Antara Sibu dan Labuan Lokasi penimbunan kayu hasil pembalakan liar di Malaysia kini sepi. Wartawan Tempo Harry Daya dan T.H. Salengke melaporkan dari Sibu dan Labuan, Serawak. |
Tumpukan kayu bulat berdiameter cukup besar itu membukit di tiga lokasi berbeda di tepian Sungai Rejang, Sibu, Negara Bagian Serawak, Malaysia. Namun, suasana sepi. Tak terdengar hiruk-pikuk kegiatan pengolahan kayu. Di kejauhan, asap kelabu tampak mengepul dari cerobong sebuah pabrik besar.
Sibu adalah kota pelabuhan yang dibelah sungai besar seperti halnya Pontianak, Kalimantan Barat. Kota ini memiliki jalan raya dan jalur kereta api yang bagus melalui Satikel, Bandar Sri Aman, Sarian, dan Bau. Kini Sibu mendapat sorotan. The Environmental Investigation Agency (EIA) dan Telapak, dua lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, menyebut kota ini sebagai salah satu tempat pencucian kayu haram asal Indonesia.
Selasa siang dua pekan lalu, Tempo memasuki Sibu setelah menempuh tujuh jam perjalanan darat dari pos perbatasan Entikong-Tebedu. Setelah menyusuri Sungai Rejang, sampailah di kawasan Pelabuhan. Lagi-lagi, tak terlihat kegiatan bongkar-muat kayu. Demikian pula ponton-ponton pengangkut kayu yang biasa bersandar di dermaga raib tak tentu rimbanya.
Hanya terlihat dua kapal yang bersandar. Kapal itu pun bukan berasal dari Indonesia dan cuma membawa besi dan pipa; sementara gudang-gudang pelabuhan tertutup rapat dan dijaga ketat. "Sudah cukup lama tak ada kapal pengangkut kayu asal Indonesia yang berlabuh di sini," kata seorang petugas keamanan pelabuhan. Selebihnya, ia mengunci mulut.
Di Sibu pula tinggal sejumlah cukong kayu Malaysia yang kini menjadi buron polisi Indonesia. Ling Chok Ee, pemilik Kapal Motor Gunung Damai yang mengoperasikan lima ponton kayu di Papua, kabarnya menetap di sana. Begitu pula Tiong Hiew King, bos kelompok Rimbunan Hijau yang dituduh Menteri Kehutanan M.S. Kaban terlibat pembalakan liar hutan Indonesia.
Dalam situs Bernama, Tiong Hiew King, yang memiliki 30 perusahaan kayu lapis dan menyandang gelar bangsawan Tan Sri, membantah tuduhan itu. Menurut dia, tak ada perusahaannya yang beroperasi maupun berencana beroperasi di Indonesia dalam waktu dekat. "Pernyataan itu fitnah," katanya seperti dikutip Bernama.
Dari kawasan pelabuhan, Tempo meluncur ke Jalan Cherry, sebuah kawasan rumah mewah di Sibu tempat kediaman para cukong kayu. Di kota ini mereka biasanya juga menjadi kontraktor, membangun gedung bertingkat, dan mal. Di sini Tempo mewawancarai seorang juragan kayu (lihat Apeng Ngu: Saya Tidak Takut Ditangkap).
Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Labuan. Pulau ini terletak di Tanjung Nasong, Victoria. Wilayah dekat Weston yang berbatasan dengan Teluk Brunei. Labuan adalah pelabuhan strategis yang menghadap langsung ke Laut Cina Selatan.
Seperti halnya Sibu, Labuan juga disebut EIA dan Telapak sebagai lokasi pencucian kayu haram asal Indonesia—antara lain ramin dari Kalimantan dan merbau dari Papua. Penerbangan dari Sibu ke Labuan memakan waktu 1 jam dengan transit sejenak di Miri, salah satu kota di Serawak.
Labuan yang dijuluki International Garden Island of Borneo merupakan pintu masuk utama perdagangan di Borneo dan salah satu pusat pariwisata Malaysia. Menurut Direktur Eksekutif Pembangunan Labuan, Encik Ahmad Khir, luas pelabuhan bongkar muat barang di pulau itu mencapai 12 hektare. "Pelabuhan ini didesain untuk kegiatan ekspor-impor," katanya.
Sebagai kawasan bebas cukai atau free duty tax zone, Labuan selalu ramai. "Berbagai barang keluar masuk melalui Labuan, baik itu secara legal maupun ilegal," ujar Ahmad Khir. Jenis barang yang sering keluar masuk adalah kayu, besi, kendaraan, bahan makanan, alat industri, dan bahan bangunan.
Di pelabuhan, seorang petugas menuturkan, kapal-kapal berbendera Merah Putih sering merapat ke dermaga pelabuhan yang beroperasi 24 jam itu. Kapal-kapal itu biasanya membawa kayu, baik berbentuk gelondongan maupun papan. "Bila kayu-kayu itu datang, pelabuhan menjadi kalang-kabut. Banyak petugas maritim yang masuk ke pelabuhan. Kami tidak kenal mereka secara pribadi," ujar petugas yang tak mau menyebutkan namanya itu.
Seorang karyawan lain mengaku sering melihat kapal-kapal membawa kayu gelondongan masuk melalui pelabuhan Labuan. Kayu itu kemudian dibawa dengan truk besar. "Karena di sini tak ada pabrik kayu, mungkin saja kayu-kayu itu dibawa kembali ke negara lain. Labuan hanya sebagai tempat transit saja," katanya menambahkan.
Arif, Direktur Penolong Kastam (Wakil Kepala Bea Cukai) Pelabuhan Pulau Labuan, meluruskan cerita itu. Ia mengakui memang banyak kapal dari Indonesia membawa kayu asal Papua. Hanya saja kapal itu tak menurunkan muatannya di Pelabuhan Labuan. "Mereka membongkar muatan ke kapal lain di tengah laut," ujarnya. Kapal asing yang bertolak dari Labuan itu kemudian langsung mengarah ke negara tujuan.
Arif berkilah, karena proses pertukaran muatan tak dilakukan di pelabuhan, maka pihaknya tak bisa menangkap atau menyita kayu-kayu itu. "Lagi pun, semua kapal yang membawa kayu dari Papua mengantongi surat izin dari pemerintah setempat," ujarnya dengan logat melayu yang kental. Dengan demikian, Arif ingin mengatakan bahwa pihaknya tak terlibat perkara pencucian kayu haram.
Tempo sendiri tak melihat adanya kayu gelondongan maupun olahan di Labuan. Di pelabuhan cuma ada sekitar tujuh kapal yang bersandar di dermaga. Kapal-kapal itu memuat besi dan peti kemas, tak ada yang mengangkut kayu. Ditunggu sampai malam pun tak ada kesibukan terkait kayu yang menyolok mata.
Keesokan harinya, Tempo menyusuri pelabuhan lain. Namanya Asian Sipply Sdn. Bhd, sebuah pelabuhan milik swasta di kawasan Jalan Raca-Ranca. Ada informasi, di tempat ini sering berlabuh kapa-kapal besar yang membongkar-muat kayu. Namun penjagaan di sana sungguh ketat. Tak kurang delapan petugas keamanan mengawal gerbang masuk pelabuhan.
Dengan alasan hendak mengunjungi seorang saudara yang bekerja di kapal, Tempo akhirnya diizinkan masuk kawasan pelabuhan dikawal seorang petugas. Sesampai di dalam, suasana terasa lengang. Tak terlihat kayu sebatang pun. Hanya ada satu kapal besi yang bersandar di dermaga dan tak menunjukkan kegiatan berarti.
Petugas keamanan menerangkan, di tempat ini sudah lama tak ada kapal pengangkut kayu. Sekarang kapal-kapal hanya mengangkut pipa besi, mobil, dan lain-lain. "Mungkin bongkar-muat kayu sekarang di tengah laut," ujar petugas itu sambil menanyakan nama kapal yang kami cari.
Setelah keluar dari kawasan pelabuhan swasta itu, mendadak masuk informasi lain: dua kilometer dari Pulau Labuan ada sebuah pulau kecil bernama Pulau Papan. Di balik pulau itulah—di tengah laut—kabarnya sering terjadi bongkar muat kayu dari ponton-ponton asal Kalimantan dan Papua.
Tempo segera memutuskan berangkat ke sana. Beruntung di tengah jalan kami berjumpa dengan Ibrahim (bukan nama sebenarnya), 38 tahun. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, itu sudah menjadi warga negara Malaysia dan telah menetap selama 15 tahun di Labuan.
Ibrahim bercerita sudah lama bekerja membongkar-muat kayu di perairan Pulau Papan. Menurut dia, hampir semua kapal dari Indonesia yang membawa kayu gelondongan itu tak bernama. Para awak kapalnya berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi hanya omong seperlunya. Adapun kapal para pembeli kayu datang dari berbagai negara—terlihat dari bahasa dan penampilan fisik para awaknya. "Kadang orang kulit putih, India, Jepang, atau Cina," ujarnya.
Bila kayu datang, Ibrahim mengaku dihubungi bosnya via telepon seluler. Biasanya mereka bekerja dalam kelompok, sekitar delapan orang per kelompok. Untuk pekerjaan bongkar muat selama tiga atau empat hari, Ibrahim mengaku dibayar 300-400 ringgit Malaysia ( sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta) per orang.
Kadang-kadang para pekerja diharuskan lembur agar pekerjaan cepat selesai. "Bos takut sekali kalau muncul informasi ada pengawas Indonesia mau datang kemari, apalagi jika sedang bongkar muat," kata Ibrahim. Petugas Malaysia, menurut dia, tak pernah datang mengawasi.
Menggunakan perahu bermotor dengan sewa 40 ringgit (setara Rp 200 ribu), Tempo bersama Ibrahim akhirnya menjelajahi perairan sekitar Pulau Papan. Namun, di sana, lagi-lagi tak terlihat kegiatan bongkar-muat kayu. "Saya dengar sekarang kayu-kayu langsung dibawa ke perairan Vietnam karena Kastam Malaysia takut ada pemeriksaan dari Indonesia," ujar Ibrahim.
Menjelang sore, kami kembali ke darat. Ibrahim meminta nomor telepon Tempo. Pemuda yang ringan tangan itu berjanji lain kali akan menghubungi bila ada kapal pengangkut kayu masuk ke perairan Pulau Labuan. Tapi, ia juga punya permintaan: "Tolong jangan sebut nama. Saya takut dicari samseng (preman) atau polisi kalau membongkar kasus ini."
|