Berakhir di Dorchester Belasan orang menjadi saksi perjanjian jual-beli Hanjaya Mandala Sampoerna. Putera hanya ditemani ponsel, korek api, dan rokok. |
TAMPAK luar bangunan bercat krem itu jauh dari kesan mewah. Mungkin, keistimewaan gedung berlantai delapan itu hanya halamannya yang berbentuk segi tiga. Dua itik menghiasi sepotong kolam di halaman. Pohon elm dengan hiasan lampu kuning ikut menyesaki halaman yang luasnya tak lebih dari sepuluh meter persegi.
Jika dibandingkan dengan gedung lain yang terletak di sisi timur Hyde Park, London, Inggris, The Dorchester, demikian nama gedung itu, tak terlihat terlalu antik. Tapi jangan keburu menganggap Dorchester hotel murah. Tarif suite semalam di hotel itu 750 hingga 2.500 poundsterling.
Hotel yang dibangun pada sekitar 1930 ini terkenal sebagai hotel teraman di London. Jenderal Dwight D. Eisenhower, yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat, menginap di hotel ini ketika Amerika membantu Inggris dalam Perang Dunia II. Ketika London melangkah ke musim semi, Sabtu dua pekan lalu, Dorchester ikut menyaksikan sejarah penting dalam industri rokok Indonesia.
Di hotel inilah ditandatangani akta jual-beli antara Putera Sampoerna, Presiden Komisaris Hanjaya Mandala Sampoerna, dan Philip Morris Indonesia, anak perusahaan produsen rokok raksasa dunia, Philip Morris International. Acara yang hanya dihadiri belasan orang itu menjadi gong penutup kejayaan keluarga Sampoerna di industri rokok.
Putera menerima tawaran kelompok Philip Morris untuk membeli saham Sampoerna seharga Rp 10.600 per lembar?20 persen di atas harga pasar HM Sampoerna. Sebanyak 33 persen saham Sampoerna yang digenggam Putera melalui Dubuis Holding beralih ke Philip Morris Indonesia.
Jumlah saham Sampoerna yang akan diincar oleh Philip Morris 40 persen. Sisanya, 7 persen, akan didulang Philip Morris dari bursa. "Ini kesempatan ekspansi yang besar bagi kami," kata Presiden Philip Morris Indonesia, Andre Calantzopoulos.
Kabar penjualan Sampoerna itu seperti petir di hari terang. "Tak pernah ada yang mendengar rencana itu," ujar Erwan Teguh, analis Danareksa Sekuritas. Di bursa saham Jakarta, Senin pekan lalu, ketika berita itu terdengar, saham Sampoerna naik hingga 18 persen.
Heboh tak hanya di gedung bursa. Sepanjang pekan lalu, langkah Putera melepas "ayamnya yang bertelur emas" itu menjadi berita utama di berbagai media. Bagaimana tidak, transaksi penjualan saham itu melibatkan nilai tak kepalang. Dengan menjual 33 persen saham miliknya, Putera dipastikan menjadi triliuner nomor satu di negeri ini. Usai melepas sahamnya, Jumat pekan lalu, Putera mengantongi uang tunai Rp 18,6 triliun.
Jarang sekali pengusaha di negeri ini yang sudi melepas bisnisnya pada saat sukses. Sebelum krisis moneter, ada Julius Tahija, yang menjadi buah bibir karena menjual mahkota bisnisnya, Bank Niaga, ke tangan Hashim Djojohadikusumo. Cerita lain yang terdengar samar-samar adalah penjualan kelompok bisnis ABC ke raksasa barang konsumsi asal Amerika, Heinze. Belakangan, giliran pemilik kecap Bango yang melego bisnisnya ke produsen raksasa Unilver.
Penjualan Sampoerna jauh lebih menggoda. Sebagai triumvirat di pasar rokok domestik?bersama Gudang Garam dan Djarum?Sampoerna jauh dari bayangan perusahaan yang dipenuhi utang sehingga tak bisa mencetak laba. Godaan berikutnya, Sampoerna, seperti juga produsen rokok raksasa lain, merupakan mesin yang menggerakkan ekonomi Indonesia.
Jumlah pekerja di industri rokok tak kurang dari enam juta jiwa, jauh lebih banyak dibanding jumlah pegawai negeri. Lebih dari 90 persen penerimaan cukai negara datang dari industri rokok?tahun ini penerimaan cukai mencapai Rp 29 triliun. Tak mengherankan jika Wakil Presiden dan Menteri Koordinator Perekonomian sampai harus mengundang Philip Morris, pengendali baru Sampoerna, akhir pekan lalu.
Kendati sudah resmi keluar dari bisnis rokok, Putera masih belum menanggalkan gaya raja kretek, yang ogah publikasi. Ia berhemat kata dalam menjelaskan alasan penjualan. "Penjualan ini merupakan perkembangan yang sangat baik bagi pemegang saham dan karyawan," hanya itu pernyataan resmi Putera yang beredar setelah penjualan.
Penjualan yang di luar "pakem" itu sempat menimbulkan spekulasi bahwa hal itu tak lebih dari sekadar restrukturisasi perusahaan. Putera bisa-bisa saja membeli saham Altria, induk perusahaan Philip Morris, yang diperdagangkan di bursa New York. Hanya, sumber Tempo yang dekat dengan Putera membantah dugaan itu. "Dia bukan orang yang suka basa-basi," kata sumber itu.
Goei Siaw Hong, konsultan keuangan yang lama memperhatikan saham rokok, turut meragukan skenario di balik penjualan itu. "Tak ada gunanya bagi Putera memindahkan usaha ke luar negeri," katanya. "Apalagi, dari transaksi itu, Putera harus membayar pajak atas keuntungan penjualan saham yang sangat besar." Dengan tarif pajak pendapatan atas keuntungan penjualan saham sebesar 15 persen, dengan transaksi ini Putera harus menyetorkan Rp 2,8 triliun ke kas negara.
Sumber Tempo mengatakan, Putera sangat yakin tahun ini merupakan saat tepat untuk keluar dari bisnis rokok. Pada akhir 2003, Sampoerna hanya mencatat penjualan Rp 14 triliun, merosot 6 persen dari tahun sebelumnya. Laba usaha pun menurun 1,4 persen dari tahun 2002.
Tentu, kinerja setahun itu tak bisa dijadikan patokan. Tetapi Goei yakin, margin yang didapat oleh produsen rokok akan semakin tipis. "Keuntungan terbesar dari bisnis rokok saat ini justru dinikmati pemerintah," ujar Goei. Sejak krisis, pemerintah giat menggenjot pendapatan cukai. Dua tahun terakhir memang tak terjadi kenaikan tarif cukai. Tapi, dengan semakin keringnya pos penerimaan negara, tarif cukai bisa dibilang tinggal menunggu lepas landas.
Prospek industri yang tak terlalu cerah itu bisa jadi alasan utama Putera untuk keluar dari bisnis rokok. Sumber Tempo mengingat, Putera telah melontarkan gagasan menjual saham sejak setahun silam. Munculnya nama Philip Morris sebagai calon pembeli juga tak terlalu mengagetkan. Dua raksasa rokok beda kebangsaan itu memang sudah lama bergaul.
Di bawah komando Putera, Sampoerna pernah membeli pabrik rokok Philip Morris di Malang, Jawa Timur. Hubungan paling mesra kedua perusahaan itu terjadi awal tahun ini. Philip Morris menyerahkan urusan distribusi produknya di Indonesia ke Sampoerna. Lirak-lirik Putera dan Philip Morris akhirnya berpuncak dua pekan lalu.
Credit Suisse First Boston (CSFB) bertindak sebagai mak comblang yang mempertemukan Philip Morris dengan Putera. Ketakziman Philip Morris meminang Sampoerna terlihat dari turun langsungnya Louis Camilieneri, bos besar di Altria, induk perusahaan Philip Morris, ketika bernegosiasi di London.
Jadwal perundingan ditetapkan dua pekan lalu, karena Jumat pekan itu merupakan hari libur di Indonesia. Menurut aturan bursa lokal, pembicaraan tentang pengambilalihan 20 persen saham harus diumumkan selambatnya dua hari setelah negosiasi dimulai. Baik Putera maupun Philip Morris ingin mereka punya satu hari ekstra untuk bernegosiasi. Maksudnya, agar pada saat pengumuman itu keluar, kesepakatan jual-beli sudah tercapai.
Kubu Putera semula meminta perundingan berlangsung di Hong Kong, tak terlalu jauh dari Indonesia. Singapura, tak seperti dugaan banyak orang, justru dijauhi oleh Putera dkk. Negeri Kota itu dianggap terlalu sempit untuk menyimpan rencana akuisisi antarperusahaan rokok terbesar di dunia sejak pengambilalihan RJ Reynolds oleh Philip Morris.
Pihak Philip Morris lebih memilih Amerika, tempat Altria?induk perusahaan Philip Morris?bermarkas. Kompromi dilakukan dengan akhirnya memilih London. Lagi pula, penasihat hukum Philip Morris, Clifford Chance, berkantor pusat di kota ini.
Tak aneh jika para pelaku bursa tak berhasil menyadap rencana penjualan Sampoerna. Ketika datang ke meja perundingan pun, orang kepercayaan Putera yang ikut tak lebih dari jumlah jari di satu tangan. Putera juga tak menyewa penasihat keuangan untuk urusan eks-trapenting ini.
Ketika berunding, hanya terlihat tiga benda yang selalu ada di kantong setelan jas Putera: telepon seluler, pemantik api, dan tentu, sebungkus rokok. Negosiasi awalnya berjalan lambat. Rabu berlalu, tanpa satu pihak pun membuka harga. Puluhan pengacara yang disewa kedua pihak (Putera membawa belasan pengacara, Philip Morris menyewa lebih dari 30 pengacara) sempat ragu seluruh urusan hukum bisa tuntas sebelum akhir pekan.
Mungkin karena ingin menghormati klien mereka, para kaisar rokok, tak sedikit pengacara asing yang menyulut Dji Sam Soe untuk mengusir stres. Udara di kantor Clifford pun jadi sumpek oleh asap rokok. Hari berikutnya, baru terjadi tawar-menawar.
Beberapa kali harga yang disebut Putera dianggap kelewat tinggi oleh Philip Morris. Mereka juga saling menawar tentang kapan dan bagaimana transaksi dilakukan. Setiap hasil perundingan dikabarkan oleh CSFB ke para pengacara yang menunggu di dua kantor Clifford, Upper Bank Street dan Coleman Street, London.
Pada saat tak beradu harga, Putera menghabiskan waktu dengan istrinya berjalan kaki menyusuri kawasan di seputar Hyde Park. Dorchester kebetulan berada tak jauh dari sisi teramai Hyde Park, tempat orang bebas memaki siapa pun?kecuali Ratu?pada hari Ahad.
Sebagai pria yang menyukai tradisi dan seni, Putera sangat menikmati kawasan elite London itu. Di sana terdapat sejumlah restoran terkenal dengan suguhan afternoon tea?yang Inggris banget. Melimpahnya koleksi seni adalah magnet lain yang membuat Putera kerasan di kawasan Hyde Park.
Kamis hingga Jumat merupakan saat tersibuk negosiasi. Tak sedikit konsultan yang melewatkan waktu tidur di malam Kamis karena pekerjaan yang bertumpuk. Menjelang Sabtu, Putera akhirnya menerima harga penawaran Philip Morris. Selembar saham Sampoerna dihargai 20 kali dari proyeksi pendapatan tahun 2005.
Jika PER (rasio harga terhadap pendapatan) yang dijadikan ukuran tunggal, harga jual Sampoerna terbilang bagus, mengingat pada saat itu saham Gudang Garam, produsen rokok terbesar di Indonesia, hanya diperdagangkan dengan PER 15 kali. Saat negosiasi menjelang deal, sebagian orang kepercayaan Putera meninggalkan London.
Mereka bermaksud memberitakan penjualan yang telah terjadi ke keluarga besar Sampoerna. Sementara perundingan berjalan, Putera terlihat beberapa kali menghubungi anak-anaknya. Usai penandatanganan perjanjian jual-beli, Sabtu dua pekan lalu, sebagian besar rombongan, dari kubu Putera maupun Philip Morris, meninggalkan London.
Putera dikabarkan tetap berada di London. Ia menunggu transaksi jual-beli direalisasi pada Jumat silam. Sumber Tempo mengatakan, Putera baru pulang akhir pekan lalu. Ke mana Putera membawa bisnis keluarganya? Dengan uang tunai Rp 18 triliun, tentu pilihan investasi nyaris tak terbatas.
Isu yang paling kencang beredar, Pu-tera akan menanamkan uangnya di sektor infrastruktur. Ada pula yang ber-gunjing Putera akan membeli maskapai penerbangan Merpati, yang sekarang masih megap-megap memikul utang Rp 1,3 triliun.
Ekadharmajanto Kasih, komisaris Sampoerna dan orang yang terhitung dekat dengan Putera, tak banyak berkomentar. "Salah satu sektor usaha yang kami pertimbangkan adalah infrastruktur," katanya, seperti dikutip harian Bisnis Indonesia. Eka hanya menjanjikan, uang itu akan ditanam lagi oleh Putera di Indonesia.
Kerajaan bisnis yang dibangun Liem Seeng Tee di Surabaya lebih dari seabad silam itu berakhirlah di Dorchester, Inggris. Liem harus mengarungi lautan luas sebelum mendarat di Surabaya pada 1898, dari tempat kelahirannya di Hokkian, Cina Selatan.
Putera adalah generasi ketiga keluarga Tee. Ketika generasi keempat memegang kendali HM Sampoerna?anak Putera, Michael Joseph Sampoerna, kini Presiden Direktur HM Sampoerna?keluarga itu memutus jalinan historis yang begitu panjang.
Thomas Hadiwinata, Wahyu Dyatmika (London)
|