Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Lingkungan

Bakteri Pemicu Ledakan

Bom waktu itu bernama tumpukan sampah. Ketika ribuan sampah organik dibiarkan tanpa sentuhan teknologi pengolahan yang memadai, saat itulah bom waktu mulai berdetak. Ledakan keras yang terjadi beberapa detik sebelum gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Bandung, longsor, Senin dini hari, adalah salah satu bukti teori ini.

Peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Firman L. Syahwan menuturkan, ledakan itu terjadi karena gas metana (CH4) yang dihasilkan sampah bereaksi dengan udara. Saat ton demi ton sampah dibiarkan menggunung dan saluran ventilasi di tumpukan itu tak berfungsi, maka gas metana itu terjebak dalam tumpukan sampah. Volume gas ini kian hari terus meningkat karena ventilasi yang membuang gas ini macet. Ketika timbunan gas dalam volume besar ini bersentuhan dengan udara, terjadilah pijar api ledakan. ?Gas metana yang terisolasi itu meledak seperti balon karena lubang ventilasi tidak berfungsi,? kata Firman.

Gas metana memang punya sifat mudah terbakar, bahkan meledak seperti bom jika terkena oksigen dalam rasio kecil: 14 bagian oksigen berbanding 1 bagian metana. Tak mengherankan, di tempat pembuangan sampah kerap terjadi kebakaran yang tak jelas asal-usulnya. Kejadian ini pernah terjadi di Bali. Begitu pula yang pernah terjadi di Bantar Gebang, Bekasi, September lalu.

Metana adalah gas alam tanpa warna dan bau yang mudah terbakar. Gas berbahaya itu dihasilkan dari proses penguraian sampah organik seperti daun-daunan atau sisa makanan yang terjadi di tempat pembuangan sampah. Biang penguraian itu adalah bakteri pembusuk dan proses itu terjadi di tempat yang nihil oksigen (anaerob).

Dalam teknologi pengolahan sampah yang modern, kata Firman, gas metana itu disedot keluar lewat ventilasi sehingga meminimalkan risiko kebakaran. Di beberapa negara maju, gas metana hasil pengolahan sampah digunakan sebagai sumber energi (biogas), termasuk menghasilkan listrik. Di beberapa kampung di Indonesia pun, teknologi biogas sudah digunakan, misalnya untuk mengubah kotoran sapi menjadi gas penyala tungku dapur. Nah, mengapa Bandung, yang dikenal sebagai gudang ilmuwan, terkesan abai terhadap teknologi ini?

Tjandra Dewi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data