Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXIV/14 - 20 Maret 2005
   
Luar Negeri

Amzil Mundur karena Kerudung

Seorang karyawati muslim di Belgia mundur setelah atasannya mendapat tujuh ancaman pembunuhan. Apa sikap pemerintah terhadap minoritas muslim di sana?

Naima Amzil tak merasakan firasat apa pun saat dia berangkat kerja pada Rabu pagi pekan lalu. Wanita asal Maroko ini pegawai di perusahaan bahan makanan di Legeden, sebelah barat Belgia. Saat meninggalkan rumah, Amzil membungkus kepala dengan jilbab putih kesayangannya. Dia tahu ada sekelompok fundamentalis kanan di Belgia yang menentang wanita muslim memakai jilbab saat bekerja. Maka, setiba di pabrik, Amzil melepas jilbab dan menggantinya dengan topi pengaman (bonnet) yang menutupi sebagian besar kepalanya. Bagi dia, hal itu toh tidak mengurangi ibadahnya.

Malang bagi Amzil, hari itu terjadi sesuatu yang bakal mengubah nasibnya. Atasannya di pabrik itu, Rik Remmery Vannieuwenhuyse, untuk kesekian kalinya menerima ancaman ini: pecat Amzil atau Remmery dan keluarganya dibunuh. Demi keselamatan bosnya, Naima Amzil memilih mundur.

Berita mundurnya Amzil, 31 tahun, membikin marah seantero Belgia. "Ini tanda-tanda buruk. Para pengacau kini tahu, cara mereka berhasil," ujar Ronny Lannoo, juru bicara Unizo—organisasi buruh setempat yang sejak awal mendukung Amzil dan Remmery. Perdana Menteri Belgia Guy Verhofstadt bersumpah akan menemukan si pengancam. "Penyelidikan tidak akan berhenti sampai mereka kami ringkus," ujarnya.

Amzil sebenarnya hanya satu dari sekitar 400 ribu pemeluk Islam di Belgia, yang mengenakan jilbab di tempat kerja. Umumnya mereka sudah menjadi warga negara Belgia, fasih berbahasa Prancis maupun Belanda. Tapi mengapa kelompok New Free Flanders (Niew Vrij Vlaanderen)—yang selalu menandai surat ancaman mereka dengan inisial V.V.V—seolah-olah hanya memusuhi Naima Amzil, wanita kelahiran Maroko itu? Tak ada yang tahu.

Surat ancaman pertama datang pada November lalu. Ketika itu Remmery dituduh sebagai "seorang Belgia yang buruk" karena mempekerjakan Amzil, wanita berjilbab, di pabriknya. Remmery diminta memecat Amzil atau dibunuh. Remmery menolak.

Pada saat ancaman berikut datang, justru Amzil, yang telah bekerja delapan tahun di tempat itu, berinisiatif berhenti. Dia khawatir sesuatu terjadi pada bosnya itu. Tapi Remmery malah marah-marah. "Saya tidak akan menyerah kepada orang sakit jiwa," ujarnya. Jalan tengah diambil, Amzil tetap bekerja tapi menanggalkan jilbabnya dan mengenakan bonnet ketika berada di pabrik.

Cerita ini terendus oleh pers Belgia dan segera menjadi berita. Di luar dugaan, Amzil dan Remmery mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah dan Raja Belgia Albert II. Raja tengah berlibur di Prancis manakala berita tentang "ancaman" dan "perlawanan" itu sampai di telinganya, Desember lalu. Pada Januari 2005 dia mengundang Amzil dan Remmery ke Istana untuk melakukan konferensi pers bersama. Raja meminta keduanya tak takut menghadapi ancaman orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sayang, dukungan moral Kerajaan tak menjerakan kelompok V.V.V. Sebaliknya, cerita heroik Amzil dan Remmery berakhir antiklimaks: Amzil berhenti dari pekerjaannya. Keputusan itu dia ambil setelah datang surat ancaman ketujuh bagi bosnya, yang antara lain berbunyi: "Eksekusi Anda (Remmery) kini kami persiapkan kembali." Surat itu disertai dua butir peluru, dan membuat Amzil menyerah. "Ini semua terlalu berat bagi saya," ujarnya. "Saya amat mengkhawatirkan dia (Remmery) dan keluarganya." Dia tidak lagi menghiraukan permohonan Remmery agar bertahan.

Belgia bukan negeri yang sepi dari diskusi tentang pembatasan penggunaan jilbab dan simbol-simbol keagamaan. Awal tahun lalu, dua senator negeri itu mengajukan rancangan undang-undang untuk membatasi penggunaan jilbab di sekolah. Alasannya, untuk menjaga kelestarian status sekuler, meniru tetangga mereka, Prancis. Baiknya, usul itu kandas di Senat. Tampaknya mayoritas penduduk Belgia yang lebih dari 10 juta lebih peduli kepada demokrasi dan hak setiap orang untuk beribadah ketimbang menuruti sentimen anti-Islam (Islamophobia): kasus Naima Amzil adalah contohnya.

Philipus Parera (BBC/AFP/Qantara.de)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data