Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXIII/07 - 13 Februari 2005
   
Teknologi Informasi

Kebangkitan dari Dunia Mini

Kejayaan teknologi komputer Apple bangkit lagi. Kesuksesannya dipicu oleh kotak musik iPod yang mengalahkan rekor walkman.

Pemimpi itu bernama Steve Jobs. Delapan tahun lalu dia datang ke kantor perusahaan komputer Apple yang murung di bilangan Cupertino, California. Perusahaan itu memang lagi sekarat. Pasar Apple saat itu digerus oleh kehadiran komputer pribadi yang bergandengan tangan dengan peranti lunak Microsoft. "Apple telah ma-ti," begitu kata orang.

Hari itu Jobs datang untuk menyelamatkan bekas perusahaannya. Duduk di ruang rapat direksi, membenamkan badannya di kursi tinggi. Kakinya yang terbungkus celana jins belel diselonjorkan ke atas meja luas nan mengkilap. "Direktur yang tua-tua itu jadi sejarah saja," ujarnya waktu itu.

Itulah hari pertama dia masuk kerja, "Saya benci gedung ini," ujarnya. "Ini simbol bahwa apa yang dilakukan Apple selama ini adalah salah. Ini bukan tempat yang tepat untuk menghasilkan produk-produk gila dan dahsyat."

Beruntung Apple Computer Inc. sekarang dipimpin lagi oleh sosok visioner dari Lembah Silikon ini. Jobs, yang dulunya mahasiswa putus kuliah dan bekerja di perusahaan game, adalah Jobs muda yang selalu punya mimpi besar. Pada 1976, dari garasi rumah dia bersama temannya, Steve Wozniak, mencoba membangun mimpi besarnya menjadi raja komputer.

Mimpi itu sekarang telah menjadi kenyataan. Kejayaan teknologi Apple, meski sempat terseok setelah ditinggal Jobs, kini bangkit kembali. Itu terlihat dalam Macworld Expo, awal Januari silam. Ribuan orang terpana ketika Jobs datang dengan kaus hitam, jins, dan sepatu lari. Rambutnya dicukur plontos ala anak muda.

Bukan penampilan direktur berumur 50 tahun itu yang membuat orang kagum, melainkan dua produk keluaran Apple terbaru, yakni iPod Shuffle dan Mac Mini. iPod Shuffle adalah alat yang bisa memutar 240 lagu MP3 (setara dengan 24 kaset) walau ukurannya cuma segede permen karet. Adapun Mac Mini adalah komputer Macintosh setelapak tangan. Biarpun mini, jangan remehkan kemampuannya. Dia setara dengan komputer be-sar Apple G4, yang banyak dipakai para desainer grafis di Indonesia.

"Fantastis," begitu mereka berbisik-bisik mengagumi desain minimalis dan gaya itu.

Gerard Chua, Country Manager Apple untuk Indonesia, menuturkan kepada Tempo beberapa waktu lalu, tiga minggu setelah iPod Shuffle dan Mac Mini diluncurkan, penjualan kedua produk itu mencapai ratusan ribu unit. "Kami harus bekerja keras untuk memenuhi pesanan." Musim paceklik bagi Apple telah lewat.

Gerbang kebangkitan Ap-ple ini dibuka dengan lahirnya iPod pada 2001. Alat pemutar lagu MP3 (standar simpanan audio yang ukurannya sepersepuluh dari file cakram digital atau CD) ini menggoda para pembeli karena desainnya yang imut-imut serta bentuk tombol sentuhnya yang mewah. Untuk memilih menu atau daftar lagu, cukup dengan sentuhan jari. Ketika ujung jari membuat lingkaran searah jaruh jam, maka penunjuk arah (kursor) akan bergerak turun. Otomatis daftar lagu juga akan bergerak turun. Bila jari diputar melawan arah jarum jam. Kursor akan bergerak naik. Inilah tombol yang disebut Apple Click Wheel. "Inilah tombol paling cerdas yang pernah ada," tulis New York Times.

Fasilitas alat seukuran bungkus rokok itu juga "wah". Dengan hard disk sebesar 20 Giga Byte atau 40 Giga Byte (tergantung tipe) iPod bisa menampung 5.000 hingga 10 ribu lagu dalam format MP3. Jumlah itu se-tara dengan 500 sampai 1.000 kaset.

Kotak musik Ipod inilah yang kemudian menjadi fenomena mengalahkan walkman bikinan Sony. Walkman selama enam tahun, kata Chua, terjual enam juta unit. "iPod selama tiga tahun terjual 10 juta lebih." Dari jumlah itu, 8 juta terjual pada 2004.

Bagi Satyo Nugroho, chief technical officer perusahaan penyedia game online Boleh.com, iPod adalah gaya hidup. Sejak kenal iPod setahun lalu, dia nyaris tak pernah menggunakan pemutar CD di rumah. Tape mobilnya juga dia gudangkan. Padahal, dia terbilang rewel untuk soal peralatan hi-fi, baik di mobil maupun di rumah. Ke mana-mana dia menenteng iPod. Di rumah, alat itu dihubungkan dengan peralatan hi-fi. Di mobil pun demikian.

"Kualitas suaranya luar biasa jernih. Dengan format iPod (yakni AAC 128 kilobyte per second, setara dengan lagu MP3) kuping saya yang rewel ini sudah puas," kata Satyo.

Sebenarnya, iPod ini juga menyediakan fasilitas agar suara yang ditampilkan sebening CD. Caranya adalah dengan menyalin lagu CD ke format Apple Lossless.

Suara alat seharga Rp 2,8 juta itu lebih merdu ketimbang pemutar MP3 merek lain? Menurut PC Magazine, suara iPod ini sebagus MP3 merek Creative atau Samsung, namun produk Apple ini tak dilengkapi radio se-perti kedua merek terakhir.

Pendapat ini dibantah oleh fans berat iPod. Lambok Hutabarat sudah membandingkan iPod dengan Creative secara bersamaan. "Pada volume lirih kualitasnya memang sama, tapi saat dibesarkan volumenya, iPod tan-pa nada sember," ujar desainer grafis lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Kepopuleran iPod membuat Apple mengeluarkan iPod mini, iPod Photo, dan yang paling buncit, iPod Shuffle. Produk terakhir ini diperkirakan bakal laris manis, bahkan bisa dua kali lipat iPod biasa. "Sekarang ini, para pedagang sudah teriak-teriak minta jatah. Padahal, barangnya baru ada sebulan lagi," kata Toto Tanamas, bos PT Pa-dang Digital Indonesia, distributor Apple di Indonesia.

Yang membuat orang kesengsem dengan iPod Shuffle seharga sekitar Rp 1 jutaan itu adalah bentuknya yang mungil dan desain yang cantik dan mungil. Apple memang membuat terobosan ketimbang rivalnya, Samsung, dengan menyajikan alat tanpa layar kristal. Jadi, dengan harga sama, daya tampungnya dua kali Samsung. "Buat apa layar? Saat kita lari-lari, kita tak butuh melihat ke layar, kan?" tanya Chua.

Kesuksesan iPod inilah yang dimanfaatkan Apple dengan meluncurkan Mac Mini yang murah, yakni US$ 499 (di Indonesia dijual sekitar Rp 5,9 juta). Selama ini banyak pengguna iPod adalah pengguna komputer biasa bukan Macintosh. "Mereka pasti tergoda untuk membeli keunikan desain Mac Mini," kata Steve Jobs.

Fenomena itulah yang terjadi pada Satyo. "Saya sedang menimbang-nimbang untuk 'pindah agama' dari Windows dan Linux ke Macintosh," ujar pembuat perangkat lunak lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Burhan Sholihin, Wuragil


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

AirAsia X Tidak Terganggu Harga Minyak - 07 Sep 2008 | 09:55 WIB
Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data