Sekali Ngebul, Tetap Ngebul Napas jutaan orang yang ditopang bisnis rokok tak terganggu masuknya Philip Morris. Pasar terus tumbuh. |
GENCARNYA pemberitaan akuisisi PT HM Sampoerna Tbk. oleh Philip Morris International Inc. memang tak disimak cermat oleh Yanto. Tapi bukan berarti sopir angkutan pelat hitam yang biasa mangkal di terminal Gudang Garam, Kediri, Jawa Timur, itu tak ikut repot. Dari hasil nguping obrolan kawan-kawannya, dan sesekali nonton berita di televisi, informasi yang diperoleh Yanto serba tak utuh.
Baginya, hanya ada satu alasan yang membuat pemilik perusahaan sekelas Sampoerna sampai harus menjual aset warisan turun-temurun: terancam gulung tikar. Inilah yang membuat pria 60-an tahun ini ikut-ikutan waswas. Ia dan seribuan sopir angkutan karyawan pabrik rokok di terminal itu khawatir, jangan-jangan "wabah" bangkrut itu akan dialami juga oleh PT Gudang Garam. Kalau itu terjadi, hilanglah lahannya mencari nafkah.
Separuh dari 48 ribu buruh linting di pabrik rokok kretek itu adalah pasar tetap bagi angkutan Yanto dan kawan-kawan. Mereka juga merupakan penghuni ratusan kamar kos di sekitar pabrik, dan pelanggan setia yang membuat pasar-pasar setempat selalu hidup. "Kalau Gudang Garam ikut-ikutan bangkrut, kiamatlah kita," kata Yanto. Tapi kita tahu: Yanto keliru.
Bukan saja tak sedang kesulitan keuangan, bergabungnya Sampoerna ke dalam jaringan raksasa Philip Morris, yang berbasis di Amerika Serikat, itu bahkan belum akan menggeser Gudang Garam dari posisi produsen rokok nasional terbesar. Dengan volume produksi mencapai hampir 65 miliar batang pada tahun lalu, perusahaan yang berkali-kali menempati posisi pembayar pajak nomor wahid ini masih menguasai hampir 32 persen pasar rokok dalam negeri.
Betapapun kekhawatiran Yanto dan kawan-kawan tak cukup beralasan, apa yang terjadi pada mereka menunjukkan akrabnya pertalian nasib di antara sesama "pengkhidmat" industri rokok. Pada masa awal krisis tujuh tahun lalu, lebih dari enam juta orang terlibat langsung dalam industri ini. Mulai dari petani tembakau, pekebun cengkih, hingga para buruh di pabrik rokok.
Jumlah itu akan lebih besar jika seluruh rantai distribusi disertakan, dan akan berlipat hingga mencapai 20-an juta orang bila seluruh kesempatan kerja yang tercipta melalui kegiatan di sekitar industri ini dihitung?plus keluarga yang dihidupi. Contohnya adalah orang-orang seperti Yanto, para pekerja antar-jemput karyawan, pengelola kamar kos, pengusaha katering dan warung makan, hingga jasa penitipan sepeda untuk para buruh.
Industri rokok pula yang terbukti tak rontok, bahkan mampu tetap tumbuh, selama krisis mengamuk. Jangan heran kalau kemudian pemerintah berpikir inilah salah satu pos penerimaan negara yang bisa digenjot untuk menambal bobolnya target di sana-sini. Maka, cukai pun dinaikkan pada 2000. Penerimaan memang naik, tapi ternyata volume produksi jadi terganggu, dan terus menurun sampai tiga tahun kemudian.
Dalam anggaran pendapatan dan belanja negara tahun ini, pemerintah menetapkan tarif cukai tak naik. Diharapkan produksi meningkat, dan dengan sendirinya mendongkrak pendapatan. Sementara tahun lalu perolehan cukai mencapai Rp 27,7 triliun?98 persen lebih dari cukai rokok?tahun ini ditetapkan target menjadi Rp 28,9 triliun atau naik 4,3 persen. Dari sisi ini pun akuisisi Sampoerna oleh Philip Morris masih belum akan ada pengaruhnya. Toh, cukai harus tetap dibayar, siapa pun pemilik pabriknya.
Begitu pula bagi para petani pemasok tembakau dan cengkeh. Tak ada yang perlu dicemaskan. Sebab, Philip Morris menyatakan komitmennya melanjutkan kemitraan dengan petani di Indonesia. "Tidak ada maksud mengurangi karyawan, dan komitmen pada petani juga akan ditingkatkan," kata Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja usai bertemu dengan Philip Morris dan Komisaris Sampoerna, Jumat pekan lalu.
Saat ini Sampoerna telah melakukan kerja sama kemitraan dengan petani tembakau di daerah, di antaranya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Luas lahan tembakau pada 2004 sebagai hasil program ini mencapai 3.340 hektare, dengan produksi 8.000 ton. Philip Morris juga menjamin mitra produksi sigaret (MPS) dengan melibatkan perusahaan-perusahaan lebih kecil yang melakukan produksi untuk Sampoerna.
Sampai akhir September 2004, jumlah MPS yang telah digandeng Sampoerna mencapai 25 perusahaan. "Dengan jumlah karyawan MPS mencapai 37.500 orang," kata Komisaris PT HM Sampoerna, Anky Camaro. Jadi, semua baik-baik saja? Ternyata tidak juga. Yang sungguh memiliki alasan untuk ketar-ketir sebenarnya tak lain adalah para sesama produsen rokok sendiri, terutama penghasil kretek, yang selama ini berjaya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Perusahaan seperti Gudang Garam mungkin masih akan anteng dalam waktu dekat. Tapi jelas peta pemain di dalam negeri akan banyak berubah. Philip Morris adalah pemain asing yang sudah cukup lama menikmati pasar Indonesia, dengan porsi lebih dari empat persen. Bekerja sama dengan PT Bentoel International Investama Tbk. sebagai distributor, produsen merek Marlboro ini menguasai pasar rokok putih (dengan tembakau virginia tanpa campuran cengkih) di Tanah Air, mengalahkan pemain lain seperti British American Tobacco (BAT).
Kerja sama dengan Bentoel berakhir 10 Januari lalu, ketika Philip Morris menunjuk Panamas, perusahaan di bawah Sampoerna, untuk menggantikannya sebagai penyalur penuh mereka. Bergabungnya Sampoerna, yang memiliki porsi 19 persen lebih di pasar kretek, memastikan pemain asing itu kukuh di posisi kedua terbesar produsen rokok di Indonesia, jauh meninggalkan Grup Djarum di posisi ketiga. "Ini yang baru sama sekali," kata Direktur Utama Bentoel, Darjoto Setyawan, kepada Tempo Jumat siang pekan lalu. "Sebelumnya tak pernah ada perusahaan asing di pasar kretek."
Dulu, di awal 1990-an, BAT pernah berupaya masuk ke wilayah kretek. Ketika itu BAT memproduksi rokok bermerek Citra, yang hanya mengandung 10 persen cengkih?dari lazimnya 30 persen takaran biasa kretek. "Itu pun kemudian dilarang," kata Darjoto. Perubahan peta ini yang disebutnya sangat mendasar.
"Indonesia adalah pangsa pasar rokok kretek terbesar, dan Sampoerna merupakan perusahaan rokok kretek yang bagus," kata Presiden Direktur PT Philip Morris Asia Pacific, Matteo Pelligrini, menjelaskan langkah perusahaannya. Selama menyangkut pasar, Pelligrini tak keliru. Sebab, meskipun dihadang aneka peraturan yang membatasi, para pencinta asap tembakau di Tanah Air tak pernah mengenal kata kapok.
Survei kesehatan nasional 2001 menunjukkan 54,5 persen laki-laki dan 1,2 persen perempuan Indonesia berusia lebih dari 10 tahun merupakan perokok aktif. Lebih dari 28 persen di antara pecandu rokok ini tergolong miskin, dan masih rela merogoh 15-16 persen pendapatannya untuk membeli rokok.
Sandungan yang boleh jadi akan sedikit merepotkan Philip Morris bukan tak ada. Ini berkaitan dengan komitmen induk perusahaan itu bersama BAT dan Japan Tobacco, yang sama berjanji untuk tidak akan beriklan di media elektronik. Philip Morris Indonesia pun sebelumnya sudah tunduk pada kesepakatan itu. Sejak September 2001, iklan mereka di layar televisi sudah ditiadakan. Setahun berikutnya, iklan tak lagi digelar di semua media elektronik.
Sumber di BAT memastikan mereka bersama Japan Tobacco tak akan diam begitu saja jika pasca-akuisisi Sampoerna mereka masih melihat iklan produk seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau, atau A Mild di televisi. "Sampoerna kini milik Philip Morris. Mestinya semua kesepakatan ini berlaku juga bagi mereka," katanya.
Y. Tomi Aryanto, Sutarto, Dwidjo U. Maksum (Kediri)
|