Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXIII/07 - 13 Februari 2005
   
Catatan Pinggir

Gempa

500 guncangan gempa masih menyusul selama delapan bulan setelah tsunami melabrak kota dan membunuh hampir 25 persen penduduk Lisbon. Tapi bila bencana di awal November 1755 itu jadi sesuatu yang bersejarah, itu bukan hanya karena ia mengerikan. Kejadian itu juga menandai satu babak baru dalam pandangan hidup Eropa di abad ke-18?sebab sejak saat itu yang sekuler semakin mendesakkan posisinya, peran Gereja guyah, dan orang kian ragu sejauh mana sebenarnya Tuhan punya peran dalam gerak alam dan hidup manusia.

Di hari-hari itu para padri mengatakan: "Berdoalah." Dalam trauma dan berkabung orang pun berlutut. Sudah sampai sekitar 50 ribu mayat bergelimpangan, dan kota yang anggun itu seperti reruntukan?hanya 20 persen bangunan yang masih dapat ditempati?sementara lima hari lamanya kebakaran mengamuk.

Orang berlutut, berdoa, tapi gempa terus mengguncang sejak November 1755 sampai dengan Agustus 1756.

Maka apakah arti doa sebenarnya: sebuah pertautan dengan Tuhan untuk membuat sesuatu terjadi atau tak terjadi, atau sekadar ikhtiar untuk menghibur gundah? Apakah agama sebenarnya: sebuah iman untuk penyelamatan di dunia dan akhirat, atau, seperti kemudian dikatakan Marx, "desah keluh makhluk yang tertindas, hati di dunia yang tak punya hati, semangat dari keadaan yang tanpa semangat?"

Apa pun artinya, pada akhirnya orang Lisbon percaya bahwa bukan ora melainkan labora, bukan dengan berdoa melainkan dengan bekerja?itulah yang membebaskan mereka dari ketakutan. Tapi tak hanya dalam hal itu Lisbon mengalami awal "sekularisasi". "Negara" memperkukuh kehadirannya dalam keadaan krisis yang mencekam itu. Sebab saat itu diperlukan kekuasaan sebuah administrasi yang melihat malapetaka sebagai problem, bukan tanda-tanda gaib?dan problem adalah sesuatu yang terlontar di hadapan manusia untuk diterobos atau dipecahkan. Problem bukanlah misteri yang membuat manusia gemetar.

Di pucuk kekuasaan administrasi yang ingin memecahkan problem itu duduk Marquis de Pombal. Lulusan Universitas Coimbra ini baru sejak berusia 39 tahun menjadi pejabat kerajaan. Mula-mula sebagai diplomat. Tapi kemudian, berkat kemampuan dan kecerdasannya, ia jadi menteri luar negeri. Seorang duta besar Inggris mengingatnya sebagai "satu-satunya orang di seluruh kerajaan yang mampu mengatasi perkara".

Gempa bumi Lisbon membuktikan itu. Dengan cepat Pombal, waktu itu berumur 56, mengatur pembuangan mayat dengan cara yang radikal: ribuan jenazah itu ditumpuk ke dalam sebuah kapal besar yang biasa dipakai buat upacara, dan kapal itu ditenggelamkan di laut. Takut kalau menyinggung kalangan agama, semua dilakukan dengan diam-diam, meskipun Pombal dapat meyakinkan Kardinal Jose Manuel untuk menyetujui langkahnya. Dengan segera pula dijaganya agar berita mingguan di Lisbon tetap terbit, buat mencegah desas-desus. Waktu itu berulang kali tersebar kabar angin bahwa sebuah gempa besar akan terjadi lagi, dan pemerintahan Pombal menuduh, sumbernya adalah kalangan padri Jesuit.

Dengan itu pula sebenarnya sebuah konflik politik berlangsung. Dalam catatan sejarah, tak ada tanda bahwa Pombal seorang yang anti-Gereja. Ia pernah jadi duta besar Portugis untuk Takhta Suci. Ketika di Eropa berjangkit semangat "Pencerahan", Portugal bukan Prancis yang gelisah dengan pikiran-pikiran baru. Negeri Katolik dengan penduduk tiga juta ini punya 200 ribu pastor, ibu kotanya padat berisi 130 gedung keagamaan, termasuk 40 buah gereja, dan meskipun dikecam oleh Paus, Gereja Kerajaan Portugal meneruskan praktek Inkuisisi yang buas: menyiksa atau membakar hidup-hidup siapa saja yang dianggap murtad. Setidaknya di permukaan, tak ada gelombang anti-Katolik di sini.

Tapi bukannya tanpa konflik. Pombal sudah agak lama ikut dalam pergulatan politik untuk menyingkirkan Ordo Jesuit, yang punya pengaruh besar di Portugal sebelum Raja José I bertakhta. Pombal menganggap mereka itulah sumber keterbelakangan. Ilustrasi tentang konflik ini yang paling banyak ditulis ialah ketika ia, di tengah-tengah krisis pasca-tsunami, menghadapi Maladriga.

Padri berumur 66 tahun itu sebuah suara yang berpengaruh. Ia terkenal dengan misinya ke Brasilia untuk mengkristenkan orang-orang pribumi di seberang Atlantik itu. Ia pernah diterima dengan penuh kehormatan oleh Raja Juan V. Setelah raja tua ini mangkat, dan José I mulai berkuasa, nasibnya berubah. Sang raja muda lebih percaya kepada Pombal. Para pejabat Negara umumnya menganggap kaum Jesuit terlampau lepas dari kendali kerajaan, terutama di koloni-koloni di Amerika Latin, di mana para padri dari Ordo itu?seperti tergambar dalam film The Mission?melindungi orang-orang pribumi dari cengkeraman Negara.

Sejauh mana Maladriga menentang posisi penguasa sekuler dalam soal ini tak jelas betul. Ia kemudian hanya dikenal dengan khotbah-khotbahnya yang memaparkan bahwa bencana yang menimpa Lisbon adalah azab bagi sebuah kota yang penuh dosa. Mungkin khotbahnya mengandung serangan kepada sang menteri yang dikenal sebagai tokoh anti-Jesuit. Yang pasti, pada akhirnya Pombal tak membiarkan ia bicara. Kelak, ia berhasil membuat Maladriga dihukum oleh Inkuisisi: sang padri yang alim itu dibakar hidup-hidup di depan umum. Dan kaum Jesuit diusir.

Tak berarti di Portugal berlangsung sekularisasi yang dengan radikal bergerak setelah revolusi Prancis. Tapi sejarawan mencatat bahwa tsunami di Lisbon di abad ke-18 itu adalah sebuah "gempa bumi modern pertama"?sebuah gempa bumi yang membuat orang meletakkan misteri alam dan Tuhan lebih baik dalam sebuah kotak, dan berpaling kepada hidup sebagai sederet problem dengan pemecahan yang tak bisa mutlak.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
Dua Aksi Massa Berpotensi Macetkan Jalan - 07 Sep 2008 | 07:50 WIB
Spanyol Banyak Buang Peluang - 07 Sep 2008 | 07:37 WIB
Arus Lalu Lintas Ibukota Pagi Ini Lancar - 07 Sep 2008 | 07:30 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data