Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Televisi

Demam Dora di Mal Jakarta

Tahun 2005 memperkenalkan kepanikan baru bagi kocek orang tua: Dora dan SpongeBob. Sementara di masa lalu para orang tua biasa diganggu rengekan anak-anak yang meminta dibelikan merchandise tokoh-tokoh film Walt Disney melalui McDonalds, kini jika Anda sedang bokek, ya, jauhilah mal-mal dulu. Baik itu ITC Mangga Dua, Kuningan, Cempaka Mas, maupun mal-mal besar seperti Blok M atau Taman Anggrek kini memajang aneka tas, boneka, T-shirt, daster, hingga selimut bergambar Dora the Explorer dan SpongeBob SquarePants. Inilah booming merchandise menyusul melejitnya film Dora the Explorer dan SpongeBob SquarePants produksi Nickelodeon, yang diputar di Lativi sejak Februari tahun lalu.

Seperti curah hujan yang deras, aneka barang bergambar dua karakter ini tengah membanjir. Harganya bermacam-macam. Kita bisa menemukan boneka Dora seharga Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Tas dari bahan plastik seharga Rp 10 ribu bisa ditemukan di counter berbagai mal di Jakarta. Tempat minuman dan selimut dengan gambar Dora ini biasa dibarengi dengan karakter Boots, monyet yang menemaninya bertualang.

Merchandise SpongeBob juga ikut membanjir. Bahkan sebuah lapak di Blok M mengaku kehabisan stok selimut SpongeBob. "Belum datang dari pabriknya di Bandung. Soalnya, pabrik mendahulukan untuk ekspor," kata penjual tersebut yang enggan disebut namanya. Boneka SpongeBob harganya lebih mahal. Maklum, biasanya spons kuning ini dibentuk dalam ukuran lebih besar daripada boneka Dora. Bentuknya yang kotak juga kerap dirancang multifungsi untuk tas ransel.

Setiap kali Lativi menayangkan film Dora dan SpongeBob, stasiun televisi itu juga menampilkan beberapa produk mainan kedua karakter itu bersama presenter yang membuka acara. "Kami khusus menampilkan (produk) asli," kata Celerina, Manajer Promosi Lativi. Menurut Celerina, harga produk asli sangat jauh selisihnya dengan produk tiruan. Boneka Dora dari kain berharga Rp 119 ribu, dan produk Mattel Mattel (produsen Barbie) menjualnya dengan harga Rp 129 ribu hingga Rp 500 ribu. Boneka asli SpongeBob dihargai Rp 99 ribu hingga Rp 350 ribu

Produk tiruan SpongeBob mulai membanjir ketika program It's SpongeBob Time ditayangkan mulai Desember tahun lalu. Program ini menempatkan seorang presenter dewasa dan beberapa anak kecil yang membuka acara pemutaran SpongeBob dengan membahas karakter kartun ini.

Dari sisi desain, bisa dikenali bahwa produk tiruan lazimnya menggunakan teknik sablon, stiker tempel, dan jahit aplikasi di atas T-shirt, selimut, bed cover, atau dompet. Pada pembuatan boneka yang dijual di lapak-lapak, tampak tubuh kuning Bob menjadi biru. Celana cokelatnya juga menjadi hitam. Beberapa bahkan terlihat tak sama dengan karakternya. Hanya terlihat seorang gadis kecil berambut pendek dan mengenakan tas ransel dengan wajah yang berbeda.

Produk asli Dora lebih mudah ditemukan ketimbang SpongeBob. Kita bisa menemukannya di counter seperti Familia, Gramedia, atau Toy City & KidzStation di mal-mal besar. Di tempat-tempat itulah pembeli bisa menemukan berbagai produk Dora. "Kami baru saja memperoleh lisensinya November lalu, dan hanya memegang izin pembuatan stationary dan barang-barang plastik seperti tempat minuman dan makanan," ujar Fadjar Indra, Direktur Utama PT Trisinar Indotama, pemegang lisensi Dora.

Sebagai pemegang lisensi, PT Trisinar berhak menggunakan desain dan gambar yang diberikan Viacom International Inc. sebagai pemegang lisensi internasional, dalam bentuk cakram. "Dari CD itu, kami mengambil gambarnya dan menempatkannya di produk-produk kami. Sementara untuk bahan produknya, kami dibebaskan," kata Fadjar. Mereka menjamin keaslian produk mereka dengan beberapa ciri. Ada legal marking bertuliskan 2004 Viacom International Inc., hang-tag bertuliskan underlicense: technoplast, dan gambar Dora yang lebih tajam dan tidak memakai stiker. Meski baru November tahun lalu, Trisinar sudah menjual 80 ribu buah dengan nilai nominal 600 juta rupiah.

Oke, ibu-ibu, bapak-bapak, siap tahan napas saat melangkah masuk mal-mal....

F. Dewi Ria Utari


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data