Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXIII/07 - 13 Februari 2005
   
Televisi

Sehelai Napas Kewajaran

Sebuah serial yang menampilkan gambaran keseharian di pojok Jakarta. Alternatif dari sinetron yang menampilkan sosok ibu tiri jahat dan mertua jahat.

RUMAH KARDUS
Sutradara: Ucik Supra
Skenario: Imam Hendarto, Arlingga Panega
Ide cerita: Leo Lumanto
Pemain: Jourast Jordy, Jordi Onsu, Yati Surachman, Hanna Hasyim


Adakah sehelai napas keseharian dalam sinetron Indonesia? Masih adakah keinginan para sineas dan produser untuk memberikan tontonan yang wajar, yang sederhana, yang menunjukkan bahwa hidup bukan hanya ibu tiri yang jahat, ibu kandung yang bengis, mertua perempuan yang kerjanya hanya melotot dan berupaya membuat anaknya bercerai, bidadari dan setan yang bertengkar mempengaruhi seorang gadis remaja, dan seterusnya?

Mungkin tidak ada. Atau mungkin hanya tinggal sehelai rambut. Demikian pemirsa, sinetron televisi (dan juga acara bincang atau variety show) memang "ditindas" oleh kekuasaan rating. Celakanya, rating ini hanya bergantung pada satu lembaga.

Karena itu, upaya sineas Sentot Sahid dan sutradara Ucik Supra menyeberangi sehelai rambut itu dengan membuat sinetron Rumah Kardus adalah upaya yang nekat, gila, tapi luar biasa!

Dalam sinetron yang ditayangkan SCTV setiap Kamis dan Jumat ini, Anda tak menemukan ibu tiri atau mertua yang sibuk merancang perceraian anak-mantunya, atau ayah yang manipulatif, atau anak-anak SMA yang bersaing rebutan pacar, atau Agnes Monica. Syahdan kamera menyorot pada sebuah kehidupan nun di pojok Jakarta yang kumuh, yang hitam, yang membisikkan: inilah hidup yang sesungguhnya. Inikah bagian dari Jakarta yang dijauhi kamera sinetron.

Tokoh-tokoh sinetron ini pun bukan tokoh yang nyaman dilihat atau dipikirkan. Aji (Jourast Jordy) dan Ipul (Jordi Onsu) adalah sepasang sahabat. Anak-anak pemulung yang hanya bisa memandang anak-anak sekolah dengan mata penuh keinginan yang tak tertahankan. Hidup dengan para ibu yang suaminya entah ke mana, di bawah rumah kardus yang setiap saat terancam oleh gusuran. Romlah (Hanna Hasyim), ibu Aji, mengais kehidupan dengan melacur pada malam hari dan mengomel panjang-pendek pada siang hari. Yu Jum (Yati Surachman), ibu Ipul, senantiasa kehabisan uang dan tetap menolak menjual tubuhnya. Sementara itu, ada lagi tokoh-tokoh tetap di sekitar rumah-rumah kardus yang repot itu. Pak Satpam (Opi Kumis) yang cunihin dan gemar memeras itu, Pak De (Krisno Bosa) yang senantiasa berkisah tentang pengalaman di masa perjuangan.

Kisah ini memang sebuah kepedihan, sebuah realitas yang lebih gampang disimpan dalam laci ingatan dan dikunci selama-lamanya. Apa enaknya menyaksikan seorang ibu yang terpaksa melacur demi kehidupan, atau mencoba menghirup udara di antara empat kardus yang pengap, atau dua pasang mata kanak-kanak yang tak mampu bersekolah dan hanya bisa menatap anak-anak SD yang berlarian di halaman sekolah?

Kedua anak, duo Jordi, bermain bagus. Setelah lama berkecimpung di beberapa sinetron komedi yang tak jelas, Rumah Kardus mengembalikan sinar Yati Surachman. Pemain lain perlu digarap lagi, terutama yang memerankan para pelacur muda.

Sutradara Ucik Supra (dikenal penonton Indonesia dengan film layar lebar Badut-badut Kota) menyajikan ketidaknyamanan itu dengan berani. Dan keberanian itu harus didukung. Meski skenario terkadang agak berkepanjangan?ritmenya bisa dipercepat, Bung?sinetron yang langka seperti ini (seperti halnya juga sinetron spesial kuartet produksi Mira Lesmana pada hari ulang tahun SCTV ke-13) seharusnya didukung bukan hanya oleh penonton, tetapi juga stasiun televisi. Bukankah mereka juga tak ingin dituduh sebagai stasiun yang hanya bisa memasang sinetron yang isinya perempuan jahat yang menjerit-jerit kepada menantunya?

Sekali lagi, sesuatu yang berbeda atau "nekat" bukanlah dosa, melainkan suatu pelayanan bagi penonton Indonesia yang merindukan napas kewajaran dan keseharian dalam televisi Indonesia.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data