Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXIII/14 - 20 Februari 2005
   
Kesehatan

Menguji Jambu Biji

Jambu biji, angkak, dan daun meniran dipercaya bisa menolong pasien demam berdarah. Ada yang sudah diteliti.

Kini Salbiah, 38 tahun, tak pernah cemas lagi akan ancaman maut demam berdarah. Warga Kelurahan Tugu, Semper, Jakarta Utara, ini memiliki obat rahasia. Jus jambu namanya. Tahun lalu, ia sudah membuktikan minuman ini bisa menyelamatkan adiknya dari serangan demam berdarah.

Saat itu sang adik, Syafei, 27 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, dalam keadaan amat kritis. Demam berdarah dengue membuat kadar trombosit di tubuhnya menurun drastis. Suhu badannya juga tak kunjung turun. Untung, seorang teman membawakan jus jambu biji untuk Syafei. Dan, "Alhamdulillah, setelah minum jus, cepat sekali ia sembuh," kata Salbiah.

Bukan hanya Salbiah yang percaya pada khasiat jambu biji. Dr Suprapto Ma'at, ahli apoteker dari Universitas Airlangga, Surabaya, juga memiliki keyakinan sama. Ia telah meneliti keampuhan ekstrak daun jambu biji untuk meningkatkan kadar trombosit dalam darah sejak 2002. Saat ini penelitiannya memasuki tahap uji klinis di rumah sakit Jember dan Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya. Untuk mengujinya, 120 pasien diberi ekstrak daun jambu biji sebagai suplemen. "Dua bulan lagi pengujian akan selesai," kata Suprapto. Penelitian ini disokong oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Prof Soegeng Sugijanto dari Universitas Airlangga, dan Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya.

Suprapto menilai jambu biji amat berguna bagi kesehatan. Orang bisa memakai daun atau buahnya. Khasiatnya antara lain bisa mencegah kerapuhan pembuluh darah dan kebocoran plasma, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan kadar trombosit dalam darah.

Semua itu sudah dibuktikan oleh Suprapto lewat penelitiannya. Dia menduga komponen tanin dan flavonoid dalam daun jambu biji bisa menghambat pertumbuhan virus dengue. Efek negatifnya? Daun jambu bisa menimbulkan sembelit atau susah buang air besar. Meski begitu, hal ini bisa diatasi dengan teknik ekstraksi yang lebih baik. Dan yang jelas, ekstrak daun jambu biji tidaklah beracun.

Upaya mencari penangkal demam berdarah terus dilakukan karena penyakit ini dikenal mematikan. Orang yang terkena virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini akan mengalami perdarahan di bagian hidung dan lambung. Suhu badan akan naik-turun selama 3-6 hari. Dokter sering terkecoh karena gejalanya kadang mirip tifus.

Nah, setelah itu akan terjadi penurunan kadar trombosit pada penderita. Kadar trombosit yang normal adalah 150 ribu-450 ribu tiap mililiter untuk dewasa. Penderita demam berdarah akan memiliki kadar trombosit yang jauh di bawah itu. Jika dibiarkan, akibatnya akan fatal. Selain melalui transfusi, upaya meningkatkan jumlah trombosit bisa dilakukan dengan memberikan ramuan jambu biji seperti yang dipercaya Salbiah dan Suprapto.

Ada pula orang yang menggunakan angkak untuk menolong pasien demam berdarah. Angkak adalah sejenis rempah-rempah dengan bentuk seperti ketan hitam. Biasanya banyak digunakan dalam masakan Cina untuk membuat masakan ayam atau bebek berwarna merah. Dua sendok teh angkak bisa dimasak dengan dua gelas air hingga tinggal tersisa satu gelas. Seperti juga jus jambu biji, minuman ini dipercaya bisa meningkatkan jumlah trombosit dalam darah. Hanya, belum ada penelitian yang membuktikan hal itu.

Masih ada lagi tanaman tradisional lain yang dianggap berkhasiat menyelamatkan pasien demam berdarah, di antaranya daun meniran, daun pepaya, kunyit asam, dan temulawak. Tapi, lagi-lagi, belum ada penjelasan ilmiah yang bisa meyakinkan kalangan medis.

Itu sebabnya Dr Herdiman T. Pohan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, tidak setuju jika ramuan tradisional semacam itu dijadikan pengganti obat medis. Semua harus diteliti dulu secara ilmiah. Kini Herdiman sendiri, bersama sejumlah rekannya di RSCM, sedang mengembangkan larutan yang komposisi dan penggunaannya mirip oralit. "Ini untuk mengurangi penggunaan infus. Seperti kita ketahui, obat untuk infus kini cukup mahal," katanya.

Utami Widowati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data