Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Investigasi

Untung Besar di Jalur Impor

Sejumlah pompa bensin menjual premium impor sebagai pertamax dengan harga pertamax. Pertamina dan pengusaha pompa bensin terlibat?

AWALNYA adalah sebuah laporan. Bunyi laporan yang diterima Tim Terpadu BBM pada Februari 2003 itu: sejumlah pompa bensin di Jakarta menjual ”pertamax palsu”. Yang dimaksud ”palsu” bukanlah pertamax dicampur solar, umpamanya. ”Pertamax palsu” di sini sesungguhnya adalah premium. Dengan kata lain, pompa bensin bertindak curang dengan menjual ”pertamax” yang sesungguhnya adalah premium.

Tentu saja konsumen dirugikan. Pertamax berharga Rp 2.300 seliter, sedangkan premium hanya Rp 1.800, sebelum kenaikan harga BBM terakhir ini. ”Premium berkelas pertamax” dan selisih harga itu mengundang tangan-tangan ”jahil” untuk bersekongkol mencari keuntungan tak halal. ”Perbedaan harga itu memberi peluang pengusaha nakal dan oknum Pertamina untuk bermain,” kata Slamet Singgih, mantan Ketua Tim Terpadu BBM.

Tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 2001 itu pun bergerak. Sejumlah kejanggalan diungkap.

Ada pom bensin yang menjual ”pertamax” melebihi pembelian dari Pertamina. Selidik punya selidik, ternyata ketahuan: yang dijual sebagai ”pertamax” itu ternyata premium. Pengusaha pompa bensin hanya menambah premium dengan zat pewarna biru. Simsalabim…, jadilah premium biru itu ”pertamax”.

Akal bulus begini terjadi di pompa bensin nomor 34.11.xx—dua nomor terakhir sengaja disamarkan. Si pengusaha pompa bensin hanya membeli pertamax dari Pertamina 8 kiloliter sehari. Tapi, pertamax yang dijual sehari bisa mencapai 24 kiloliter.

Di pompa bensin nomor 34.04.xx, modus yang sama juga dipakai. premium dimasukkan ke tangki penimbun pertamax dengan menambah zat pewarna biru. Soalnya, dari mana pengusaha pompa bensin tahu bahwa premium yang dijualnya beroktan setinggi pertamax? Slamet Singgih, bekas Direktur C Badan Intelijen ABRI, menduga ada patgulipat antara orang pompa bensin dan orang Pertamina.

Dugaan Slamet, yang direkrut kembali oleh Syamsir Siregar ke Badan Intelijen Negara, didukung oleh sumber Tempo di Pertamina. Sumber Tempo itu menjelaskan, secara kasatmata sulit sekali membedakan premium beroktan tinggi dengan pertamax kecuali warnanya.

Pertamina membeli premium beroktan tinggi itu dari Cina, melalui Singapura. Sepanjang Februari 2005, di Pelabuhan Berlian, Surabaya, saja sudah masuk 1,65 juta liter. Belum lagi yang masuk melalui Jakarta, Bali, dan Medan. Kegiatan impor unleaded gasoline ini diperkirakan sudah berlangsung sejak Desember 2002.

BBM impor itu dipakai untuk menutup kebutuhan BBM di dalam negeri. Sebenarnya, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi sudah mengatur, premium yang dijual Pertamina seharusnya beroktan 88, sedangkan pertamax beroktan 91.

Inti masalahnya, di pasaran luar negeri tidak tersedia minyak tanpa timbel (unleaded gasoline) yang beroktan 88, menurut Rahmat Drajat, Deputi Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina. Yang dibeli Pertamina dari luar negeri adalah premium yang mempunyai research octane number atau RON lebih dari 91. Satuan RON ini biasanya lebih tinggi daripada octane number atau oktan yang kita kenal. RON 91 pastilah bernilai oktan lebih tinggi daripada premium beroktan 88. Itu sebabnya, pengusaha yang nakal dengan gampang menambah premium impor itu dengan zat pewarna biru dan menjualnya sebagai ”pertamax”.

Padahal, untuk menjadi pertamax, seharusnya premium impor diolah di kilang dan diberi zat aditif, salah satunya fungsinya untuk menaikkan angka oktan, lalu diberi zat pewarna. Proses pengolahan ini sulit dideteksi di lapangan. Tak jelas mana pertamax yang benar-benar hasil kilang dan mana ”pertamax” yang sebenarnya hanya premium impor plus bahan pewarna. ”Di laboratorium pun sulit dibedakan,” kata sumber Tempo.

Permainan canggih di pompa bensin tersebut membuat Tim BBM memeriksa sejumlah pejabat Pertamina, perusahaan minyak yang menguasai perizinan pompa bensin di sini. ”Ini pasti ada apa-apanya,” kata Slamet, lulusan Akademi Militer tahun 1965 yang pernah menjabat Komandan Satuan Intel BAIS ABRI.

Sederet nama pejabat Pertamina waktu itu—misalnya Manajer Pemasaran Rahmat Drajat, Manajer Senior Niaga Bambang Suwondo, dan Manajer Niaga Poerwoko—masuk daftar pemeriksaan Tim BBM. Pertanyaan yang diajukan seragam: mengapa Pertamina menjual minyak tanpa timbel beroktan tinggi sebagai premium?

Para pejabat Pertamina main lempar ”bola”. Ketika diperiksa, Poerwoko, misalnya, mengaku tidak mengetahui bahwa premium yang diimpor Pertamina mempunyai RON di atas 91. Tugas memeriksa oktan, kata Poerwoko, adalah tugas bagian pemasaran. Bambang Suwondo juga menunjuk bagian pemasaran. Dalam pemeriksaan, Bambang Suwondo sempat ”kepeleset” ketika ia menyebut pertamax berwarna merah, padahal jenis BBM itu berwarna biru.

Rahmat Drajat, manajer pemasaran, mengaku tidak pernah mendapat laporan tentang besarnya RON premium impor dari bagian niaga. Menurut dia, tugas bagian pemasaran hanya memasarkan apa yang sudah dibeli bagian niaga. ”Dengan jawaban itu, terkesan mereka kurang peduli terhadap produk yang dibelinya,” kata Slamet Singgih.

Pejabat lembaga intelijen ini kurang yakin dengan pengakuan para petinggi Pertamina. ”Bagaimana mungkin mereka tidak tahu soal itu? Bukankah ada laporan dan certificate of quantity produk impor itu?” kata Slamet. Tim BBM menduga ada permainan antara pengusaha pompa bensin dan orang Pertamina.

Apa jawaban Pertamina?

Kepada Tempo, Bambang Suwondo, kini menjabat Kepala Divisi Perencana dan Ekonomi Kilang Direktorat Pengolahan Pertamina, membantah tudingan bahwa pejabat Pertamina berkolusi dengan pengusaha pompa bensin. ”Kalau di lapangan (di pompa bensin) disalahgunakan, itu di luar wewenang kami,” kata Bambang. Dia mengakui salah menyebut warna pertamax ketika diperiksa Tim BBM, namun dia menolak anggapan bahwa dia tidak peduli dengan BBM impor.

Bantahan serupa diucapkan Rahmat Drajat. Menurut dia, selama ini Pertamina membeli minyak impor tanpa timbel dengan harga semurah premium. ”Tidak ada kerugian Pertamina,” kata Rahmat. Yang terjadi sekarang, menurut dia, hanyalah ”perbedaan persepsi antara Pertamina dan Tim BBM”.

Beda persepsi sering terjadi. Tapi kejanggalan tetap perlu ditelisik. Soalnya ini urusan fulus berjumlah besar. Bayangkan. Selama Februari sampai November 2003, Pertamina mendatangkan minyak tanpa timbel sebanyak 1 juta kiloliter. Dari jumlah itu, Tim BBM mencatat ada 638 ribu kiloliter minyak beroktan pertamax. Bahkan pernah ada premium impor itu yang mendekati RON 94 (pertamax plus). Data Tim BBM mencatat pada 25 Juli 2003 ditemukan premium impor yang mempunyai RON 93,4. Hari itu premium impor tersebut dibawa oleh kapal MT Shem Bulk dari Singapura dan dibongkar di depot Plumpang, Jakarta Utara.

Tim BBM mencatat, sepanjang Februari sampai November 2003 terdapat 35 buah kapal tanker yang mengangkut premium impor. Lebih dari separuh jumlah ini adalah premium beroktan tinggi. Dengan harga premium—sebelum naik—waktu itu Rp 1.800 dan harga pertamax Rp 2.300, ditaksir negara berpotensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 312 miliar. Padahal, ”Impor minyak tanpa timbal itu berlangsung sejak Desember 2002 sampai sekarang,” kata Slamet.

Artinya, angka potensi kehilangan pendapatan negara lebih besar lagi. Sayang, sebelum memeriksa Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Hary Purnomo, Tim BBM dibubarkan oleh pemerintah.

Laporan Tim BBM itu kini hanya tinggal laporan di atas meja. Akankah dibiarkan berdebu?



Beli Premium, Jual Pertamax

Inilah perjalanan minyak impor dari negeri Cina hingga ke pompa bensin di Indonesia:

  • Cina
    Untuk bahan bakar minyak (premium) dengan nilai oktan 91 atau lebih, Indonesia biasanya mengimpor dari Cina.

  • Singapura
    Biasanya minyak itu ditampung di Singapura. Salah satunya adalah penampungan milik PT Petral anak perusahaan Pertamina. Dari situ minyak dibawa ke Indonesia. Ada dua versi yang diperoleh Tempo dalam perihal pengangkutan minyak impor dari Singapura ke Indonesia.

  • Belawan, Sumatera Utara
    Minyak ditampung di instalasi Labuhan Deli, Belawan, untuk dipasarkan di daerah Sumatera.

  • Tanjung Priok, DKI Jaya
    Ditampung di sini untuk memasok kebutuhan DKI Jakarta dan Jawa Barat.

  • Surabaya, Jawa Timur
    Ditampung di instalasi Surabaya Group untuk kemudian disuplai ke wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

  • Manggis, Bali
    Ditampung di terminal transit Manggis. Dari sini, minyak diteruskan ke daerah pemasaran Bali serta wilayah Indonesia Timur.

  • Versi Pertamina
    Dari Singapura, minyak dikirim ke pemasaran dalam negeri di empat wilayah.

  • Versi Tim Terpadu
    Dari Singapura seharusnya, premium dengan oktan 91 atau lebih dikirim ke berbagai kilang di Indonesia, Balongan di antaranya. Di sini, minyak diolah menjadi pertamax. Dari kilang, ”pertamax” hasil olahan dikirim ke bagian pemasaran Pertamina. Dan Pertamina menjualnya dengan harga pertamax ke pemilik pompa bensin.


    Beberapa Istilah:

    RON, Research Octane Number
    Adalah angka oktan BBM yang diukur melalui laboratorium. Pada 21 Juni 2001, Pemerintah menetapkan nilai oktan premium minimum(88) pertamax minimum( 91).

    Blending:
    Proses pencampuran antara minyak dengan nilai oktan tinggi dan minyak oktan rendah.

    Delivery Order:
    Formulir pemesanan BBM dari pengusaha SPBU ke Pertamina. Di situ tertera jumlah bahan bakar minyak yang diminta pengusaha untuk setiap jenisnya. Misalnya, premium 1.000 liter dan pertamax 2.000 liter.

    Unleaded Gasoline:
    Minyak tanpa timbal. Pertamina menjualnya dengan nama dagang premium, pertamax dan pertamax plus. Minyak di pasar internasional umumnya tanpa timbal.



    Permak Rupa di Pompa Bensin

    Pompa bensin yang menerima suplai premium dengan oktan 91 atau lebih lantas menyulapnya menjadi pertamax. Caranya?

    Mobil pengangkut langsung menuangkan minyak ke tangki pertamax. Biasanya dilakukan malam hari saat situasinya aman.

    Mobil pengangkut mengalirkan minyak ke tangki premium. Malam atau dini hari, cairan berharga itu dipindahkan ke tangki-tangki pertamax dengan dua cara:

  • Dialirkan lewat slang.
  • Disalurkan melalui pipa bawah tanah. Agar aliran lebih kencang, proses penyaluran dibantu mesin pemompa.

    Sumber: Tim Terpadu (Pertamina) Investigasi Tempo dengan data-data impor antara Februari dan November 2003.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data