Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Obituari

Mengenang Kuntowijoyo Membangun Jembatan

Dia bisa melancarkan kritik tajam tanpa melukai orang yang jadi sasarannya.

Senin, 21 Februari, kira-kira pukul 10 malam, saya menengok Kuntowijoyo, yang dirawat di ICU Rumah Sakit Sarjito, Yogyakarta. Dia tergeletak tidak sadar dengan tubuh yang ditempeli berbagai slang dan kabel. Di sampingnya ada dokter dan perawat yang sibuk mengoperasikan berbagai instrumen. Esok harinya, ketika berada di luar kota, kira-kira pukul 17.00, saya mendapat SMS dengan pesan "Mas Kunto meninggal dunia". Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Walaupun bukan muridnya langsung, saya banyak belajar dari Mas Kunto, terutama melalui pengamatan dari samping. Aneka pelajaran bisa ditangkap kesehariannya, dari perbuatan-perbuatannya. Tanpa ia sadari, misalnya, saya memetik pelajaran, bagaimana menjalani hidup sebagai warga masyarakat dan sebagai ilmuwan. Intinya adalah "membangun jembatan".

Ketika banyak kalangan, ilmuwan maupun aktivis, sibuk memperbincangkan keislaman dan kejawaan sebagai dua entitas yang dipertentangkan, Almarhum justru sudah menjalani keduanya dengan harmonis. Namanya sendiri dan nama yang diberikan kepada kedua anaknya sarat dengan konsep Jawa. Ia juga terlahir dalam, dan kemudian mengembangkan sendiri, kehidupan keluarga yang sangat Islami. Kejawaan dan keislaman tumbuh dengan harmonis dalam kehidupan Mas Kunto. Sangat Islam dan sangat Jawa. Partisipasinya dalam debat mengenai "Islam dan abangan" pada akhir 1980-an bertujuan meyakinkan bahwa "abangan" adalah sub-kultur Islam di Jawa.

Ketika mengajar ilmu sejarah, Mas Kunto juga membantu pembangunan jembatan yang menghubungkan kegiatan keilmuan sejarah dengan analisis sains sosial. Dua dunia yang untuk waktu yang lama sekali terpisah. Mengikuti jejak pendahulunya, terutama Profesor Sartono Kartodirdjo, ia memanfaatkan perkakas analisis yang tersedia dalam ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, ekonomi, dan politik, untuk memahami dan menafsir fakta sejarah. Karena itu, ia sangat lincah ketika mencoba memahami fenomena radikalisasi petani.

Mas Kunto memang tidak ikut membangun jembatan "Suramadu" yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Tetapi Mas Kunto adalah satu dari sangat sedikit ilmuwan Jawa yang mempelajari masyarakat Madura. Dan, tidak tanggung-tanggung, orang yang sangat Jawa ini memikirkan Madura dari negeri yang sangat jauh?ketika ia belajar di Universitas Columbia, New York.

Kesukaan Kunto "membuat jembatan" disokong oleh kepribadiannya yang santun. Dia bisa menyampaikan kritikan tajam dengan cara yang tidak melukai. Karena itu, suatu waktu di pertengahan 80-an, teman-temannya kaget ketika mendengar berita bahwa Mas Kunto dan beberapa dosen UGM lain diinterogasi tentara di kantor Kodam di Semarang. Perkaranya cukup serius. Ia mengkritik cara tentara yang berlebihan dalam menangani kelompok muslim muda di Yogya, yang dituduh radikal oleh penguasa Orde Baru. Dia mengatakan: "Wong cuma kucing kok dianggap macan." Akibatnya, macan yang sesungguhnya marah besar dan Mas Kunto hampir digigit.

Orang yang terlahir di Ngawonggo dengan nama Kuntowijoyo ini (dalam pewayangan, "Kunto" adalah nama senjata Karna, Adipati Ngawonggo) jauh dari gambaran tentang senjata dan panglima perang. Ia adalah orang yang bekerja dengan nalar, dengan nurani, dengan mesin ketik. Selasa lalu, ia menghadap Al-Khalik dengan jari-jari masih berbekas mesin ketik.

Mochtar Mas'oed, Staf Pengajar Fisipol UGM


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
Dua Aksi Massa Berpotensi Macetkan Jalan - 07 Sep 2008 | 07:50 WIB
Spanyol Banyak Buang Peluang - 07 Sep 2008 | 07:37 WIB
Arus Lalu Lintas Ibukota Pagi Ini Lancar - 07 Sep 2008 | 07:30 WIB
Jakarta dan Sekitarnya Berawan   - 07 Sep 2008 | 07:19 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data