Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXIV/28 Februari - 06 Maret 2005
   
Film

Pencarian Diri Dua Lelaki

Apa yang bisa terjadi dalam sepekan sebelum pernikahan, dan sebuah impian yang kandas? Sideways membuktikan film rileks pun bisa enak ditonton.

SIDEWAYS
Sutradara: Alexander Payne
Skenario: Rex Pickett (novel), Alexander Payne, Jim Taylor
Pemain: Paul Giamatti, Thomas Haden Church, Virginia Madsen, Sandra Oh


SUNGGUH jarang menemukan sebuah film indah yang dikemas dengan rileks, tanpa membebani penonton dengan banyak pertanyaan. Pada Sideways, Anda akan menemukan itu. Baik dari sisi penceritaan, penyutradaraan, maupun akting pemain. Anda cukup duduk dan membiarkan emosi berlari dalam petualangan beberapa hari dua orang sahabat, Miles Raymond (Paul Giamatti) dan Jack (Thomas Haden Church), aktor opera sabun yang akan menikah seminggu lagi.

Untuk merayakan "kebebasan terakhir" Jack sebelum memasuki "penjara" perkawinan, Miles mengajak sahabatnya itu berwisata ke sebuah kebun anggur di California. Dalam perjalanan, mereka mampir ke rumah ibu Miles yang hari itu berulang tahun. Di rumah ini kita tahu, Miles ternyata sudah bercerai tapi tak bisa pindah ke lain hati. Miles, guru bahasa Inggris kelas delapan, sedang berkonsentrasi untuk mengejar mimpinya yang lain: menjadi penulis novel. Tak ada yang lebih mendukung dan menghidupkan harapannya selain Jack.

Tapi ajakan Miles untuk bertualang ditafsirkan lain oleh Jack. Baginya, tur itu bukan hanya gerbang untuk memasuki dunia eksotis anggur melalui kepandaian Miles sang connoisseur, tapi juga peluang untuk "mencicipi" perempuan lain sebelum menikah. Posturnya yang tinggi gagah, dan kemampuan komunikasinya yang lincah, membuat Jack mudah memikat perempuan. Seorang di antaranya bernama Stephanie (Sandra Oh).

Lain lagi dengan Miles. Persentuhan dengan ladang-ladang anggur membuat lelaki pendiam ini kembali terkenang akan mantan istrinya, Victoria, seorang wanita yang piawai menilai anggur. Tanpa kemampuan itu, seorang wanita tak akan bisa menarik perhatian Miles. Sampai suatu saat lelaki ini menyadari bahwa seorang teman lamanya, Stephanie (Virginia Madsen), tidak hanya sering memperhatikannya, tapi juga memiliki minat dan pengetahuan yang setara bila sudah menyangkut anggur. Bisakah Steph menggeser posisi Victoria di hati Miles?

Rileks sekali, bukan? Tapi cobalah lihat gaya penyutradaraan Alexander Payne (Election, About Schmidt). Ia memilih pencahayaan natural dan komposisi gambar konvensional yang justru memperkuat nyawa cerita. Payne tidak tergoda menyajikan gambar-gambar salon yang memompa keindahan, atau sebaliknya menyodorkan citra komikal yang buram.

Ia seperti sedang membesut sebuah "reality show" saja. Sehingga, ada kejenakaan, tapi tak berlebihan. Ada perih yang mengendap, tapi tidak melankolis.

Lalu, tentang akting pemain. Dua tokoh utama Miles dan Jack seperti orang-orang yang kita kenal sehari-sehari. Orang-orang yang memiliki pengalaman buruk saat menjalin hubungan personal, tapi tetap memelihara mimpi untuk menjadi Seseorang (dengan "S" besar). Serta karakter don juan yang hanya melihat perempuan sebagai obyek seksual, tapi begitu khawatir jika perselingkuhannya diketahui pasangannya.

Adapun dua tokoh pendamping yang dimainkan dengan cemerlang oleh Virginia Madsen dan Sandra Oh menjadi perekat yang membuat Sideways seperti mimesis dari kehidupan nyata yang penuh pengaturan kesan dan tumpasnya harapan. Mereka menjadi bagian penting dari dua lelaki yang sedang mencari (atau, lebih tepatnya, menemukan kembali) jatidiri.

Original sound track digubah oleh Rolfe Kent, musisi Skotlandia yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Payne. Meski tak ada komposisinya yang luar biasa menonjol, ia menjadi pelengkap yang pas bagi cita rasa film ini. Film Sideways membuktikan bahwa sebuah film rileks pun bisa enak ditonton—bila semua aspek digarap serius.

Akmal Nasery Basral


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data