Dari Sejarah yang Mengeluh Buku yang mengulas proses politik dalam pergantian kepemimpinan empat khalifah pertama. Sejarah Islam berawal dari wafatnya Nabi Muhammad. |
The Crisis of Muslim History: Akar-akar Krisis Politik dalam Sejarah Muslim
Penulis: Mahmoud M. Ayoub
Penerjemah: Munir A. Mu'in
Penerbit: Mizan, Bandung, Agustus 2004
Tebal: 261 halaman
Mahmoud Ayoub, pengarang The Crisis of Muslim History: Akar-akar Krisis Politik dalam Sejarah Muslim, menyentuh sesuatu yang ironis. Membahas satu periode yang selalu menjadi rujukan, tapi hampir tak pernah mengalami tinjauan mendalam. The Crisis of Muslim History bercerita panjang tentang masa khulafaur'rasyidin, empat khalifah utama: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Masa-masa peletakan dasar negara Madinah yang dilaksanakan Rasulullah Muhammad SAW sangatlah penting. Tapi Rasul manusia istimewa yang mendapat bimbingan tangan ilahiah, sedangkan para pemimpin sesudah dia lebih manusiawidengan kesanggupan dan ketidakberdayaan manusia. Sepeninggal Nabi Muhammad, umat Islam menghadapi realitas politik yang kompleks: ada suksesi kepemimpinan, ada formasi konsep-konsep kepemimpinan dan masyarakatdua hal yang dibahas dalam The Crisis of Muslim History.
Harus diakui, buku itu bukan buku pertama yang mengkaji periode empat khalifah. Sebelumnya, sudah ada karya Profesor Madelung, The Succession to Muhammad: A Study of Early Caliphate. Namun The Crisis of Muslim History menempuh pendekatan yang tak banyak dilakukan studi-studi sebelumnya. Ayoub memberikan ruang yang sangat luas kepada para pengamat, intelektual, pencatat sejarah independen yang kurun hidupnya tak terlalu jauh dari periode yang menentukan itu.
Tak pelak, inilah buku yangdengan sumber kepustakaan yang primersecara serius membeberkan berbagai kisah sedih tentang komitmen dan konflik dalam kehidupan umat Islam saat itu.
Ada uraian menarik Muhammad ibn Jarir al-Thabari pada tahun 923. Laporan yang menunjukkan keraguan Umar atas prosedur pengangkatan Abu Bakar. Juga cetusan-cetusan keinginan agar orang-orang yang berasal dari Mekah mendapat hak-hak istimewa (hlm. 49). Kehidupan politik sepeninggal Nabi Muhammad banyak diwarnai pelbagai usaha memperjuangkan kepentingan tiga kelompok besar: kaum muhajirin, yang ikut hijrah dari Mekah ke Medinah bersama Nabi; kaum Anshar, penduduk Medinah, dan orang-orang Mekah yang tak ikut hijrah (orang Quraisy).
Ya, Ayoub terus mengumpulkan aneka gambaran: Kaum Anshar lebih menyukai Ali, sedangkan kaum muhajirin Quraisy lebih menyukai Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin Islam pada saat itu. Perbedaan dan perdebatan panjang yang lalu berakhir dengan permintaan agar Ali mundur. Sesuatu yangdi mata Ayoubmerupakan bentuk "pemaksaan" terhadap hak politik Ali.
Seperti ditunjukkan dalam pengantarnya, Azyumardi Azra secara tepat memperlihatkan bahwa buku ini mendekati sejarah Islam dengan orientasi "pusat"yang biasanya bertujuan menakar kadar kemurnian ideologi. Namun kita bisa merasakan keberhasilan Ayoub menulis dengan pendekatan total history, sejarah yang tak mencoba memberikan gambaran lebih utuh tentang peristiwa-peristiwa yang dikaji. Penulisan sejarah yang menganggap sepi pendapat-pendapat di luar mainstream, di luar buku teks. Seperti pendekatan Ibnu Khaldun dalam karyanya yang istimewa, Al-Muqaddimah.
Banyak yang ditawarkan Ayoub ketika membahas periode kepemimpinan empat khalifah yang penuh keteladanan itu, periode yang juga merupakan awal kelahiran mazhab-mazhab besar itu. Ayoub, pembimbing beberapa mahasiswa pascasarjana asal Indonesiatermasuk Dr. Alwi Shihabdi Universitas Temple, memang telah menyodorkan sesuatu yang kontemplatif, sekaligus segar.
Happy Susanto (Mahasiswa pascasarjana Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta)
|