Musik yang Menerobos ke Hati Iwan Fals menyanyikan lagu barunya. Iwan dan Slank tampil sepanggung: para slanker bertemu pencinta Iwan di arena yang sama. |
Sebagian rambut keritingnya masih hitam. Iwan Fals, 43 tahun, menyanyi, menggubah lagu, memetik gitar, mengikuti perkembangan zaman. Ya, dulu Iwan menggubah Galang Rambu Anarki, sebuah lagu yang diciptakan setelah kelahiran putranya, namanya sama dengan judul lagu itu, pada 1982: menjelang pemilu, saat harga BBM melonjak.
Melodinya ringan, ada beberapa repetisi yang disengaja untuk memberikan tekanan khusus pada potongan lirikbahkan katatertentu. Dan pada puncaknya, sebuah refrain yang mendekati proklamasi sikap.
Sekarang, tepatnya Selasa dua pekan lalu, dalam konsernya di Stadion Debes, Tabanan, Bali, ia menyebut ketidaksetujuannya pada kenaikan BBM. Tapi musik tidak menyenggol BBM. Ia membuat sebuah catatan musikal tentang peristiwa lain: tsunami pada penghujung tahun lalu. Ya, Saat Minggu Pagi, lagunya yang terakhir, sama sekali bukan lagu yang manis. Melodinya terasa datar, tapi permainan bas gitar terdengar mencorong, menggiring suasana prihatin. Saat Minggu Pagi adalah musik yang repetitif, meski tidak otomatis menerbitkan rasa bosan. Ribuan ribu jiwa telah pergi, jeritan hati merintih pasti, saat Minggu masih pagi, gempa dan tsunami memanggang negeri..., Tuhannnn.....
Saat Minggu Pagi memang bukan lagu protes. Lagu itu jeritan manusia yang tak berdaya dan memohon ampun.
Rambut putih di kepala Iwan semakin banyak. Dan kita bisa merasa: nada-nada pilihannya tidak lagi lincah, bahkan cenderung monoton. Tapi Iwan di atas panggung adalah Iwan yang telah belasan tahun menawan hati para penggemarterutama kelompok pencinta Iwan yang tergabung dalam Orang Indonesia (OI). Di depan mikrofon, Iwan berteriak bento, di bawahnya, para penonton yang merupakan himpunan dari dua hingga tiga generasi, mengulangi teriakan yang sama. Suara mereka lebih keras, lebih parau.
Lagu-lagu Iwan memang tak sekadar menyentuh, tapi menerobos masuk ke hati penggemarnya. Lagu seperti Manusia Setengah Dewa atau Hio dinyanyikan baik penonton maupun artisnya: "Wahai presiden kami yang baru... turunkan harga secepatnya, berikan kami pekerjaan, tegakkan hukum setegak-tegaknya... menjadi manusia setengah dewa...."
Iwan tidak muda lagi. Tapi ia ternyata tak pernah berhenti bergerak, menyelami berbagai bentuk ekspresi. Ia bermain, bergabung bersama musisi lain: Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, Jockie Suprayogo, dan Totok Tewel. Salah satu hasilnya: album Swami I dan Swami II yang terkenal, tapi juga kena cekal. Ia juga bergabung dengan Setiawan Djody dan Rendra, dalam Kantata Takwa dan Kantata Samsara. Dan terakhir, dalam pertunjukannya di Tabanan, Bali, ia naik pentas bersama Slank, grup ngetop yang punya ribuan orang penggemar fanatik, para slanker.
Konser A Mild Live Bersatu dalam Damai digelar di 27 kota, untuk solidaritas Aceh. Bali kota ketiga belas. Selasa pekan lalu, saat masyarakat Bali melaksanakan Melasti menjelang hari raya Nyepi, Stadion Debes, Tabanan, Bali ramai. Dan Stadion Debes tempat bertemunya dua arus anak muda: para slanker dan penggemar Iwan (OI). Kaka, vokalis Slank, memujinya: "Kedewasaan dan kematangannya merasuki kita. Gaya rock 'n roll-nya menggugah kita." Kita tahu, Iwan Fals memiliki segudang pengalaman dan kini ia sedang bertarung melawan sosok yang gemar mengikis kreativitasnya: waktu.
L.N. Idayanie (Tabanan, Bali)
|