Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Lingkungan

Aman, Ramah, dan Berfaedah

Tragedi Leuwigajah seharusnya tidak perlu terjadi jika sistem pembuangan sampah tak sekadar ditumpuk (open dumping). Sebab, ada sistem sanitary landfill yang aman dan cukup ramah bagi lingkungan.

Teknologi sanitary landfill ini telah diterapkan di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi. Prinsip kerja sistem ini pertama adalah mengisolasi sampah dari lingkungan sekitarnya, dengan cara menimbun sampah yang sudah dipadatkan dengan tanah. Sampah dimasukkan ke bak penampungan raksasa yang telah dilapisi plastik khusus (geo textile), agar air lindi yang dihasilkan sampah organik tidak merembes ke tanah sehingga mencegah kontaminasi air tanah maupun lingkungan sekitarnya.

Selanjutnya, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah setinggi 6 sampai 12 meter dengan tanah secara berlapis-lapis. Setiap lapisan merupakan timbunan sampah setinggi dua meter, lalu di bagian atas dilapisi tanah merah 30 sentimeter. Sehingga keseluruhan terdapat kurang lebih enam lapisan sampah dan tanah. Adapun tebal tanah penutup 60 sentimeter sampai satu meter.

Yang juga penting dilakukan, di antara lapisan-lapisan tersebut dibuat ventilasi, agar gas metan yang dihasilkan fermentasi sampah bisa keluar, sehingga tidak menimbulkan kebakaran dari dalam timbunan sampah.

Ke mana air sampah disalurkan? Limbah cair dari lindi tersebut ditampung dan disalurkan ke instalasi pengolahan air sampah. Di instalasi ini, limbah ditambah oksigen melalui alat penyemprot dan aerator. Limbah dibuang ke kali setelah baku mutunya di bawah ambang batas.

Sebenarnya, ada teknologi yang lebih maju dari sistem sanitary landfill, hanya memang ongkosnya masih cukup mahal. Misalnya, bala pres, fermentor, dan insinerator seperti yang ditawarkan tempat pengolahan sampah terpadu Bojong, Bogor. Dengan teknologi bala pres dari Jerman ini, sampah non-organik dipadatkan dan dikemas dalam plastik film putih yang tahan lama, kedap udara dan tahan air. Bulatan berdiameter 1,2 meter itu ditimbun dalam tanah.

Dengan insinerator (tungku pembakaran), sampah padat dibakar dengan temperatur 5.000 derajat Celsius. Bila pembakaran hanya dengan 900 derajat Celsius, asapnya bisa mengandung zat deoksin yang bersifat karsinogenik. Abu sisa pembakaran dapat dibuat batako atau paving block. Panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.

Adapun sampah organik, seperti sampah rumah tangga, difermentasi dalam fermentor. Nah, ampas fermentasi malah bisa dijadikan pupuk organik.

Tjandra Dewi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Teleskop Antariksa Baru Siap Sisir Jagat Raya - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data