Berharap pada Buah Merah Debat soal pemicu autisme menjalar ke Indonesia. Zat pengawet vaksin bernama Thimerosal, yang diduga menjadi pemicu autisme, mulai dilarang di AS. |
Keajaiban itu datang setelah selama tujuh tahun Nyonya Widodo didera penyakit kanker paru-paru. Wanita 57 tahun ini sekarang tampak lebih sehat. Hasil foto rontgen terakhir menunjukkan tumornya dalam keadaan statis, tak berbiak.
Semua bukan berkat operasi dan kemoterapi yang pernah dijalaninya. Sebab, sehabis dioperasi, kanker sempat menyerang lagi lebih dahsyat, mencapai stadium empat. Kondisi istri seorang dokter yang tinggal di Serang, Banten, itu tiba-tiba membaik setelah ia rajin mengkonsumsi sari buah merah. Setiap hari Nyonya Widodo meminumnya tiga sendok makan. "Tenyata, khasiatnya amat bagus untuk menjaga daya tahan tubuh," ujarnya.
Pengalaman serupa dituturkan oleh Sakdun yang sehari-hari menjadi Kepala Pusat Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Jakarta Selatan. Sejak tujuh tahun lalu, putranya, Nursaid Ramadhan, 10 tahun, mengidap talasemia. Penyakit kelainan darah ini mengharuskan si bocah mendapat transfusi darah secara rutin.
Nah, setelah minum sari buah merah, ternyata kesehatan Nursaid membaik. "Sebagai suplemen hasilnya lumayan. Jika biasanya tiga minggu sekali ia harus transfusi, kini mulai berkurang frekuensinya," kata Sakdun. Darah yang diperlukan pun menyusut. Dulu, Nursaid membutuhkan 6-3 kantong darah sekali transfusi, kini dua kantong saja cukup.
Itulah contoh keampuhan buah merah. Bahkan tidak sedikit orang yang percaya bahwa buah ini bisa menyembuhkan segala macam penyakit termasuk AIDS. Buah merah alias Pandanus conoideus Lam adalah tanaman khas yang tumbuh di Papua dan sebagian Kepulauan Maluku. Pohonnya menyerupai pandan, buahnya mirip cempedak, meski lebih panjang dan berwarna merah terang saat masak. Masyarakat Papua biasa mengkonsumsi buah ini untuk makanan sehari-hari.
Buah merah semakin populer setelah I Made Budi M.S., ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih, meneliti kandungan gizi yang terkandung di dalamnya. Hasilnya, buah ini memang mengandung gizi yang berlimpah dan bermanfaat bagi penderita sejumlah penyakit berat, termasuk pengidap HIV/AIDS.
Menurut Budi, buah merah mengandung sejumlah antioksidan, antara lain karoten, betakaroten, dan tokoferol. Ada zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, seperti asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3, dan Omega 9. Semua zat ini merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.
Ambil contoh betakaroten. Zat ini berfungsi memperlambat penumpukan flek pada arteri, membuat aliran darah ke jantung dan otak menjadi lancar. Bersama protein, betakaroten meningkatkan jumlah sel alami pembasmi penyakit dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit yang menjaga daya tahan tubuh.
Karena khasiatnya diakui banyak orang, semakin banyak pula orang yang memperdagangkannya. Tedi Supardi Muslih, 32 tahun, salah satunya. Dia bahkan telah membuat situs buahmerah.com di internet yang menyebarkan keajaiban buah ini. "Kami sebenarnya hanya ingin menyebarkan informasi dan bukan sekadar berjualan. Jadi, kalau tak membeli juga tidak apa-apa," kata Tedi.
Rini de Fretes, seorang pengusaha rotan, kini juga ikut-ikutan berdagang sari buah merah. Dia mengemasnya dalam botol sederhana yang steril. Rini sebenarnya sudah tak mau lagi berjualan buah merah, tapi banyak orang yang terus mencarinya. "Harapan orang memang sangat tinggi pada buah ini. Saya tak mau menghentikan harapan mereka untuk sembuh," ujarnya.
Menurut Frans D. Suyatna PhD, farmakolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, fenomena itu mesti diperhatikan dengan cermat dan bijak. Soalnya, khasiat buah merah untuk menyembuhkan penyakit belum diteliti secara sungguh-sungguh lewat uji klinis. Dia menggambarkan, orang Indonesia suka latah. Kalau ada satu orang bilang sembuh, langsung dibesar-besarkan oleh pedagang buah merah. "Padahal, mungkin banyak orang yang gagal tapi tak tercatat," kata Frans.
Dilihat dari kandungan zatnya, buah merah memang bisa menjaga daya tahan tubuh. Frans menegaskan, apakah buah ini juga mengandung zat lain yang bisa menyembuhkan penyakit, inilah yang perlu diuji klinis. "Jangan-jangan, buah ini memang mengandung zat yang bisa menjadi obat," ujarnya.
Utami Widowati
|