Di Bawah Bayang-bayang Merkuri Darah tali pusar ternyata punya sel induk sekualitas sumsum tulang dan bisa menyembuhkan lebih dari 70 jenis penyakit. Kini ada bank tali pusar. |
Tanganku ada dua, lima-lima jarinya...." Raihan, 7 tahun, yang duduk di pangkuan terapisnya, menyanyikan lagu itu dengan gembira. Wajahnya ceria. Bocah manis berkaus warna oranye itu tampak menikmati acara bersama teman-temannya di Agca (Agil Calep) Center, Bekasi, pusat terapi bagi anak penyandang autis. Mereka bernyanyi dan bertepuk tangan bersama.
Saat berusia 2 tahun 9 bulan, bocah lucu itu divonis mengidap autisme—sekumpulan gangguan perkembangan saraf yang muncul dalam tiga tahun pertama kehidupan manusia. Autisme biasanya ditandai dengan gangguan dan keterlambatan dalam hal kesadaran, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial.
Sang ibu, Nina, 35 tahun, terhenyak ketika dokter menyatakan anaknya mengidap autis ringan. Vonis itu bak palu godam menghantam dadanya. Ia langsung merunut "perjalanan" Raihan sejak masih berupa janin. Ketika mengandung Raihan, ia tinggal di Kyoto, Jepang. Aneka makanan berasal dari ikan, seperti sushi dan sashimi menjadi menu langganannya.
Ketika lahir, Raihan terlihat normal. Waktu terus berjalan. Di usia 1 tahun 6 bulan, suntikan vaksin Mumps (Gondok) masuk ke tubuh bayi lucu tersebut. Setelah itu, tingkah laku aneh mulai muncul. "Ia menunjukkan perilaku rutin yang diulang-ulang," kata Nina. Jika menyusun balok, misalnya, akan dihancurkannya lagi, disusun lagi, dihancurkan lagi. Begitu seterusnya. Bila pergi ke stasiun kereta, ia akan marah kalau tidak melalui rute yang sama. "Kelihatan banget dia impulsif," ujarnya.
Tiga bulan kemudian, Raihan mendapat suntikan vaksin Measles (campak). Saat itu, kata Nina, dokter mengemukakan ada kelainan fungsi motorik dan sensorik pada anaknya. Hasil tes biomedis menunjukkan adanya kadar merkuri yang tergolong tinggi dalam darahnya. "Tapi, saya enggak curiga sama imunisasi," katanya.
Nina berkaca pada pengalaman anak pertamanya, Wida. Bocah yang kini telah berusia 10 tahun itu dulu juga disuntik berbagai vaksinasi, termasuk Mumps Measles Rubella (MMR). Toh, sampai sekarang Wida sehat-sehat saja.
Hal serupa dialami Lili. Anak pertamanya, Mira, divaksin lengkap, dan sampai sekarang sehat. Melihat itu, ia juga memberlakukan hal yang sama pada Cherry, 3 tahun, adik Mira. Tapi, rupanya Cherry harus menjalani nasib berbeda dengan kakaknya. Ia didiagnosis mengidap autis.
Padahal, sampai usia satu tahun, perkembangan Cherry sama seperti anak lainnya. Setelah melewati usia itu, Cherry mulai kelihatan beda. Apa-apa yang ia ajarkan, Cherry tak mengingatnya lagi. "Perkembangannya kok malah mundur," kata Lili. Setelah diperiksa, baru ketahuan Cherry ternyata menderita autis infantil.
Ari adalah kisah lain tentang anak yang menderita autis. Ketika berusia 1 tahun 8 bulan, bocah ini didiagnosis menderita gangguan autis yang membuatnya lambat bicara. Semasa bayi, Indah, ibu Ari rajin memberi aneka imunisasi kepada anaknya. Ari kecil mendapat vaksin BCG (tuberkulosis), DPT (difteri, pertusis, dan tetanus), Hib (radang selaput otak), Hepatitis B, minus MMR.
Ketiga ibu itu sampai sekarang tak bisa menyimpulkan apakah autisme pada anak mereka dipicu oleh imunisasi. "Saya enggak tahu, ada kaitannya atau enggak," kata Indah.
Vaksin untuk anak sudah lama memang diketahui mengandung sejumlah zat kimia. Dalam vaksin DPT dan Hepatitis B, misalnya, terkandung alumunium dan etilen glikol. Adapun dalam vaksin cacar air dan MMR terdapat gelatin dan thimerosal yang mengandung merkuri.
Zat thimerosal merupakan senyawa merkuri organik. Ia dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat yang mengandung 49,6 persen merkuri. Zat ini digunakan sejak 1930 sebagai bahan pengawet dan stabilisator dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Padahal, dalam dosis tinggi, merkuri bisa meracuni saraf manusia. Senyawanya mudah menembus sawar darah otak dan dapat merusak otak.
Jawaban tentang pengaruh vaksin terhadap autisme memang masih meng-ambang. Di Amerika Serikat, soal ini masih menjadi perdebatan. Pada 2002,Peneliti Departemen Mikrobiologi/Imunologi University of Rochester Medical Center, Dr Michael Pichichero, meneliti 40 bayi berusia 2-6 bulan, yang diberi vaksin mengandung thimerosal dibandingkan kelompok yang tak diberi thimerosal. Hasilnya, kadar thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja.
Namun, Food and Drug Administration (FDA), lembaga pengawasan obat dan makanan Amerika, punya pendapat lain. Sejak 1997 mereka berpendapat, bayi yang menerima beberapa vaksin yang mengandung thimerosal mungkin menerima paparan merkuri yang melebihi batas yang direkomendasikan pemerintah.
Ada beberapa lembaga yang menetapkan batas paparan merkuri itu. Antara lain Environmental Protection Agency (EPA) menetapkan batas paparannya 0,1 mg/kg/hari. Sedangkan Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) menetapkan 0,3 mg/kg/hari. Adapun FDA menetapkan 0,4 mg/kg/hari. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas paparan merkuri yang aman adalah 0,47 mg/kg/hari.
Selanjutnya, pada 1999, FDA merekomendasikan untuk mulai menurunkan atau menghilangkan thimerosal dari vaksin. Tapi, untuk pengembangan vaksin baru tanpa thimerosal perlu penelitian dengan biaya sekitar US$ 200-400 juta atau setara dengan Rp 1,8_3,6 triliun. Hal ini jelas memberatkan industri farmasi.
Perjuangan panjang itu membuahkan hasil. Sebagian besar vaksin di Amerika kini sudah bebas thimerosal, terutama dalam dosis tunggal. Pendeknya, penggunaan merkuri sebagai pengawet pada banyak vaksin untuk anak sudah dihilangkan. Tapi, masih ada beberapa vaksin yang mengandung thimerosal, seperti vaksin flu.
Toh, Shelley H. Reynolds, Presiden Unlocking Autism, sebuah organisasi nirlaba di Amerika, tiga pekan lalu menulis surat terbuka kepada Presiden George Bush. Dalam suratnya, Reynolds meminta agar Bush melarang total penggunaan zat thimerosal dalam vaksin untuk anak-anak dan ibu hamil.
Di Indonesia, pengaruh zat thimerosal terhadap autisme juga ramai diperdebatkan berbagai kalangan. Dr Handoyo, pakar autisme, berpendapat, secara epidemologis, pemberian vaksin tak ada pengaruhnya (atau penyebab) pada autisme.
Menurut Handoyo, ada dua faktor pemicu autisme, yaitu faktor bakat dan dari luar tubuh. Faktor eksternal itu bisa dari protein yang tak bisa diterima tubuh, susu sapi, ataupun tepung. Sedangkan thimerosal yang terkandung dalam vaksin tak akan menjadi problem bagi anak-anak yang tidak berbakat autisme. "Bagi yang berbakat autis, (ini) bisa memicu," ujarnya.
Berbeda dengan di Amerika, di Indonesia vaksin yang beredar masih banyak yang mengandung thimerosal. Contohnya vaksin DPT dan Hepatitis B produksi Bio Farma. Namun, kata Maman Hidayat, Direktur Research dan Development Bio Farma, pihaknya menggunakan dosis zat thimerosal jauh di bawah persyaratan WHO. Bio Farma hanya menggunakan 0,01 persen zat thimerosal. Sedangkan menurut peraturan WHO, maksimal kandungan thimerosal 0,2 persen. Itu pun terbatas pada vaksin dengan dosis ganda.
Sebagai produsen vaksin di Indonesia, menurut Maman Hidayat, Bio Farma sedang meneliti agar bisa bebas thimerosal. Karena itu, pihaknya berhati-hati jangan sampai penghilangan zat thimerosal memunculkan keluhan pasien. "Siapa tahu tanpa zat thimerosal itu khasiatnya jadi berkurang," ujarnya.
Bagi vaksin yang sudah beredar, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) bertanggung jawab mengawasi. Sebelum beredar pengawasan yang dilakukan dengan mengevaluasi aspek khasiat keamanan dan mutu. Dari segi keamanan ditetapkan bahwa zat thimerosal yang ada dalam vaksin tidak boleh melebihi standar internasional (WHO) antara 0,005 persen sampai 0,02 persen.
Setelah beredar, pengawasannya dilakukan Komite Post-Market POM di tingkat provinsi dan pusat, bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). "Kalau yang sudah beredar, itu berarti sudah aman," kata Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi, Badan POM, Dr Linda Sitanggang dengan nada yakin.
Kalau POM berani meniru langkah FDA merekomendasikan untuk menurunkan atau menghilangkan thimerosal dari vaksin, itu akan lebih baik lagi dan menenteramkan hati para orang tua.
Lis Yuliawati, Marta Warta S., Maria Ulfah
|