Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Luar Negeri

Sebuah Derita, Sebuah Asyura

Penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib menjelang ajal menjadi tema sentral peringatan Asyura di beberapa belahan bumi. Juga di Irak, yang menutupi perbatasannya sejak pekan lalu untuk menyambut perayaan ini.

SEMBURAN darah yang deras merendam wajah-wajah itu bercerita tentang suatu petang yang terik di Padang Karbala, Irak, lebih dari satu milenium silam. Hari itu, Jumat 10 Muharam 61 Hijriah (20 Oktober 680), seorang lelaki gurun bernama Syimir bin Dzil Jauzan mengayunkan pedangnya ke leher Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Dengan sekali tebas, kepala cucu Nabi Muhammad SAW itu terlepas dari tubuhnya yang sudah lebih dulu koyak dicabik-cabik belasan pedang, lembing, dan anak panah. Angin mati di tepian Sungai Eufrat. Kepala Husain diarak dari Karbala sampai Damaskus, Suriah, oleh pasukan musuh yang dipimpin Umar bin Sa'ad. Oleh Gubernur Damaskus, Ubaidillah bin Ziyad, kepala itu diserahkan lagi sebagai bukti loyalitasnya kepada Yazid bin Muawiyah.

Punggung-punggung yang boyak akibat torehan mata pedang itu berkisah tentang ambisi Yazid, cucu salah seorang penentang terbesar ajaran Islam, Abu Sufyan sang bangsawan suku Quraisy. Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib (600-661), ayah Husain, sebagai khalifah keempat menimbulkan ketegangan yang kembali melibatkan obsesi keturunan Abu Sufyan untuk duduk di pucuk kekuasaan lewat anaknya, Muawiyah, ayah Yazid.

Sebuah muslihat dipasang. Husain diminta membebaskan penduduk Kufah, Irak, dari cengkeraman tentara Yazid. Maka berangkatlah ia dari Mekah ditemani hampir seratus pengikut. Sampai di Karbala, rombongan Husain beristirahat di tengah padang yang memanggang. Saat itu Kamis 9 Muharam, ketika Husain menyadari kemahnya dikepung, dan ia dijebak oleh pasukan Umar bin Sa'ad, yang sepuluh kali lebih banyak. Negosiasi hanya menunda waktu, tapi bukan hasil akhir. Seluruh rombongan Husain tumpas pada hari berikut, tanpa kecuali.

Sejak itu Asyura (dalam ba-hasa Arab berarti sepuluh) bukan hanya berarti hari saat Ibrahim diselamatkan Allah ketika dibakar Namrud. Atau Nuh diselamatkan dari bahteranya setelah bumi tenggelam selama enam bulan. Atau hari turunnya Taurat kepada Musa. Bagi kaum Syiah terutama, Asyura adalah hari untuk merasakan sakitnya pengkhianatan yang dirasakan Husain pada detik-detik terakhir hidupnya. Asyura adalah momen untuk berbagi penderitaan, terutama secara fisik, atas pedih yang diderita Imam Husain. Entah itu di Iran, Libanon, Suriah, Afganistan, Turki, atau di Irak yang baru bebas merayakan Asyura pada tahun kedua setelah tumbangnya Saddam Hussein.

Akmal Nasery Basral


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data