, meminta Indonesia meningkatkan keamanan di Selat Malaka. Mereka bahkan berniat menyumbang kapal patroli. Karena konstitusi Jepang melarang pemberian bantuan militer kepada negara lain, "Mungkin untuk polisi atau instansi sipil lainnya," katanya.

Pengamanan Selat Malaka memang memprihatinkan. Pangkalan TNI-AL Dumai hanya punya dua kapal besar dan beberapa kapal patroli kecil. Sejumlah kapal patroli kecil itu terlihat berlabuh di kawasan TPI arah barat Kota Dumai. Ada pula belasan pos penjagaan yang tak memiliki kapal patroli. Menurut Nora, perairan ini menjadi "favorit" para perompak lantaran banyaknya pulau kecil dan kawasan karang.

Setiap bulan Selat Malaka dilintasi sekitar 400 kapal. Pada saat ini ada 240 tik rawan yang harus dijaga. "Meski dengan peralatan minim, kami akan mengamankannya," kata Nora. Pihak TNI-AL mengakui betapa sulitnya mengamankan semua kapal ikan yang beroperasi di perairan perbatasan ini. Mereka pun menengarai adanya nelayan luar yang nyelonong untuk merompak, kemudian kembali ke perairan negara tetangga. Karena itu, "TNI-AL dan pihak Malaysia berkoordinasi mengamankan jalur perbatasan ini."

Tentang jumlah dan jenis kapal yang akan disumbangkan Jepang, kepastiannya menunggu hasil kajian tim teknis mereka yang akan datang ke Jakarta, Mei mendatang. "April nanti Duta Besar Shirota akan datang ke Jakarta untuk membicarakan soal ini dengan Indonesia," katanya. Shirota adalah utusan khusus Jepang untuk urusan pembajakan dan kontra-terorisme.

Sebenarnya, kata Mukundan, setelah tsunami 26 Desember, terjadi penurunan drastis jumlah pembajakan kapal di kawasan Selat Malaka. Namun kini kejadian demi kejadian bergulir, dan pihaknya berupaya keras memburu dan menyeret mereka ke pengadilan. "Penculikan model begini tidak boleh dibiarkan," katanya.

Data yang disajikan Mukundan berasal dari berbagai kasus yang dilaporkan. Padahal, menurut sumber Tempo di Pangkalan Angkatan Laut Dumai, lebih banyak lagi korban pembajakan yang takut melapor kepada Polisi maupun TNI-AL. "Bukan hanya anak buah kapal, pemilik dan keagenan kapal pun pasti diancam jika melapor," ujarnya. Maklumlah, sasaran bajak laut tak hanya kapal tanker atau kapal internasional. Justru yang paling sering adalah kapal nelayan dan kargo berukuran kecil?kapasitas 150 ton hingga 250 ton.

Tempo pun mencatat beberapa kisah perompakan yang tidak dilaporkan sehingga luput dari pemberitaan. Seorang kapten kapal?yang tak mau disebut namanya maupun nama kapalnya lantaran keluarganya kerap diancam?mengisahkan kejadian 12 Desember 2004. Kala itu gerombolan perompak menyambangi kapalnya yang memuat suku cadang kendaraan dan ban di perairan Pulau Berhala. Empat anak buah kapal dilepas, dan kapten dibawa para bajak laut.

Kapten kapal lalu diperintahkan melaju ke Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal si Kapten, yang kepalanya dibekap karung, dibawa perompak ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Belakangan, setelah negosiasi sepuluh hari, ia dibebaskan setelah pemilik kapal menebusnya dengan duit Rp 200 juta.

Lain lagi pengalaman Wan Arif Abdullah, 61 tahun, kapten kapal di Dumai yang telah melaut sejak 1980-an. Ia telah puluhan kali dibegal. Bahkan, pada 1989, salah seorang awak kapalnya tewas ditembak perompak. Menurut dia, bajak laut Melayu umumnya memakai kapal ikan nelayan biasa seperti kapal pukat harimau, yang banyak bertebaran di perairan Bagansiapiapi, Tanjung Balai Asahan, dan Panipahan, Sumatera Utara.

Para lanun itu juga lihai memainkan sejumlah modus. Misalnya, menyembunyikan senjata di balik jaring untuk kemudian menodongkannya. Ada yang pura-pura kapalnya rusak dan mengibaskan kain untuk minta pertolongan. "Begitu kita dekat dan mereka naik, langsung kita ditodong. Ada pula yang langsung mendekat dan menembaki kita," ujar Wan Arif. Setelah itu, pembajak pun melucuti isi kapal.

Belakangan, motif perompakan bergeser menjadi menyandera awak atau melarikan kapal dan menagih tebusan ke pemiliknya. Para perompak juga kian ke-jam. Mereka mudah saja membunuh jika tidak sepakat soal duit.

Andari Karina Anom, Bambang Harymurti, Jupernalis Samosir (Dumai)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data