Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Investigasi

Saya Tak Berkompeten Membubarkan Tim Terpadu

Ketika sedang giat mengusut prosedur impor minyak tanpa timbel (unleaded gasoline) Pertamina, Tim Terpadu Bahan Bakar Minyak dibubarkan Presiden pada Mei 2004. Kesimpulan awal Tim Terpadu menyebut ada potensi kerugian negara (Pertamina) senilai Rp 312 miliar dari prosedur impor tersebut. Temuan itu berdasarkan hasil pengecekan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar, SPBU. Premium yang mereka beli dari Pertamina ternyata dijual sebagai pertamax. Sebagian pengusaha nakal itu mengetahui benar bahwa premium yang mereka dapatkan berangka oktan 91, sama dengan angka oktan pertamax yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas pada Juni 2001.

Untuk menyulapnya menjadi pertamax, pengusaha nakal itu hanya perlu mengubah warnanya. Dari mana mereka tahu adanya premium istimewa tersebut? Soal lain, pembubaran Tim Terpadu terjadi ketika mereka tengah giat mengusut prosedur impor yang mencurigakan. Dugaan pun muncul: ada pejabat Pertamina yang gerah karena investigasi tersebut. Bahkan, Ketua Tim Terpadu menyebut mantan Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Hari Purnomo sebagai orang yang mengusulkan ide pembubaran itu. Benarkah demikian?

Tim investigasi Tempo mewawancarai Hari Purnomo dan Deputi Direktur Niaga dan Pemasaran, Rahmat Drajat, dalam kesempatan berbeda pada awal Maret lalu. Berikut ini petikannya.

Dari investigasi selama Februari-November 2003 Tim Terpadu menemukan potensi kerugian Rp 312 miliar dari proses impor minyak tanpa timbel. Apa komentar Anda?

Hari Purnomo: Saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai soal itu. Saya (diangkat) menjadi Direktur Hilir (Niaga dan Pemasaran) Pertamina pada Oktober 2003 sampai Agustus 2004. Artinya, saya baru satu bulan menjabat.


Rahmat Drajat: Jangan tanya ke saya, dong. Tanya ke mereka.


Tim Terpadu menemukan ada oknum Pertamina yang diduga terlibat kerja sama dengan pengusaha SPBU untuk menjual premium beroktan tinggi sebagai pertamax. Apa jawaban Anda tentang hal ini?

HP: Tuduhan itu perlu dibuktikan. Jangan hanya menuding atau menuduh.


RD: Kalau mereka mencurigai, ya buktikan.


Sejumlah pejabat Pertamina pernah diperiksa Tim Terpadu berkaitan dengan impor bahan bakar minyak. Apa saja yang mereka tanyakan?

HP: Kalau soal pemeriksaan itu, saya tidak tahu.


RD: Saya memang pernah diperiksa Tim, tapi sudah saya jelaskan semuanya.


Pernahkah Anda mengusulkan pembubaran Tim Terpadu kepada Direktur Utama Pertamina serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral karena Tim itu akan memeriksa Anda?

HP: Saya tidak berkompeten membubarkan Tim itu. Itu kan ada keputusan presidennya.


Mengapa minyak impor tanpa timbel beroktan 90 dijual Pertamina sebagai premium?

HP: Wah..., saya enggak tahu itu.


RD: Di pasaran luar negeri, yang tersedia hanya minyak tanpa timbel dengan angka oktan 90 ke atas. Kami bisa saja meminta mereka menyediakan (minyak) dengan oktan 88 dengan cara mengolah lagi atau memberikan treatment khusus bahan dengan oktan 90. Tetapi cara itu membutuhkan biaya tambahan yang lumayan. Saya mengerti karena ini pernah dipermasalahkan oleh Tim Terpadu. Menurut saya, itu tidak ada apa-apanya, kalaupun ada (penyelewengan) itu dilakukan oleh SPBU.


Bukankah minyak impor tanpa timbel bisa dijual sebagai pertamax hanya dengan menambah zat pewarna dan aditif?

HP: Saya kira tidak begitu. Untuk pertamax, Pertamina tidak pernah impor karena ada produksi dari kilang Balongan. Untuk minyak impor tanpa timbel beroktan 90 dan kita jual sebagai premium itu bisa-bisa saja. Tetapi selama ini Pertamina menjual pertamax sebagai pertamax.


RD: Tidak bisa membeli premium beroktan 90 kemudian dijadikan pertamax karena beda spesifikasinya. Tidak bisa sekadar diberi warna dan aditif, karena harus memenuhi standar World Wide Fuel Charter. Jadi, harus melalui proses lagi di kilang.


Dari mana pengusaha pompa bensin tahu bahwa premium yang mereka beli dari Depo Plumpang bisa dijual sebagai pertamax jika tidak bekerja sama dengan oknum Pertamina?

HP: Wah, saya tidak tahu. Pertamina menjual pertamax sebagai pertamax. Selain itu, di Depo Plumpang bukan tempat mencampur, tapi hanya tempat penyimpanan.


RD: Begini. Depo Plumpang itu 80-90 persen menerima produk dari kami (kilang). Sisanya dari impor. Minyak yang tersedia di Plumpang itu adalah sebagian besar dari Balongan, berangka oktan 88. Kemudian sebagian tercampur minyak hasil impor. Kalau minyak beroktan 88 dan 90 dibagi dua, keluarlah (minyak) beroktan 89. Jadi tidak ada minyak murni karena sudah dicampur dan terjadi penurunan (kualitas) oktan, dari 90 menjadi 89. Tapi, kalau ada orang yang sengaja mengubah premium ini jadi pertamax, berarti dilakukan oleh pengusaha-pengusaha SPBU.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data