Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXIII/14 - 20 Februari 2005
   
Luar Negeri

Kini Tiba Giliran Syiah

Perhitungan sementara pemilu menunjukkan dominasi Syiah menguat. Jumlah polisi yang terbunuh kian banyak. Tentara asing masih diperlukan sampai akhir tahun.

DOMINASI politik kaum Sunni di Irak tampaknya akan segera berakhir. Hasil sementara pemilu 30 Januari yang terpampang di Pusat Penghitungan Suara Komisi Pemilihan Umum Irak (ICEI), Kamis pekan lalu, menunjukkan tanda-tanda itu. Pengolahan data yang dilakukan 200 petugas melalui 80 terminal komputer menetapkan hasil sebagai berikut: suara terbanyak diraih Partai Syiah pimpinan Abdul Azis al-Hakim, diikuti Partai Kurdi pimpinan Jalal Talabbani. Posisi ketiga ditempati Partai Syiah Sekuler pimpinan Iyad Alawi. Sementara itu, wakil kubu Sunni, partai yang dipimpin Presiden Ghazi al-Yawar hanya menduduki tempat keempat. ”Ini baru 95 persen dari suara yang sudah dihitung,” ujar Adil al-Lami, Ketua ICEI, kepada Tempo.

Berdasarkan jadwal sebelumnya, hasil pemilu seharusnya diumumkan pada Kamis 10 Februari bertepatan dengan tahun baru Islam, 1 Syawal 1426 Hijriah. Namun, Al-Lami menyatakan pengumuman hasil pemilu akan ditunda selama tiga hari. ”Kami menghitung kembali 300 kotak suara yang dianggap bermasalah,” kata Adil. Kotak-kotak suara yang dianggap bermasalah itu berasal dari daerah utara Irak, Mosul, yang dihuni mayoritas Sunni.

Penundaan pengumuman hasil pemilu itu menimbulkan kekerasan di sejumlah tempat. Di Bagdad, tahun baru 1 Muharam, yang merupakan hari libur nasional, dibuka dengan ledakan bom mobil di kawasan Tahrir Square, sekitar pukul 07.00 pagi. Menurut saksi mata Fadel Khaled, sebuah mobil Opel Omega warna hijau tua terlihat melaju cepat dan mencoba menabrak patroli pasukan Amerika Serikat. Namun, mereka sempat menghindar dan luput dari serangan itu. Opel malah menghajar tiga pejalan kaki sipil dan mereka tewas di tempat.

Dua jam setelah itu, iring-iringan mobil polisi disergap di sebuah ruas jalan antara Bagdad dan Al-Aziziyah, yang terletak di bagian selatan. Lima polisi dikabarkan luka-luka. Insiden terhebat berlangsung di Salman Park, 12 kilometer sebelah tenggara Bagdad, ketika sekelompok polisi Irak yang hendak melakukan razia senjata justru disambut dengan hujan peluru senjata mesin, granat, dan mortir. Pertempuran berlangsung selama dua jam, dengan hasil 14 orang polisi tewas, 65 luka-luka, dan enam polisi hilang. Dari pihak penyerang, empat orang tewas. ”Kami sedang berpatroli dan siap melakukan razia ketika dihadang. Jumlah mereka banyak sekali dengan berbagai jenis senjata,” ujar Waad Jassim, seorang polisi yang terluka, dari tempat tidurnya.

Kekerasan, pengeboman, pembunuhan juga terjadi di kota-kota seperti Ramadi, Kirkuk, Rahmaniyah, dan Mosul. Sebuah rekaman video yang diterima Associated Press Television News menunjukkan segerombolan orang menembak mati empat pria muda yang ditutup matanya. Mereka duduk di lantai dengan kaki bersilangan. Keempat pria muda itu diidentifikasi sebagai polisi Irak. Tanggal yang tertera pada rekaman menunjukkan kejadian itu berlangsung pada 3 Februari.

Di Kota Samarra, yang terletak di sebelah utara Bagdad, terjadi serangan yang menghancurkan pipa gas yang menghubungkan Bagdad dengan Bayji. ”Tapi serangan itu tak sampai merusak pasokan gas untuk ekspor,” ujar Perdana Menteri Iyad Alawi. Di Iskandariyah, sebelah selatan Bagdad, empat warga sipil yang sedang mengendarai mobil juga tewas ditembak.

Serangan demi serangan itu ditengarai dilakukan oleh sekelompok orang dari kaum Sunni yang tak puas dengan jalannya pemilu. Tokoh Al-Qaidah asal Yordania di Irak, Abu Musab al-Zarqawi, jauh sebelum pemilu berlangsung sudah mengeluarkan ancaman untuk menggagalkan pesta demokrasi terbesar setelah jatuhnya Presiden Saddam Hussein itu. Menurut juru bicara Asosiasi Ulama Muslim Sunni Irak, Muhammad Bashar al-Fidhi, pemilu pada 30 Januari itu tidak sah karena kebanyakan orang Sunni Irak tak pergi ke tempat pemungutan suara.

Muhammad Bashar menuntut perlu diadakan rekonsiliasi untuk bisa menampung suara kaum Sunni Irak, yang berjumlah 20 persen dari 26 juta penduduk Irak dan secara politis memegang kekuasaan penting selama pemerintahan Saddam. ”Kami pantas juga mendapat tempat di Dewan Nasional yang beranggotakan 275 orang,” katanya.

JUMAT pagi pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Donald H. Rumsfeld, yang baru saja menghadiri pertemuan Menteri Pertahanan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, di Paris, terbang ke Mosul. Di kota ini ia bertemu dengan sejumlah pemimpin Irak dan komandan pasukan AS, sebelum mengunjungi suatu rumah sakit militer. Juru bicara Rumsfeld, Larry di Rita, menyatakan tujuan kunjungan adalah ”memberi selamat atas jalannya pemilu”.

Rumsfeld benar. Kendati jumlah kekerasan belum tentu berkurang dalam waktu dekat, suasana pasca-pemilu sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan saat pertama kali Tempo memasuki Bagdad pada 28 Januari.

Jalan Saadoun, yang biasanya lengang karena terletak dekat zona hijau—daerah steril tempat Kedutaan Besar Amerika Serikat berada—kini macet luar biasa. Banyak mobil berseliweran. Tempo, yang berputar arah mencoba lewat Jalan Abdul Gassim, juga menemukan kemacetan yang mengular. ”Sejak Saddam Hussein jatuh, kendaraan semakin banyak,” tutur Ahmad Khalil, 41 tahun, sopir taksi yang ditumpangi wartawan mingguan ini.

Toko-toko di sepanjang jalan sudah mulai beroperasi. Di dekat kampus Universitas Teknik Bagdad, deretan toko komputer hampir seluruhnya buka. ”Kami tak takut lagi sekarang. Pemilu sudah lewat. Semua berjalan aman-aman saja,” kata Awab Suaib, pemilik toko komputer Taj. Yang masih sulit didapat adalah bensin. Di beberapa pompa bensin, antrean kendaraan menjulur sampai lima kilometer. ”Itu bisa sampai besok,” ujar Khalil. Menurut pengalamannya, untuk bisa mendapatkan 50 liter bensin harus datang pagi-pagi sekali dan memberikan 4.000 dinar kepada polisi agar bisa menyerobot. ”Walaupun menyogok, tapi masih untung karena harga bensin di pompa bensin 20 dinar per liter. Kalau di luar bisa 500 dinar per liter,” katanya.

Pintu-pintu perbatasan juga mulai dibuka. Bus-bus dan mobil antar-negara yang berbatasan dengan Irak seperti Suriah, Iran, dan Yordania lalu-lalang keluar dan masuk wilayah Irak. Bandar udara Irak sudah bisa dimasuki, meski masih dalam pengawasan ketat. Namun, seluruh perbatasan akan kembali ditutup pada 17-22 Februari.

Tak dijelaskan alasan penutupan, meski diduga berkaitan dengan perayaan hari besar Syiah, Assyura, memperingati wafatnya Imam Hussein setiap tanggal 10 Muharam. Pada peringatan tahun lalu, terjadi sejumlah pengeboman di Bagdad dan Karbala, kota pusat peringatan, yang menewaskan 171 warga sipil.

ISU lain yang banyak diperbincangkan di sudut-sudut Irak adalah tentang berapa lama pasukan asing akan bertahan di negeri mereka. Dilema ini diutarakan dengan tepat oleh Menteri Pertahanan Hazeem Syahlan. ”Di satu sisi kami tak ingin kehadiran pasukan asing, tetapi kehadiran mereka amat dibutuhkan sampai pemerintahan baru terbentuk,” kata Syahlan.

Bagi Presiden Al-Yawar sendiri, keberadaan pasukan asing itu bisa saja diperpanjang hingga akhir tahun ini. ”Untuk sebuah negara yang sedang mengalami kekosongan kekuasaan, keberadaan mereka bisa membantu menciptakan keadaan yang normal,” katanya dalam konferensi pers dengan wartawan asing di gedung Irak Convention Center (Qorsul Mu’tamar). Ia terlihat tak begitu risau, walau perolehan suara Partai Sunni yang dipimpinnya kurang memuaskan. Kalau saja ketenangan Al-Yawar menerima kekalahan dapat dicontoh oleh para pendukungnya, kemenangan Syiah hanya tinggal menunggu waktu.

Ahmad Taufik (Bagdad), Akmal Nasery Basral (Aljazeera, The CS Monitor, BBC)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data