Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Nasional

Dalam Intaian Tim Rasul

KPK sudah mengantongi nama-nama mantan pejabat yang daftar kekayaannya perlu diperiksa. Tak sedikit yang bertambah kaya miliaran rupiah.

HARI Sabarno saat ini lebih mudah ditemui di lapangan tenis ketimbang di rumahnya yang jembar di kawasan Kota Wisata Cibubur, Bogor. Rumah mantan Menteri Dalam Negeri itu terjaga rapat di Cluster Virginia, bersama kediaman warga lainnya. Jangan harap bisa lolos dari gerbang cluster ini jika tak bisa menjelaskan kepentingan yang masuk akal kepada penjaganya.

Jika alasannya cuma bertamu, penjaga gerbang akan menghubungi pemilik rumah, menanyakan benarkah ada janji menerima tamu. Dalam penjagaan macam itulah, rumah Hari yang berada di Blok L tak mudah dijangkau. Tempo, yang berniat menengok kediaman Hari, Jumat pekan lalu, ditolak secara halus. ”Bapak tidak menerima tamu hari ini,” kata Samsul, penjaga gerbang, setelah menghubungi petugas keamanan di kediaman Hari.

Hari Sabarno mengakui, rumah miliknya seluas 400 meter di atas tanah 800 meter persegi itu nilainya Rp 1 miliar. Dia membelinya ketika masih menjabat Menteri Dalam Negeri di era Presiden Megawati Soekarnoputri. ”Waktu itu saya beli dengan mencicil selama dua tahun,” katanya ketika ditemui di Lapangan Tenis Taman Mini Indonesia Indah, pekan lalu.

Setelah meninggalkan kursi menteri, dia memutuskan tinggal di sana. Untuk mempercantik rumah itu, Hari menyiapkan dana tambahan Rp 700 juta dari hasil ngutang. Ia tak ragu-ragu mengakui harta miliknya itu. Dia juga tak risi menyatakan, usai bertugas sebagai menteri, kekayaannya menjadi Rp 5,7 miliar—dari sebelumnya Rp 1,3 miliar (pada 2001).

Dalam laporan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaanya kini tercatat Rp 6,4 miliar. ”Saya lupa, tak mencantumkan utang yang Rp 700 juta itu,” katanya. Beberapa pos yang membuat dia tambah kaya dalam empat tahun terakhir ini, antara lain, pembelian tanah (totalnya ribuan meter persegi) di kawasan Bogor, beberapa mobil, batu mulia, logam mulia, barang seni dan antik, hingga giro. ”Semua itu sudah saya laporkan ke KPK,” katanya.

Kabar mengenai kekayaan Hari me-mang awalnya dari KPK. Dalam beberapa kesempatan, Wakil Ketua KPK Sjahruddin Rasul membagikan informasi kekayaan Hari dan semua sejawatnya, yakni para mantan penyelanggara kenegaraan, ke publik. Di sana terlihat, sebagian besar mereka yang meninggalkan kursi jabatannya memang tidak lengser dengan tangan hampa.

Rekening tabungan mereka tambah gendut, tanah bertambah luas, tunggangan pun ganti yang lebih baru. Bertambahnya kekayaan para mantan menteri hingga di atas Rp 1,5 miliar itu seperti jamak belaka (lihat tabel). Apakah KPK tidak merasa janggal dengan kenyataan itu?

Sekadar untuk diingat, gaji menteri per bulannya, seperti diakui Hari Sabarno, sekitar Rp 20 juta. Katakanlah selama masa jabatan yang lima tahun itu seluruh gaji ditabung, total di akhir pengabdian baru terkumpul Rp 1,4 miliar. Tetapi, ”Untuk menentukan wajar atau tidaknya, masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut,” kata Rasul kepada Tempo.

Rasul mengakui sudah mengantongi beberapa nama yang segera akan dilacak asal-usul kekayaanya. Tapi dia tak bersedia membocorkan nama-nama itu. Rasul hanya memberikan ancar-ancar, prioritas pemeriksaan lanjutan akan dilakukan terhadap mantan pejabat yang laporan kekayaanya mencantumkan data ekstrem. ”Baik ekstrem besarnya, kecilnya, maupun ekstrem dalam penambahan kekayaannya,” katanya.

Untuk itu KPK dibantu 14 tenaga pemeriksa dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Tenaga pemeriksa dari BPKP itu diseleksi ketat. Tak hanya oleh KPK, perburuan juga akan dilakukan oleh kalangan lembaga swadaya masyarakat. Pada saat ini Indonesia Corruption Watch (ICW) sedang mencermati laporan KPK itu. ”Kalau dilihat jumlah kenaikan kekayaan mereka, ada banyak kejanggalan,” kata Emerson Yunto dari Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan ICW.

Lembaga ini punya cara lain untuk mengendus ketidakberesan itu, yakni memeriksa korelasi berbagai kebijakan kontroversial yang pernah dilakukan seorang menteri dengan perolehan kekayaan mereka. ”Kita harus memulai dengan banyak pertanyaan,” kata Emerson. ”Kenapa kenaikan kekayaan mereka demikian cepat? Kebijakan apa yang diambil menteri pada masa itu?”

Apakah gebrakan itu membikin deg-degan para mantan petinggi? Kwik Kian Gie jelas tenang-tenang saja, karena daftar kekayananya justru berkurang. Kwik menegaskan, dibanding mantan menteri lainnya, dia tidak termasuk yang bisa mendapat kekayaan lebih selama menjabat. ”Karena saya tak mau berkompromi dengan pengusaha yang mencoba melakukan pendekatan,” katanya kepada Tempo.

Tapi bukan berarti mereka yang bertambah kaya menjadi ciut nyalinya. Setidaknya Hari Sabarno masih bisa santai main tenis tiga kali sepekan. Sisa waktunya yang lain pun digunakannya untuk kegiatan sosial—selain tentu saja mengawasi renovasi rumahnya. Tetapi, lebih dari itu, Hari menegaskan, ”Banyaknya fasilitas yang saya terima selama menjabat sudah sesuai dengan ketentuan.”

Inilah perinciannya. Hari menerima gaji bulanan menteri Rp 20 juta. Itu masih ditambah angka yang sama saat merangkap sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan rangkap itu diembannya selama 8 bulan (sebagai Menteri Dalam Negeri dia menjabat selama 38 bulan). Selain gaji, masih ada tunjangan jabatan. Hitunglah sendiri jika besarnya tunjangan sebagai menteri koordinator hampir sama dengan gaji. Di luar itu ada berbagai fasilitas tambahan seperti dana operasional rumah tangga, dana taktis, dan dana operasional di luar gaji.

Masih ada lagi honor tambahan setiap membahas rancangan undang-undang bersama DPR. Bayangkan, di masa jabatannya ada sekitar 15 RUU yang mesti dituntaskan. Selama RUU masih dibahas, honor akan diterimanya setiap bulan. Hari juga masih menerima pensiun sebagai mantan anggota MPR/DPR dan purnawirawan TNI. Semua kekayaan itu ia simpan dalam rekening bank, sehingga masih ada tambahan pemasukan bunga.

Bahwa seluruh pendapatannya itu kemudian bisa mencapai lebih Rp 4 miliar, Hari mengaku berusaha menerapkan gaya hidup efisien. Misalnya, dia cukup membelanjakan kebutuhan makanan hariannya dengan rantangan. ”Dulu rantangan saya Rp 50 ribu per hari, sekarang Rp 20 ribu. Tidak percaya, ya?” katanya sambil mengusap keringat.

Hari lalu kembali ke lapangan untuk meneruskan latihan tenisnya di set kedua.

Tulus Wijanarko, Agriceli, Muchamad Nafi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data