Menghitung Degup di Dunia Sunyi Bermodal komponen elektronik sederhana, mahasiswa Malang menciptakan alat pencari detak. |
Di ujung corong kayu itu, lahir bahagia. Menit-menit ketegangan pupus ketika bidan desa langganan Hasanah itu berkata, "Bayi Anda sehat. Jantungnya normal."
Sebelumnya, Hasanah, istri petani di Parung Kuda, Sukabumi, itu khawatir. Bidan Kurniati memeriksanya hanya 10 menit. Berkali-kali dia memindahkan corong kayu di atas perut buncitnya sebelum akhirnya berhenti di satu titik. Kupingnya menempel rapat di corong kayu itu, dahinya berkerut berkonsentrasi. Dia berhitung dengan menggumam sambil melirik jam tua yang ada di dinding. Sepuluh menit di bilik bidan desa adalah 10 menit yang penuh waswas.
Sebuah ketegangan yang tak perlu andai saja Kurniati punya doppler atau alat yang lebih canggih seperti ultrasonography (USG). Dengan doppler, sekali tempel ke perut ibu hamil, angka detak jantung bayi akan muncul di layar. Tapi Kurniati cuma bidan kampung dengan pasien yang hidup pas-pasan. Alatnya cuma corong kayu dan dipan tua. Doppler?yang harganya Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta untuk yang produk impor?adalah barang mewah. Apalagi USG yang harganya di atas Rp 100 juta.
Absennya doppler ini, alat sebesar walkman, yang membuat Mokhamad Solihul Hadi kecewa. Dua tahun lalu saudaranya pulang de-ngan wajah murung dari Rumah Sakit Lavalette, Malang. Gara-garanya, pendeteksi detak jantung di rumah sakit itu ngadat dan para perawat kelabakan memeriksa jantung sang janin.
Kekecewaan itu mengilhami Solihul. "Mengapa tak ada yang membuat alat pendeteksi jantung bayi yang murah tapi akurat?" demikian tutur mahasiswa Jurusan Elektro Universitas Brawijaya, Malang, yang masih berusia 23 tahun itu. Mulailah ia berburu buku-buku yang mengulas bagaimana menangkap frekuensi detak jantung janin. Sebulan lebih dia bolak-balik masuk ke perpustakaan dan menyambangi warung Internet, tapi hasilnya nol. "Sulit sekali mencari topik itu," katanya.
Beruntung dia berjumpa Dokter Retty Ratnawaty, pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Perempuan inilah yang membukakan pintu bagi Solihul untuk mengenali jagat frekuensi detak jantung bayi. Ternyata, saat jantung bayi mengkerut dan mengembang memompa darah, dia melahirkan suara di frekuensi 12 sampai 20 Hertz. Ini adalah suara dari dunia sunyi bernama rahim perempuan. Suara ini nyaris tak terdengar bagi manusia karena angka ini di bawah kisaran suara yang bisa didengar manusia, yakni 20 hingga 20.000 Hertz. Suara itu berbeda dengan denyut jantung ibu hamil, yang ada di kisaran 40 Hertz.
Sebelum membuat penangkap suara jantung, Solihul harus belajar cara menghitung detak jantung janin. Cara mengetahui apakah jantung sehat atau tidak adalah dengan menghitung jumlah detak selama 15 detik. Jantung bayi bisa disebut normal bila dia berdetak secara teratur 120 sampai 140 kali dalam satu menit.
Rampung belajar teori, Solihul mulai mengumpulkan komponen yang bisa menangkap suara detak jantung di frekuensi rendah. Ia berkeliling ke toko-toko elektronik mencari komponen yang murah meriah, seperti kapasitor dari keramik, resistor dari karbon. Ini adalah komponen elektronik yang biasa dipakai praktek pelajaran elektronika di tingkat SMP.
Ia juga memanfaatkan sebuah mikrofon yang diambil dari stetoskop, yang berguna untuk menangkap suara jantung. Suara dari stetoskop inilah yang kemudian diubah menjadi sinyal listrik yang lemah. Dijamin tak membikin pemakainya kesetrum atau kaget seperti adegan kucing tersengat listrik dalam film kartun. Justru, dengan sinyal listrik, kita akan mampu menyaring dan mengolah data.
Alat ini memang dilengkapi penyaring elektronik. Hanya suara di kisaran frekuensi suara jantung bayi yang diloloskan. Suara yang lolos dari saringan ini kemudian diubah menjadi gelombang persegi, gelombang yang bisa dikenali oleh otak alat ini yang cuma sebesar koin, yakni mikrokontroler.
Ketika gelombang suara yang sudah disaring itu datang, otak alat ini segera melakukan penghitungan. Hasilnya ditampilkan dalam bentuk angka-angka di layar kristal cair (LCD). Saat yang bersamaan, otak alat ini akan memerintahkan peniup suara berbunyi "tiiit". Satu detak, satu "tiiit". Dengan cara ini, bidan atau dokter bisa mendengar tanpa menyorongkan kupingnya ke perut pasien. Dia juga bisa tahu apakah degupan jantung itu teratur atau melompat-lompat.
Dengan komponen-komponen sederhana inilah Solihul bisa menghemat ongkos pembuatan. Dia cuma menghabiskan uang Rp 185 ribu?hampir sepersepuluh harga doppler?untuk membuat alat seukuran tape mobil itu. Dengan alat sederhana buatan Solihul ini, dokter atau bidan akan mudah mengetahui sehat-tidaknya jantung janin. Cukup tempelkan stetoskop ke perut ibu hamil, suara jantung bayi yang sudah diperkuat akan terdengar. Saat yang sama, hitungan detaknya pun akan muncul di layar.
Alat ini sudah diuji di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Dengan didampingi ahli spesialis kandungan rumah sakit setempat, Solihul membandingkan alat ini dengan doppler. "Hasilnya, alat ini sama akuratnya dengan doppler," ujar pembimbing Solihul, dr Retty Ratnawaty. Menurut dr Retty, alat ini sangat cocok untuk puskesmas atau bidan di pedesaan. Selain harganya murah, tak seperti doppler, alat ini tak memerlukan listrik karena baterai radio biasa bisa menghidupkannya.
Saat ini, menurut hitungan Departemen Kesehatan, ada sekitar 80 ribu bidan yang tinggal di pedesaan. Dan dari jumlah itu, banyak yang senasib dengan Kurniati, buka praktek dengan alat ala kadarnya. Doppler versi Solihul bisa membantu menekan angka kematian janin di Indonesia, yang menduduki peringkat satu di kawasan Asia Tenggara.
Temuan Solihul ini juga dipuji Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lembaga itu malah menganugerahinya medali emas dalam "Lomba Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Bidang Teknologi Rekayasa" pada 14 Desember lalu.
Itu penghargaan yang membuatnya sibuk. Telepon genggamnya kini rajin menjerit, tak peduli waktu kuliah atau sedang santai. Itulah yang terjadi tiga pekan silam. Menjelang jam kuliah, seorang dokter meneleponnya. Sebelumnya, seseorang dari pabrik pembuat alat kedokteran ternama juga menghubunginya. Semua ingin memesan alat deteksi detak jantung itu. "Sekarang saya sedang mengurus hak patennya. Setelah itu, baru diperbanyak," katanya. Sebuah temuan pemula yang bisa membuat bisnis berdegup-degup. Bukan itu saja. Ini berarti Solihul adalah bukti: kemiskinan bisa menjadi ibu bagi sebuah temuan baru.
Burhan Sholihin/Bibin Bintariadi (Malang)
Penangkap Detak Jantung dari Malang
Memastikan sehat-tidaknya jantung janin bisa dilakukan dengan pemeriksaan detak jantung saat sang bayi berusia 18 minggu.
- Saat jantung janin berdenyut, dia memancarkan suara berfrekuensi 10 sampai 20 Hertz. Ini di bawah ambang suara normal yang bisa didengar manusia, yakni 20 hingga 20.000 Hertz.
- Suara detak jantung bayi, juga detak jantung ibu, ditangkap dengan stetoskop, lalu diubah menjadi sinyal listrik.
- Sinyal listrik ini disaring. Hanya suara dengan frekuensi 10 hingga 20 Hertz yang diolah. Suara lainnya, termasuk degup jantung ibu yang frekuensinya 40 Hertz, juga akan dibuang.
- Sinyal listrik ini disalurkan ke mikrokontroler, pengolah data mini. Setiap detak jantung akan menghasilkan satu bunyi "tiiit".
- Mikrokontroler lalu menghitung jumlah detak jantung dan hasil hitungannya ditampilkan dalam bentuk angka di layar.
|