Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXIII/14 - 20 Februari 2005
   
Buku

JI di Mata Indonesianis Kultural

Greg Barton mengurai sebuah obyek pengamatan tanpa membiarkan sang obyek berbicara atas nama dirinya.

Indonesia's Struggle
Pengarang: Greg Barton, November 2004
Penerbit: UNSW Press, Australia
Tebal: 118 halaman


Greg Barton selama ini dikenal sebagai indonesianis asal Australia yang dekat dengan NU. Bahkan ia dikenal sangat dekat pada mantan Ketua PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kedekatan itu telah membuahkan sejumlah karya penting dari Barton, yang menjadi pustaka bagi siapa pun yang hendak mencermati perkembangan NU di Indonesia. Bisa dikatakan, Barton adalah salah satu indonesianis yang punya apresiasi mendalam terhadap NU selama ini.

Namun ketertarikan Greg Barton rupanya mengalami perluasan ketika usai peristiwa peledakan bom Bali 12 Oktober 2002. Ia mulai melakukan pengamatan terhadap denyut kebangkitan kelompok Islam radikal di berbagai daerah di Indonesia. Pelacakan terhadap sumber yang kerap menghiasi media massa pun segera dilakukan. Secara intensif, Barton mulai mencermati apa dan bagaimana kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia mutakhir.

Penulisan dimulai dengan mengupas para aktor peledakan bom Bali yang telah ditangkap aparat kepolisian Indonesia, bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP). Pemaparan Barton dalam liku-liku pengejaran para tersangka terbaca sangat mirip dengan liputan yang telah dilakukan media massa Indonesia. Pembaca diajak kembali merekonstruksi proses pengejaran hingga penangkapan terhadap aktor-aktor bom Bali. Pemaparan di bagian pertama dari buku ini jelas merupakan ajakan Barton kepada siapa saja yang membacanya, agar menghadapi kelompok Islam radikal secara serius. Namun, dalam bagian pertama buku ini tetap tak ada yang baru bagi insan Indonesia yang mencermati dinamika kelompok bom Bali. Bahkan peta jaringan melalui penelusuran latar belakang aktor-aktor tersebut, sampai ke aktivitas dan latar belakang pendidikan masing-masing, tentunya sudah pernah disinggung berbagai media.

Hanya, Barton juga berusaha mengaitkan aktivitas para aktor puncak seperti Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar dengan keberadaan Rabithah al-Islamiyah (Muslim World League). Dukungan Ba'asyir dan Sungkar terhadap pemberangkatan para mujahidin Indonesia ke Afganistan, disebut Barton, atas bantuan dari Rabithah. Ketika para mujahidin itu dilatih Abdullah Anshori di Pakistan dan Afganistan itulah, mereka bertemu dengan Abdullah Azzam dan Abdul Rauf Sayyaf, yang merupakan bagian dari jaringan Usamah bin Ladin. Peristiwa itu terjadi pada 1985. Sayangnya, meski Barton seorang akademisi, ia tak menyebut sumber informasi yang terkait dengan jaringan ini.

Layaknya sosok intelektual amatir yang baru melakukan penelitian lapangan, Barton begitu terpesona dengan kisah-kisah aksi terorisme yang dilansir majalah Time, laporan International Crisis Group (ICG), dan hasil interogasi CIA terhadap Umar al-Faruq. Paparannya seputar keterlibatan Umar al-Faruq untuk mendukung pembentukan Laskar Jundullah sangat jelas bukanlah cerita baru bagi masyarakat Indonesia yang selama ini mengikuti perkembangan berita soal itu. Uniknya lagi, pengakuan sepihak Umar al-Faruq yang misterius itu kemudian dijadikan acuan utama untuk membedah kaitan antara MMI, Laskar Jundullah, dan kelompok Islam militan di Indonesia.

Melalui pembacaannya terhadap berbagai peristiwa di Indonesia pasca-Bom Bali Oktober 2002, Barton kemudian sampai pada suatu anggapan. Pertama, kekuatan politis kelompok Islam garis keras patut dicermati kembali, sebab peristiwa yang mengarah ke keterlibatan kelompok ini bukanlah peristiwa biasa. Kedua, terdapat adanya kesamaan?meski kecil?antara Islam di Timur Tengah dan Islam di kawasan Asia Tenggara. Kesamaan ini, tulis Barton, bisa dilihat dari mata rantai jaringan Al-Qaidah yang manifes dalam kelompok Jamaah Islamiyah.

Akan tetapi Barton mengakui bahwa dirinya sangat kesulitan menemukan tulisan yang benar-benar merepresentasikan kelompok Islam garis keras. Sementara itu, kajian-kajian terhadap Islam tetap cenderung menggeneralisir permasalahan. Jarang yang terfokus pada satu permasalahan, yang bisa dikupas tuntas sesuai fakta yang ada.

Lebih menarik lagi, terdapat kenyataan adanya pertentangan dalam menyusun konsepsi tentang Islam itu sendiri. Kelompok pengusung ideologi Islam (islamisme) menilai tidak ada batas tegas antara agama dan politik. Sebaliknya, kelompok muslim "liberal" atau "progresif" lebih menekankan dimensi nilai dan prinsip dari ajaran Islam. Menurut Barton, dua kubu tersebut telah mewarnai jagat gagasan tentang Islam dan masyarakat di Indonesia dewasa ini. Hanya, Barton begitu simpatik dengan menyebut kubu "liberal" yang sejalan dengan pemikiran Barat pasca-pencerahan. Sementara itu, untuk kaum Islam ideologis, menyebut gagasan mereka radikal, dan utopis.

Menariknya, Barton membuat batas tegas antara terorisme dan kelompok Islam radikal. Ditulisnya, terorisme bukanlah ideologi, melainkan alat untuk mencapai tujuan. Karena itu, adopsi terhadap pandangan Islam radikal tidaklah serta-merta disetujuinya cara-cara kekerasan dan terorisme oleh seorang aktivis Islam radikal. Perbedaan ini penting, karena bisa jadi seorang aktivis Islam radikal yang masuk ke jaringan terorisme akan mengubah diri menjadi militan sekaligus pro-kekerasan.

Tatkala menjelaskan akar Islam radikal, Barton tampaknya masih terjebak pada eksistensi gerakan Wahhabi, Neo-Wahhabi, dan Hasan al-Banna. Hal ini jelas sekali dari paparannya di bab kedua. Padahal, kenyataan menunjukkan, banyak aktivis Islam radikal dalam konteks Indonesia justru mulai mengakses ke sumber lain seperti wacana Ibn Qayyim al-Jauzi. Yang disebut terakhir ini merupakan tokoh yang banyak mengilhami gerakan penegakan syariah Islam yang marak belakangan ini.

Kali ini tampaknya Greg Barton mengurai sebuah obyek pengamatan (atau penelitian?) yang sama sekali tak membiarkan sang obyek berbicara atas nama dirinya. Barton terlalu mengumbar paparan pseudo-ilmiah yang disebarkan oleh para aktivis LSM (terutama dari ICG) atau intelektual yang sama sekali tak punya kontak dengan kelompok Islam garis keras. Sebagaimana diketahui, sumber-sumber dan analisis intelijen yang digunakan sebagai bahan penulisan tentang Islam garis keras mutakhir di Indonesia sebenarnya lebih bersifat interpretatif. Para indonesianis asing cenderung tak memberikan ruang untuk berkomunikasi langsung dengan para aktivis atau penggembira Islam garis keras. Dengan kata lain, buku ini baru menyentuh bagian permukaan dari gunung es radikalisme Islam di Indonesia kontemporer.

Rudi Pranata (Direktur Eksekutif Surabaya Readers Club)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data