Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Nasional

Peluru Siapa di Kilang Batu

Empat TKI ilegal ditembak di Selangor, Malaysia. Mereka bertato, dan satpam menuduhnya pencuri.

MEREKA berjalan terus melewati lereng bukit itu dengan perasaan waswas. Malam semakin larut. Sepuluh orang bergerak melangkah, membelah hutan kecil. Setiap orang memeluk satu gulungan tikar. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka tak mau tidur di bedeng darurat di lereng hutan Damansara, Bukit Lanjang, Selangor, Malaysia. Setiap malam datang, para kuli haram asal Indonesia itu merayap keluar mencari tempat tidur aman di lereng hutan.

Mereka memang merasa terancam oleh patroli polisi Malaysia. Soalnya, tenggat waktu 1 Maret sudah lewat dua pekan. Sesuai dengan peraturan, semua pekerja haram harus punya izin bekerja di negeri jiran itu. Tapi mereka belum juga kembali ke kampung mengurus dokumen resmi. Satu operasi razia, yang disebut Operasi Tegas, sedang giat berlangsung. Bagi yang tertangkap, hukumannya lumayan repot. Selain dikirim ke bui, mereka juga terancam dideportasi. Artinya, mereka tak boleh kembali lagi ke Malaysia.

"Kami harus main kucing-kucingan," ujar Yohanes, 27 tahun. Dia datang dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Juga istrinya, Lusia, 29 tahun. Mereka mengaku sudah lima tahun tinggal di Malaysia. Dan sejak musim razia, sudah enam bulan mereka lari ke Bukit Damansara. Ada ratusan tenaga kerja Indonesia (TKI) gelap di daerah itu. Umumnya berasal dari Flores dan Madura. Yohanes sendiri malas pulang ke kampung. Di Malaysia, kata dia, bekerja sebagai kuli bangunan, upahnya berkisar 900 ringgit sampai 1.500 ringgit per bulan.

Untuk itulah mereka bertahan di negeri jiran. Tapi, Kamis malam dua pekan lalu adalah hari sial bagi kumpulan pekerja itu.

Saat itu, sekitar pukul 11 malam, semua orang bersiap tidur. Yohanes sedang menggelar tikar di tanah datar yang ditumbuhi ilalang. Dia dan kawan-kawannya merebahkan badan di tambang batu itu. Itu rupanya tempat favorit. Petugas jaga kilang itu pun tak pernah melarang mereka rehat malam di sana. Lahan seluas 10 hektare itu bukanlah tak bertuan. Tempat itu milik PT Deltamix (M) Sdn. Bhd.

Kantuk mulai menyerang. Tapi, belum lagi mata mereka terpejam, mendadak suara keras menyentak: "Jangan lari. Kami polisi!" Seperti mendengar suara hantu, semua pekerja haram itu terperanjat. Yang sadar segera angkat kaki. Ada yang berlari ke hutan, atau bersembunyi di sekitar kilang. Sialnya, empat orang rekan Yohanes tak sempat ambil langkah seribu. Mereka terkejut ketika empat lelaki bertubuh tegap itu mengacungkan senjata. Dan, tiba-tiba, dor!

Tiga orang TKI tersungkur ke tanah. Petro Sale, lelaki 37 tahun itu, terkena peluru di paha kiri. Guspar Hasan, 23 tahun, tertembak di pinggang kiri. Sedangkan Markus Taji, 25 tahun, dikoyak peluru pada bahu kanannya.

Yohanes dan istrinya selamat karena melompat ke semak belukar. Keduanya bersembunyi. Menurut dia, suara tembakan sepuluh kali, dari jarak sekitar 15 meter. Letusan pistol itu terdengar sampai ke bedeng lain juga. Saat itu sejumlah TKI ilegal berlarian ke lokasi. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sial bagi seorang TKI lain, Remi Guis. Begitu sampai di lokasi, Remi juga disambut peluru. Setelah itu, baru para penembak menghilang.

Untunglah, tak ada nyawa melayang. Puluhan TKI itu segera menyelamatkan rekannya. Darah berceceran. Seorang saksi mata, Zailani, 42 tahun, mengatakan mendengar letusan senjata berkali-kali. Sayang, dia tak sempat menghitungnya secara persis. Saat itu dia lagi istirahat di sekitar bedeng bersama ratusan TKI lain. Mereka pun berlari menuju lokasi penembakan. Malam masih pekat. "Saya lihat seorang berbaju seragam security (satpam) dan belasan lainnya berbaju preman," ujarnya tentang ciri para penembak itu. Peluru masih berhamburan, kata Zailani, bahkan saat mereka telah tiba di kilang itu.

Sedikitnya, kata Zailani, tujuh orang terkena tembakan. Empat mengalami luka berat dan dilarikan ke rumah sakit, sementara tiga lainnya luka ringan. Bersama rekan-rekannya, Zailani turut sibuk mengantar empat korban ke Hospital Sungai Buloh. Celakanya, rumah sakit di Sungai Buloh menolak menerima para pekerja haram itu. "Mereka minta kami membawa korban ke Hospital Besar Selayang, Selangor," ujarnya. Baru menjelang subuh mereka tiba di Rumah Sakit Selayang. Tak seorang pun diizinkan mendampingi korban sebelum polisi datang.

Dua hari kemudian, keempat korban diperiksa di kantor polisi Petaling Jaya. Anehnya, mereka malah ditahan karena ada sangkaan kriminal. Tentu saja banyak pihak berang. Pengacara dari Migrant Care Malaysia, Alex Ong, marah dengan tuduhan itu. Para korban penembakan itu, kata dia, harusnya dibela dan diselamatkan. "Malah kini diproses dan diperiksa atas tuduhan mencuri," ujar pengacara dari lembaga pembela nasib TKI itu.

Menurut Ong, satpam di Malaysia tak boleh punya senjata, kecuali yang bekerja mengamankan bank. "Itu pun jenis pump gun," tuturnya. Alasan satpam menembak TKI juga tak jelas. Apalagi korban ditembak dari depan. Menurut Ong, kalau benar ditembak saat melarikan diri, tentu yang terkena adalah betis. "Mereka tampaknya sengaja diserbu," ujar Ong lagi.

Ong mengutip keterangan seorang saksi yang minta namanya disebut "Mat". Menurut Mat, ada sepuluh orang yang menyebut dirinya "polisi" datang dengan dua mobil van Bongo dan melepaskan lebih dari 20 tembakan ke arah TKI. "Polisi" ini berteriak, "Kami polis. Jangan lari!" Menurut saksi mata itu, tak ada tembakan peringatan hingga peluru berhamburan mengenai korban. Polisi sendiri membantah terlibat dalam insiden itu. Menurut polisi, peluru itu keluar dari senjata milik satpam yang menjaga kilang batu.

Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur pun turun tangan. Wakil Duta Besar RI, Abdurrahman Muhammad Fachir, mengatakan kasus itu perlu penyidikan serius. Dia menuntut proses hukum yang adil dan hak-hak TKI dalam kasus itu bisa terpenuhi. Sampai saat ini, kata Fachir, kejadian itu tetap dalam dua versi antara polisi Malaysia dan korban. "Kita tak ingin korban justru jadi tertuduh pula," ujarnya, Jumat pekan lalu.

Kedutaan juga mengirim perwira penghubung, Komisaris Besar Polisi Dwi Prayitno, untuk menangani kasus itu. Menurut Dwi, ada dua versi dalam peristiwa itu. Pengakuan korban, mereka masuk ke wilayah kilang untuk tidur. Tapi satpam kilang menuduh para TKI mau mencuri di kilang itu dan berusaha melarikan diri. Karena curiga, mereka memberi tembakan peringatan tiga kali. TKI pun lari. "Itu menjadi alasan satpam menembak," ujar Dwi.

Sebagai kuasa hukum, Kedutaan juga sudah menunjuk pengacara setempat, Cha Kian Ain, dari kantor pengacara Cha & Wong Advocates and Solicitors. Polisi Malaysia tak mau memberi komentar tentang penembakan itu. Deputi Kepala Polisi Petaling Jaya, Abdul Rahman Ibrahim, hanya mengatakan kasus itu lagi diselidiki. "Kami sedang memeriksa pengakuan dari dua pihak," ujarnya seperti dikutip situs Malaysiakini.com, Senin pekan lalu.

Proses rekonstruksi sudah dilakukan Rabu pekan lalu. Tapi Migrant Care kecewa karena acara itu dilakukan tertutup. Apalagi, yang hadir hanya dua dari tiga satpam yang dituduh menembak TKI. Dari reka ulang, satpam mengaku memakai pump gun sewaktu beraksi. Tembakannya pun hanya sekali. Tapi, mengapa banyak korban cedera? "Katanya peluru pump gun itu bisa menyebar," ujar Ong.

Sampai pekan lalu belum jelas mengapa para TKI itu diberondong peluru. Memang betul mereka adalah TKI ilegal tanpa dokumen sah. Tapi, itu bukan alasan untuk menembak dengan senjata. Seperti umumnya ratusan TKI asal Flores, para korban itu tubuhnya juga bertato. Meski begitu, mereka belum tentu penjahat. Tato, kata Anis Dominggus Malo, 40 tahun, menunjukkan wibawa orang Flores. Mereka suka melukis gambar binatang dan nama di badannya. "Kami tidak risi bertato. Kami tak pernah mengganggu rakyat setempat," ujar Anis, sesepuh warga Flores di Damansara.

Nezar Patria, Taufiq H. Salengke (Kuala Lumpur)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data