Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXIV/14 - 20 Maret 2005
   
Arsip

TEMPO, 9 Juni 1984

Nada suara Paulias Matane, sekretaris Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Papua Nugini (PNG), terdengar getir. "Mungkin rakyat Indonesia tidak merasakan persoalan ini, karena masalahnya tidak terjadi di sana. Tapi buat kami di PNG ini masalah besar dan berat."

Masalah berat yang dipersoalkan Matane ialah penyeberang perbatasan yang mengalir dari wilayah Indonesia, dan mulai memasuki wilayah PNG pada akhir Februari 1984. Pengungsian itu terjadi setelah kegagalan gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) melancarkan gerakan mereka pada 13 Februari. Jumlah pelarian itu sekitar 6.800 orang, sebagian besar penyeberang perbatasan ini wanita dan anak-anak.

Masalah itu menjadi persoalan penting kala itu. Sikap pemerintah PNG jelas, yakni para penyeberang batas tidak boleh menetap karena bukan warga PNG. Mereka adalah orang Indonesia, dan karena itu harus kembali. Rencana repatriasi pun dilakukan. Terlebih dulu dilakukan pertemuan dua belah pihak: Indonesia dan PNG.

Soal perbatasan negara kembali mencuat. Kepulauan Ambalat, yang berada di kawasan Kalimantan, diklaim pemerintah Malaysia sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. Malaysia mengklaim wilayah itu berdasarkan peta tahun 1979. Kawasan yang berdekatan dengan Pulau Sipadan dan Ligitan ini mengingatkan kembali "lepasnya" dua kepulauan itu setelah Mahkamah Internasional memutusnya tahun lalu.

Namun klaim pemerintah Malaysia tentang kawasan Ambalat jelas-jelas ditolak Indonesia. Ketegangan sempat terjadi. Kapal laut Indonesia yang berpatroli di kawasan itu berhadapan, mencegat, dan menghalau kapal Malaysia. Kini ketegangan tersebut mereda setelah disepakati jalan damai melalui meja perundingan diplomasi. Meskipun hasilnya belum tampak benar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data