Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXXIV/07 - 13 Maret 2005
   
Nasional

Mencari Wamang di Sela Grasberg

Pelaku penembakan di Mil 62 itu sejatinya masih misterius. Polisi tak punya bukti untuk menangkap tersangka temuan FBI.

Antonius Wamang. Nama yang lamat-lamat sudah lepas dari ingatan publik itu kini seperti menyela perhatian. Pemilik nama ini adalah seorang pria yang dijadikan tersangka dalam kasus penembakan di Mil 62 Tembagapura, Papua, dua setengah tahun silam. Sebuah peristiwa yang gaungnya sampai ke Amerika Serikat karena menyebabkan tewasnya dua warga negara itu: Ted Burcon dan Rickey Lean Spear. Satu orang lagi yang ikut meregang nyawa adalah warga negara Indonesia bernama FX Bambang Riwanto.

Kini Wamang dibicarakan karena dicopotnya segel program pelatihan militer internasional AS dengan Indonesia (International Military Educational and Training Program/IMET). Salah satu alasannya, Indonesia dianggap menangani dengan baik tragedi yang terjadi di punggung Pegunungan Grasberg itu.

Penanganan peristiwa berdarah di Timika itu seperti rapor bagus bagi pemerintah Indonesia. Dan nama Wamang, yang dimunculkan sebagai tersangka, bagai polesan yang mempercantik rapor tersebut. Maklum, bersama pemunculan namanya itu sekaligus tertepis tudingan keterlibatan anggota TNI dalam peristiwa "Grasberg berdarah". Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI, Kolonel Ahmad Yani Basuki, mengatakan kasus penembakan dua warga Amerika Serikat di Timika itu sudah selesai. "Hasil investigasi TNI AD, Polri, dan FBI menyatakan tidak ada keterlibatan anggota TNI dalam kasus itu," katanya, Rabu pekan lalu.

Apa boleh buat, nama Antonius Wamang memang terpatri bersama peristiwa berdarah di Mil 62 Tembagapura pada 31 Agustus 2002 tersebut. Namanya muncul sebagai tersangka setelah penyelidik dari FBI melakukan investigasi selama 21 bulan. Kesimpulan itu disampaikan FBI kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, akhir Juni 2004 silam. Mengutip lembaga penyelidik dari Negeri Abang Sam itu, Jenderal Tarto mengatakan Wamang adalah anggota Tentara Papua Merdeka (TPM) yang merupakan sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Dugaan keterlibatan TNI datang dari tim investigasi Polda Papua, yang dipimpin Wakil Kapolda (saat itu) Brigjen Raziman Tarigan. Dugaan itu disandarkan pada keterangan Decky Murib?seorang sipil binaan Kopassus? yang mengaku berada di sekitar tempat kejadian. Olah TKP yang dilakukan polisi pun kian memperkuat keterangan Murib. Memang, belakangan ia mencabut kesaksiannya itu di depan sidang gugatan pencemaran nama baik Pangdam XVII/Trikora vs Elsham Papua.

Kini, dua setengah tahun sudah aksi kekerasan itu berlalu. Tetapi Wamang belum tertangkap hingga sulit diungkap benarkah dia pelakunya. Ketidakserasian temuan antara polisi dan FBI berimbas sampai sekarang. Polisi menyatakan belum bisa meringkus Wamang karena nihilnya saksi dan bukti yang mendukung sangkaan. "Bukti-bukti tidak kuat, dan saksi langsung tidak ada," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol. Aryanto Budiharjo, pekan lalu.

Seorang perwira di Mabes Polri lebih tegas menyatakan bahwa nama Wamang tidak bisa diterima kepolisian. Dari olah TKP, diambil kesimpulan pelakunya bukan berasal dari OPM. Ia menceritakan FBI pernah mendatangi Mabes Polri usai melakukan investigasi. Saat itu FBI menyatakan pelaku penembakan adalah Wamang. "Tetapi identitas Wamang tidak disebutkan. Dia dari daerah mana, dan berada di mana, tidak disebutkan," kata sumber yang tidak bersedia disebut namanya itu. Dia kian menjadi skeptis karena nama Wamang bukanlah nama yang berasal dari suku Timika maupun Wamena.

Sayang sekali, beberapa anggota polisi yang pasca-kejadian di Mil 62,3 ikut melakukan penyelidikan kini enggan bicara banyak. Mantan Kepala Polisi Papua, Irjen Made Mangku Pastika, misalnya, menilai hasil penyelidikan FBI yang mencuatkan nama Wamang itu tidak perlu dipertentangkan dengan hasil investigasinya. "Penyelidikan saya waktu itu baru sampai tahap olah TKP," kata Pastika, yang kini menjabat Kepala Polda Bali.

Ada satu nama lagi yang juga terjun menyelidiki, yakni mantan Kepala Polres Mimika, AKBP Sumardjiyo, yang kini menjabat Kepala Polres Bondowoso, Jawa Timur. Dia mengaku dipindah ke posnya sekarang sebelum penyelidikannya tuntas. "Waktu itu pelaku penembakan belum jelas," katanya, pekan lalu. Keterangan ini agak berbeda dengan penjelasannya kepada Tempo pada 2003 silam. Saat itu Sumardjiyo tegas menyatakan pelaku penembakan bukan OPM. "Sejak semula penyelidikan kami tidak mengarah pada OPM," katanya (Tempo edisi 46 tanggal 19 November 2003).

Sekarang, terungkap atau tidak peran Wamang dalam peristiwa di Mil 62,3 itu mungkin sudah tidak penting lagi?utamanya bagi Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice pekan lalu menyatakan IMET sudah pasti dibuka kembali untuk Indonesia. Dan nama Wamang mungkin hanya tinggal menjadi gema belaka di sela-sela punggung Pegunungan Grasberg.

Tulus Wijanarko, Martha Warta, Mahbub Djunaidiy (Bondowoso), Rofiqi Hasan (Bali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data