Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXXIV/07 - 13 Maret 2005
   
Film

Terbang Bersama Peter Pan

Sebuah film tentang J.M. Barrie, seorang dramawan yang menciptakan sebuah dunia fantasi bernama Neverland.

FINDING NEVERLAND
Sutradara : Marc Forster
Skenario : David Magee, berdasarkan drama The Man Who Was Peter Pan
Pemain : Johnny Depp, Kate Winslet
Produksi : Miramax Films


Fantastis! Di dalam dunia James Barrie, Neverland terdiri dari hutan belukar dengan hamparan rumput, pelangi yang terus-menerus tersenyum seperti tengah bergurau dengan matahari, para bidadari, pembajak, anak-anak yang tak pernah menjadi tumbuh dan menjadi tua.

Syahdan, J.M. Barrie (diperankan Johnny Depp yang dinominasikan sebagai Aktor Terbaik Academy Award) pada 1904 di London tengah mengalami penurunan dalam kehidupan kreativitasnya. Dramanya tak disukai, penonton dan kritikus menghajarnya. Barrie merasa terpojok oleh dirinya sendiri. Dia merasa memiliki begitu banyak ide, tetapi dia tak tahu ba-gaimana menyusun serpihan-serpihan itu.

Suatu hari, Barrie bertemu dengan seorang janda cantik bernama Sylvia Davies (Kate Winslet) dan keempat puteranya Jack (Joe Prospero), George (Nick Roud), Michael (Luke Spell), dan si bungsu Peter (Freddie Highmore). Tiba-tiba, Barrie menemukan panggung: dari alam imajinasinya melebar ke halaman belakang rumah Sylvia. Dengan keempat anak-anak itu, dia ikut bermain sebagai indian melawan para koboi; berlompatan di atas tempat tidur atau main petak umpet di antara pepohonan. Pada saat anak-anak itu meloncat dan seolah berupaya ingin menggapai langit, maka lahirlah ide Barrie yang menjadi pembukaan dramanya yang terkemuka, yang kini menjadi pegangan setiap anak di dunia, sebuah drama klasik yang menghidupkan imajinasi yang fantastis: Peter Pan.

Film yang terinspirasi dari kisah nyata kehidupan penulis Peter Pan ini adalah sebuah kisah persahabatan yang melahirkan inspirasi. Nama sahabat terkecil Barrie, Peter—anak bungsu Sylvia—yang melahirkan nama Peter Pan. Halaman belakang rumah mereka yang sederhana awal dari tumbuhnya fantasi tentang Neverland. Tetapi suburnya ilham di sekeliling dunia fantasi Barrie kemudian memiliki ongkos besar: Mary (Rahda Mitchell) yang merasa tak dipedulikan, yang kemudian meninggalkannya; gunjingan kelas atas London yang mencurigai hasrat Barrie terhadap Sylvia; bahkan mulut-mulut penggemar fitnah mencurigai alasan Barrie mendekati keempat anak-anak itu didorong hasrat seksual.

Marc Foster, sutradara Monster Ball, bukan hanya bertutur tentang bagaimana sebuah karya besar lahir dari tangan seorang sastrawan, tetapi berharganya persahabatan Barrie dengan Sylvia dan keempat anak-anaknya. Persahabatan yang begitu murni, tanpa pamrih, tanpa hasrat seksual, mungkin tak bisa memahami bahwa hubungan perkawanan seperti itu bisa hadir dalam hidup manusia. Yang istimewa dari sosok Barrie—diperankan dengan cemerlang oleh Johnny Depp—karena dia memang tak berpretensi menjadi "ayah" pengganti bagi keempat bocah lelaki itu, terutama bagi Peter si bungsu yang sensitif dan sangat kehilangan ayahnya. Dia betul-betul berkawan dengan mereka, seperti menjadi "one of the guys" yang sangat memahami nikmatnya dunia anak-anak. Dari persahabatan itulah lahir ide anak-anak Neverland yang tak pernah tumbuh dewasa, yang selama-lamanya tetap menjadi anak-anak. Sesungguhnya Peter Pan memang alter ego dari pengarangnya.

Kate Winslet memberikan nyawa pada peran Sylvia, seorang ibu-janda-kawan yang mencoba memenuhi hidupnya dengan pengabdian pada anak-anaknya.

Dalam hidup nyata, situasi justru jauh lebih tragis. Peter, si bungsu menjadi begitu terkenal—karena masyarakat dunia mengetahui namanya digunakan sebagai tokoh utama dalam drama Peter Pan—hingga ia tak kuat menghadapi situasi kehidupan selebriti yang tak diinginkannya. Dia bunuh diri dengan meloncat dari kereta api pada usia 60 tahun.

Tetapi dengan tragedi dalam hidup nyata itu, masyarakat dunia tetap lebih akan mengingat bahwa Barrie, seperti juga Peter Pan telah menciptakan sebuah hamparan rumput di mana hidup yang begitu fantastis tak akan pernah berakhir: anak-anak tetap terus menjadi anak-anak, pelangi terus berwarna, dan hidup ini selalu berisi gelak tawa anak-anak yang berupaya untuk terbang ke langit.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data