Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Investigasi

Sepi di Laut, Bergairah di Darat

Penyelundupan minyak ilegal di jalur laut tengah meredup. Namun, di darat, kegiatan itu masih terus berdetak. Reportase Tempo dari Pantai Cikuba, Bojonegoro, dan beberapa wilayah di Tanah Air.

KAPAL tongkang itu tertambat di tepi Pantai Cikuba. Dinding lambungnya lusuh oleh karat berlapis lumut. Seutas tali menahan badannya ke batu karang di tepi pantai. Bekas-bekas ceceran oli dan minyak belum pupus dari geladak maupun palka tongkang berlabel Bidadari I itu. Tongkang dengan daya muat 1.500 ton ini sudah tak berfungsi lagi. ”Sejak pertengahan tahun lalu,” kata Gunawanto, nelayan setempat, kepada Tempo.

Bidadari I hanya satu contoh tongkang minyak yang kandas di pantai itu. Selama bertahun-tahun wilayah Pantai Cikuba, yang terletak di Kabupaten Bojonegoro di Provinsi Banten, lama dikenal sebagai terminal favorit tongkang pengangkut bahan bakar minyak (BBM). Truk-truk tangki yang merapat ke tongkang meriuhkan tepian Cikuba setiap malam. Mereka mengangkut premium dari tempat penimbunan di darat, lalu menuangkannya ke tongkang. Dari tongkang, cairan berharga ini dialirkan lagi ke kapal tanker asing.

Menurut Gunawanto, sebagian kapal tanker yang sudah penuh minyak itu lantas melintasi laut lepas menuju mancanegara. Transfer ilegal semacam itu pernah disaksikan langsung oleh Tempo dalam suatu investigasi pada empat tahun silam (lihat Tempo 2 Juli 2002). Di noktah perairan Bojonegoro ketika itu, kapal tanker ”Nansa Singapore” tengah menguras BBM dari tongkang untuk diselundupkan ke luar negeri. Wartawan mingguan ini mengikuti aksi tersebut—pada jarak sekitar 500 meter—dari sebuah kapal nelayan yang mereka sewa.

Aksi kejar-kejaran segera terjadi setelah awak Nansa melihat kedua wartawan menjeprat-jepret aktivitas kapal mereka dari jarak 500 meter. Kedua wartawan berhasil meloloskan diri setelah dibantu nelayan setempat, yang kita sebut saja Badu. Di kala itu, tanker asing penyelundup BBM nongol setiap pekan. Rata-rata berbendera Singapura, Panama, dan Filipina. Umumnya mereka bertugas mengirim bahan baku berbagai pabrik kimia di wilayah Merak. Tapi, daripada pulang dengan kapal kosong, mereka mencari order sampingan membawa BBM ilegal. ”Dulu marak karena perbedaan harga yang mencolok antara minyak di dalam negeri dan luar negeri,” kata Badu.

Tiga pekan lalu, Tempo kembali menelusuri jejak tanker dari perairan Merak hingga Bojonegoro. Lalu-lintas jauh kapal tanker jauh lebih sepi. Di perairan Cikuba hanya ada perahu-perahu nelayan yang tengah melintas. ”Kalau ada tanker, sudah terlihat dari sini,” ujar Gunawanto. Siang itu ia menemani Tempo meneropong titik lokasi tempat tanker asing biasa membuang sauh. Letaknya sekitar dua kilometer dari pesisir Cikuba. ”Walau lalu-lintas tanker sepi akhir-akhir ini, bukan berarti kegiatan penyelundupan sudah bersih,” Badu menjelaskan.

Dalam hal praktek pengurasan, cara dulu dan sekarang tetap sama: selama dua hari tanker itu menyedot minyak dari tongkang. Bagaimana BBM itu mereka datangkan? Agen di Indonesia yang menghubungkan tanker itu dengan jaringan penimbun premium, minyak tanah, maupun solar. Jaringan ini menimbun cairan berharga itu, yang mereka kuras dari truk-truk tangki Pertamina saat kendaraan itu tengah mengirim BBM ke stasiun pengisian bahan bakar umum, SPBU. Sebelum tiba ke SPBU, tangki ”nakal” itu mampir ”kencing” (baca: menguras sebagian) ke para penimbun berkali-kali. ”Sekitar lima drum (satu ton) dalam satu rit pengiriman,” Badu menjelaskan.

Badu, nelayan yang dulu menyelamatkan wartawan Tempo dari kejaran mafia minyak itu, sudah beberapa waktu ikut menjadi pemain kecil-kecilan. Dan dia menjelaskan, geliat penyelundupan di laut sejak pertengahan tahun lalu mulai surut. Kini, tanker-tanker itu hanya beraksi tiap sekitar enam bulan. Ini kurang-lebih cocok dengan catatan Tempo: Agustus 2004 adalah penangkapan terakhir pada aksi sedot minyak di kawasan ini. Ketika itu, Kepolisian Resor Cilegon menggagalkan penyelundupan 32 ribu liter premium oleh kapal MV Global Victory dari Panama. Kepala Seksi Penjagaan dan Penyelamatan Administratur Pelabuhan Banten, yang memberi izin kapal mengisi BBM, menjadi tersangka.

Surut di laut, bisnis gelap minyak oplosan terus berdetak di daratan Jawa. Bahkan geliat penimbunan dan pengoplosan masih aktif dari Pulau Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka tak menjual ke kapal tanker asing lagi, tapi kepada nelayan atau SPBU lokal dengan harga murah (lihat infografik, Tak Putus Dirundung Minyak).

Saat melacak jejak penimbun di jalur Merak-Bojonegoro tiga pekan lalu, Tempo mendatangi dua lokasi yang, menurut Badu, masih aktif: di Jalan Raya Bojonegoro, satu kilometer dari Tol Cilegon Timur, dan satu lagi di Jalan Pulo Rida, barat Pelabuhan Merak. ”Dua tempat ini masih aktif dan tergolong besar,” kata Badu. Bekas nelayan yang kini ”terjun menjadi pemain” itu menemani Tempo mengintai kedua lokasi itu dari dalam mobil.

Lokasi di Jalan Raya Bojonegoro berkedok rumah toko penjualan oli dan tambal ban. Bagian depan bangunan bercat putih dua lantai. Tetapi di belakangnya, Badu memastikan, ada halaman luas untuk menyimpan BBM dalam drum dan bunker dari beton semen berkapasitas 200 ton. Halaman belakang ini ditutupi rapat dengan tembok setinggi dua meter lebih. Tak akan ada yang mengira ini tempat ”kencing”.

Seorang pemain BBM lain, kenalan Badu, turut memastikan bahwa ruko penimbunan BBM itu lancar-lancar saja karena milik seorang perwira kesatuan khusus TNI Angkatan Darat. Dari pantauan Tempo, lokasi ”perkencingan” itu memang mendukung: hanya terpisah satu ruko dengan pangkalan tangki BBM milik Pertamina. Kedua tempat itu hanya dibatasi dinding tembok ruko bagian belakang. Menurut Badu dan rekannya, truk tangki bersembunyi sambil menjulurkan slang ke drum-drum atau bunker di halaman belakang sang perwira TNI. Kerap kali truk tangki itu berdalih menambal ban. Lokasi penimbunan lain di Jalan Pulo Rida, sebelah barat Pelabuhan Merak, berupa lahan terbuka dikelilingi dinding seng setinggi 2 meter. Tempat ini agak lebih terang-terangan. Dari luar, tampak tumpukan drum bekas dan sisa-sisa ceceran minyak. Sumber yang menemani Tempo memantau kegiatan di sana membisikkan bunker penimbunan minyak ini berkapasitas 500 ton, milik seorang pemain lama.

Alhasil, urusan minyak ilegal rupanya tak pernah mati. Sepi di laut, bergairah di darat.



Tak Putus Dirundung Minyak

  • Serang, Banten
    Kepolisian Resor Serang menggerebek pangkalan minyak ilegal di Desa Pejeten, Kecamatan Kramatwatu, Serang, Banten, pada Agustus 2004. Ada barang bukti satu unit truk tangki Pertamina (isi 16 ribu liter premium). Polisi menahan dua tersangka yang sedang bertransaksi. Penggerebekan dilakukan setelah sejumlah pemilik SPBU di Serang mengeluhkan oknum sopir Pertamina yang menjual BBM ke pelbagai pangkalan ilegal.

  • Palembang, Sumatera Selatan
    Polisi menyita 158 drum dan minyak tanah tanpa surat-surat niaga dari kapal KM Bunga Permata. Muatan ini milik H Damsik, warga Sungai Semut Parit, Sungsang, Banyuasin. Di tempat sama, polisi juga menyita 33 drum solar dari kapal MV Mega Indah saat berlayar menuju Bangka. Kapal ini milik Raswadi, warga Sungsang. Kasus ini ditangani aparat Direktorat Polisi Air dan Udara Kepolisian Daerah Sumatera Selatan.

  • Pandeglang, Banten
    Pekan lalu Kepolisian Resor Pandeglang menyita 102 drum BBM. Diduga ini hasil penimbunan di Kampung Lebak, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, dan Desa Sidakmukti, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Kepada Tempo, Kepala Polres Pandeglang, Ajun Komisaris Besar Polisi Tanto Isyandi, menyebutkan 50 drum sitaan itu berisi solar dan 62 drum lainnya berisi minyak tanah.

  • Karawang, Jawa Barat
    Di Desa Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ditemukan penimbunan minyak mentah di lokasi berpagar bambu lapuk. Bekas tumpahan minyak mentah bercampur residu dan air berlumpur masih jelas terlihat. Upe—nama disamarkan—mantan karyawan di situ, menyebutkan usaha pengoplosan minyak mentah itu milik Untung, seorang pria asal Palembang. Untung hengkang pada November lalu dengan alasan rugi.

  • Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
    Awal Februari lalu, Kepolisian Resor Flores Timur menangkap KM Wisma Wati I asal Maumere, Kabupaten Sikka, yang tengah melintasi perairan Tanjung Bunga, Flores Timur. Kapal itu mengangkut 40 ton premium, solar, dan minyak tanah.

  • Timor Barat, Nusa Tenggara Timur
    Aparat Komando Distrik Militer 1605 Belu menggagalkan penyelundupan 2,4 ton minyak dari Timor Barat ke Timor Leste, awal bulan lalu. Berpangkal di Desa Kenebebi, Kakulukmesak, minyak tanah dikemas dalam jeriken, lalu ditimbun di sebuah lokasi di desa itu sambil menantikan ”penjemputan”.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

     

    Berita lainnya

    Kanada Kirim Bantuan Tambahan ke Georgia - 28 Ags 2008 | 10:16 WIB
    Ragam Keindahan dalam Jakarta Fashion Week 2008 - 28 Ags 2008 | 10:16 WIB
    Pasukan AS Serahkan Kontrol Anbar ke Irak - 28 Ags 2008 | 10:00 WIB
    Chelsea Unggulan Pertama Liga Champion - 28 Ags 2008 | 09:43 WIB
    Menyerah, Dua Pembajak Pesawat Sudan - 28 Ags 2008 | 09:37 WIB
    Pengrajin Minta Amrozi Cs Segera Dieksekusi - 28 Ags 2008 | 09:30 WIB
    Lebih Sehat Saat Ramadan - 28 Ags 2008 | 09:27 WIB
    Petenis-petenis Unggulan Belum Terbendung - 28 Ags 2008 | 09:20 WIB
    KPU Bentuk Tim Supervisi Pengadaan Barang dan Jasa - 28 Ags 2008 | 09:08 WIB
    Harga Minyak Naik di Atas US$ 118 - 28 Ags 2008 | 09:04 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data