Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005
   
Ilmu dan Teknologi

Menyelamatkan Dokumen dari Lumpur Tsunami

Ribuan lembar dokumen pertanahan Banda Aceh diboyong ke Jakarta dalam rendaman etanol. Dokumen penting itu nyaris hancur karena salah urus.

Di manakah lagi masa depan? Barangkali sejak serangan tsunami, bagi sebagian masyarakat Aceh, masa depan itu ada pada selembar surat tanah yang disimpan di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Memang, selama tiga hari itu pesawat pengangkut barang bolak-balik Aceh-Jakarta sambil mengusung 630 kotak, hingga Kamis pekan lalu. "Berat seluruhnya sekitar 12 ton," kata Razali Yahya, Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nanggroe Aceh Darussalam. Kotak-kotak sebesar boks mi instan yang terbungkus rapi itu bersegel merah dengan tulisan "Dokumen JICA dan BPN".

Ratusan paket itu berisi buku kepemilikan tanah, surat ukur, register hak, surat keputusan kepala kanwil, eigendom (hak tanah masa Belanda), erfach (hak guna usaha), dan juga warkah (asal-usul tanah). Semua itu milik warga Kota Banda Aceh.

"Mungkin tiga hari lagi seluruh dokumen itu sudah berada di Jakarta," kata Razali kepada Tempo, Selasa pekan lalu. Dokumen itu diterbangkan ke Jakarta karena terbatasnya peralatan yang dimiliki BPN Banda Aceh untuk menyelamatkan dokumen.

Sekitar 80 persen dokumen tanah milik warga Kota Banda Aceh dapat ditemukan. Hanya, sebagian besar dokumen itu rusak saat diangkat dari timbunan lumpur tsunami yang menggenangi kantor BPN. Sejak hari kesembilan pasca-tsunami, dia mengerahkan sejumlah relawan membantu menyelamatkan dokumen itu. Dokumen dan buku tanah yang sudah melempem itu dianginkan dan kemudian dijemur.

Rupanya, cara menangani dokumen basah itu keliru dan malah memperparah kerusakan pada kertasnya. Beruntung, kesalahan tersebut segera diketahui Kepala Arsip Nasional, Asikin, saat berkunjung ke Banda Aceh. Asikin segera memerintahkan agar semua dokumen disimpan kembali.

Arsip Nasional kemudian meminta bantuan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) atau Badan Kerja Sama Internasional Jepang untuk mengurus dokumen itu. Pihak Jepang kemudian membentuk tim khusus bernama The Japan Committee for Preservation of Cultural Heritage in Victim Area. Komite itu beranggotakan lima profesor yang dipimpin Profesor Isamu Sakamoto.

Keberadaan dan keutuhan dokumen ini menjadi sangat penting untuk penataan kembali tanah milik warga setelah porak-poranda dihantam tsunami, selain tentunya untuk mencegah konflik antar-anggota masyarakat karena lenyapnya berbagai bukti kepemilikan tanah.

Menurut salah seorang anggota Komite, yang sempat terkejut saat melihat kondisi dokumen penting itu, upaya pengangkatan dokumen dari lumpur memang sudah tepat. Namun, mengeringkan dokumen basah yang terkena lumpur dan air di bawah terik matahari itu salah besar. "Sinar matahari langsung mengandung sinar ultraviolet yang sangat merusak kertas," kata Teguh Sehanuddin, mahasiswa bimbingan Prof Sakamoto asal Indonesia yang ikut bergabung dalam komite ini.

Kesalahan lain yang ditemukan komite ini, dokumen tersebut tampaknya hanya di-keringkan pada bagian luarnya. BPN menyangka dokumen tersebut telah kering benar, padahal bagian dalamnya yang halamannya tidak sempat dibuka masih lembap. Kondisi itu menyebabkan halaman yang satu dengan lainnya lengket dan tidak bisa dipisahkan. Lebih parah lagi, tidak ada upaya menghilangkan jamur yang ada di dalam lembaran-lembaran dokumen yang lembap. Padahal jamur itu bisa menghilangkan tulisan dan membuat kertas rapuh.

Setelah mendiagnosis penyakit yang menjangkiti dokumen, komite ini langsung bekerja. Mereka bersihkan kertas dokumen dari lumpur dan kotoran dengan menggunakan kuas. Sedangkan kotoran yang sudah telanjur melekat mereka cuci dengan etanol berkadar 70 persen. Dokumen yang telah bersih kemudian disemprot atau dicelup ke dalam larutan etanol beberapa saat. Etanol ini berfungsi menghentikan penyebaran bakteri yang dibawa lumpur dalam dokumen, sehingga aman bagi yang sedang bertugas.

Zat kimia tersebut juga menghalangi berkembangnya jamur dan menjaga agar dokumen tetap dalam keadaan basah. Nah, dalam kondisi seperti itu, dokumen dikemas dan dibawa ke Jakarta. "Dibawa ke Jakarta dalam kondisi basah dengan etanol," kata seorang pegawai BPN.

Sesampai di Jakarta, dokumen dimasukkan dalam mesin pengering (vacuum thermal drying chamber) agar halaman demi halaman bisa dipisahkan. Sebelum dimasukkan ke mesin pengering, dokumen dibekukan di bawah suhu minus 40 derajat Celsius. Cara ini untuk menghentikan perkembangan jamur dan menjaga keselamatan dokumen, sambil menunggu giliran dikeringkan di mesin pengering.

Pengeringan memang tidak bisa dilakukan serempak, karena mesin pengering yang dimiliki hanya mampu menampung 10 meter kubik dalam sekali operasi. Padahal jumlah dokumen yang harus mereka urus mencapai ribuan buku, yang masing-masing tebalnya lima hingga se-puluh sentimeter.

Kerja mesin ini sama persis dengan alat pengering makanan instan. Setelah kering, dengan sendirinya satu per satu halaman terpisah. Guna mempertahankan dokumen agar kerusakannya tidak bertambah besar, dilakukan penjilidan ulang, bisa pula dilaminasi dengan kertas tisu khusus (kertas washi) agar dokumen yang kertasnya sudah mulai rapuh bisa kembali kuat.

Nantinya, setelah semua proses itu selesai, dokumen dan buku-buku itu akan diterbangkan kembali ke Banda Aceh. Dokumen itu kemudian dipindai ulang untuk mencetak dan mendata kembali silang-sengkarut tanah milik masyarakat akibat tsunami. Sebab, dari tanah milik merekalah masa depan bisa kembali disulam.

Agung Rulianto, Adi Warsidi (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data