Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXIII/21 - 27 Februari 2005
   
Seni Rupa

Sayap-sayap Lie Fhung

Seniman keramik kita yang tinggal di Hong Kong ini berpameran di CP Art Space, Jakarta.

Di dinding pemakaman para Sunan di Sendang Dhuwur, Jawa Timur, banyak relief tentang sayap. Gunung bersayap, gapura bersayap, singa bersayap, gua bersayap. Sayap dalam ragam hias candi-candi kita sesuatu yang kudus. Sayap simbol bagi pelepasan, jiwa yang merdeka dari kurungan badan. Bahkan Suluk Malang Sumirang menggunakan lambang sayap burung-burung sebagai perumpamaan hakikat.

Ternyata sayap yang berkepak, jiwa yang membubung, bukan milik suluk semata. Ia bisa muncul dari sebuah degup dinamis metropolitan. Lihatlah sayap-sayap kecil terbuat dari porselen di CP Art Space. Mungil, sekilas seperti kupu-kupu alit yang bertaburan di udara. Sayap yang tidak ada urusannya sama sekali dengan kematian. Malah ia sebuah perayaan hidup. "Ini metafor pembebasan," tutur Lie Fhung.

Fhung datang ke Jakarta dan berpameran setelah lama tak mengikuti keramaian dunia seni rupa kita. Sayap-sayap itu melambangkan Lie Fhung sebagai warga urban yang mengembara dari kota ke kota. Lulus dari Fakultas Keramik ITB pada 1994, ia memamerkan tugas akhir sarjananya bertema Krisis pada 1995 di Taman Ismail Marzuki. Kemudian ia bekerja sebagai perancang desain di perusahaan boneka E&J Classic Ltd. di Jakarta, yang pabriknya berbasis di Cina. Selama 1998-1999, ia bolak balik Jakarta-Shanghai-Hong Kong.

Tahun 2000, oleh perusahaannya ia ditempatkan di Shanghai. Ia mendesain Teddy Bear, kelinci-kelinci paskah, anjing-anjing dan kucing-kucing bulu. Perusahaannya khusus memproduksi soft toys, boneka-boneka bukan plastik. "Pokoknya, boneka yang empuk-empuk," kenangnya. Produksinya dipasarkan di pertokoan besar seperti Walmart di Amerika. Pada 2001, ia ditarik di Hong Kong—sejak itu ia tinggal di sana.

Hidup dengan mobilitas tinggi membuat dirinya bagai terbang. "Telah lama saya memikirkan sayap." Gagasan itu menggumpal terus. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, langsung kembali ke dunia lamanya: keramik. Dan Flight, judul bagi pamerannya ini, menunjukkan refleksinya tentang betapa mudah ia berpindah-pindah kota.

Bila kita cermati variasi idiom karya-karyanya, semuanya berkisar soal eksplorasi ketegangan antara keinginan sayap tinggal landas dan terhambat. Simak Invisible Cages. Puluhan kubus alit dari kawat digantung senar pancing. Di dalamnya terdapat sayap-sayap putih kecil, masing-masing terbelit benang, seperti tertawan. Dari puluhan kubus, ada kotak yang kosong—menandakan "sudah lepas", sementara yang lain masih terpenjara.

Atau Self Exile, sayap-sayap kecil dalam sebuah botol gelas transparan. Sayap-sayap seolah berkepak tapi terbentur dinding. Soaring, sayap-sayap seperti kuntum-kuntum mekar di pot-pot bunga. Atau Wandering Soul, malaikat dengan sayap terputus.

Terasa semuanya dibuat dengan perasaan sangat intim. Antara sayap satu dan lain berbeda. Masing-masing menunjukkan bahwa ia sangat suka detail. Kerut-merut badan sayap dengan banyak versi. Lie Fhung tak terikat hanya pada materi porselen atau stoneware. Ia mencoba berbagai materi. Sayap-sayapnya ada yang terbuat dari kawat kasa halus. Pemilihan "benang" untuk membelit juga beraneka ragam. Semua se-olah untuk "membayar utang", pekerjaan sebelumnya ditujukan untuk produksi massa.

Perempuan itu, kini 35 tahun, sampai kini tak menguasai bahasa Mandarin. Menganggap dirinya bagian dari diaspora Cina, ia merasa tercerabut dari akar. Sehari-hari ia berbahasa Inggris. Apalagi suaminya adalah warga Irlandia yang mengajar filsafat di Universitas Hong Kong dan sehari-hari di rumah berbahasa Inggris. Ia merasa lebih menjadi seorang warga negara anonim. Karya-karyanya tak berusaha bertolak dari tradisi Cina setempat yang khazanah mitologinya tentu memiliki tradisi ornamentasi sayap yang kaya. "Di Hong Kong saya merasa orang luar." Justru berposisi sebagai "orang asing" itulah ia merasa lebih merdeka.

Tinggal di apartemen, semua dikerjakannya sendiri. Ia membawa lempung ke rumah. Membentuknya sendiri, mengglasir sendiri, terus membakarnya di tungku. Bahkan untuk membuat kotak-kotak, ia tak mengorder tukang. Persentuhan langsung itu tentunya membuat karya-karyanya lebih jujur. "Sebagian kamar apartemen saya, saya bikin studio dengan perlengkapan tungku kecil," katanya.

Sayap-sayap Lie Fung di malam hari bertaburan seperti merjan. Puluhan cahaya kecil berbinar di ruang gelap. Seolah mengembang. Seakan hendak melesat bersama. Entah dari Jakarta, Hong Kong, Shanghai, ke mana lagi….

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data