Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Luar Negeri

Dulu Kota Turun ke Puing

Gempa merobohkan Kota Zerand, Iran, pada Selasa pekan lalu. Hampir 500 nyawa melayang. Ribuan lain luka-luka. Dan entah berapa ribu warga yang nasibnya masih tersaput tanda tanya.

Hujan yang dingin sesekali mengguyur desa-desa terpencil di pegunungan di belahan tenggara Iran. Beberapa tenda darurat tampak menggeletar dalam cahaya malam. Wajah-wajah lusuh, capai, getir, kedinginan, mengitari api unggun di luar tenda dalam hawa yang hampir membeku.

Penduduk menggali lumpur dengan tangan atau alat seadanya. Mereka menyingkirkan reruntuhan mencari sa-nak keluarga yang hilang atau sekadar mengumpulkan harta yang tersisa.

Itulah salah satu pemandangan pada malam pertama seusai gempa dahsyat berkekuatan 6,4 pada skala Richter yang merobohkan kehidupan di Kota Zerand. Di kota yang terentang dalam wilayah Provinsi Kerman ini, dingin tiba-tiba menjadi lebih dingin oleh kehancuran dalam hitungan detik. Puluhan kampung hancur. Rumah-rumah rata tanah. Yang masih berdiri tampak goyah dalam kondisi rusak berat.

Situs Aljazeera.net melaporkan hawa yang basah dan dingin merintangi regu penyelamat bergerak cepat menjangkau daerah-daerah sulit. Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah manakala petugas evakuasi mulai merambah desa-desa paling terpencil di sela-sela pegunungan.

Gempa yang berpusat di Zerand, Provinsi Kerman, sekitar 700 kilometer ke arah tenggara Teheran itu bak menguak luka lama. Pada 26 Desember 2003, Kerman pernah digoyang gempa yang jauh lebih dahsyat. Saat itu korban meninggal diperkirakan mencapai 31 ribu orang.

Kini jumlah yang mati "belum sampai 500 orang", namun penderitaan tetap sama pekatnya. Lebih dari 40 desa dan 30 ribu orang harus menanggung bala akibat gempa. Musibah ini merentang hingga ke wilayah Danuyeh. Daerah ini luluh-lantak—hanya menyisakan makam Sultan Seyed Ibrahim yang gagah, berkubah hijau.

Di Iran, gempa bisa melintas saban hari. Dalam goyangan halus. Atau entakan mahadahsyat yang bisa menggerdamkan kota-kota dengan seketika ke dalam debu. Seperti Zerand. Seperti Danuyeh.

Philipus Parera


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapal AS Temukan Peswat Filipina yang Hilang - 05 Sep 2008 | 11:35 WIB
Tim Khusus Akan Mengecek Kelayakan Gondola - 05 Sep 2008 | 11:24 WIB
Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data