Hari-hari Bersama Dora dan Spons Ada petualang cilik dari Spanyol dan kehidupan bawah laut sebuah spons kuning. Lucu, mendidik, dan menghibur. |
Tiada hari tanpa Dora. Tiada hari tanpa kisah penjelajahan sang bocah cilik berponi dengan tas ranselnya bersama monyet kecil Boots. Sarapan dan mandi? Tunggu dulu. Ikuti jagat kami, anak-anak usia pra-sekolah. Mari ikuti petualangan si gadis kecil ke dalam hutan. Yang lucu, yang seru, terkadang mengharukan, sekaligus belajar.
Sorry, Mum and Dad; maaf, Pak, Bu, Uwak, dan semuanya. Inilah kartun Dora, the Explorer, serial yang ditayangkan stasiun Lativi yang sedang "hip" alias tengah digemari anak-anak usia dua hingga enam tahun. Selama setengah jam, penonton akan diajak mengikuti petualangannya ke berbagai tempat. Lihat itu Leila Fauzia, 5 tahun, dan adiknya Tiara Mutmaina, 4 tahun, yang selalu mengawali hari dengan menonton serial ini setiap pukul tujuh pagi dan tiga sore. Jadwal itu tak mengganggu sekolah mereka. Maklum, sebagai siswa taman kanak-kanak besar dan kecil, mereka baru masuk sekolah pukul setengah delapan pagi dan pulang sebelum tengah hari.
Leila dan Tiara tak sekadar mengikuti aksi petualangan Dora. Mereka juga mengoleksi barang-barang yang memajang figur Dora dan teman-temannya. Macam-macam jenisnya. Dari selimut, pakaian, boneka, dan bantal. "Bahkan mereka juga memasang poster Dora di kamar kerja saya," ujar Mia Amalia, ibu Leila dan Tiara, seorang penulis skenario.
Toh ini masih belum seberapa dibandingkan dengan Tania Adhikirana. Siswi kelas 1 SD Tadika Puri, Pamulang, ini sampai merengek ingin rambutnya dipotong mirip karakter Dora. "Kan mataku udah belok dan kulitku udah hitam kayak Dora," ujarnya. Sayangnya, niat gadis cilik ini belum kesampaian karena ayahnya masih belum rela rambut putri sulungnya ini dipotong pendek model bob (sebatas leher dengan ujung rata dan berponi). Namun, jika kita menyempatkan diri singgah di mal-mal pada akhir minggu, bisa dipastikan banyak anak-anak perempuan cilik yang kini berambut ala Dora.
Pengaruh Dora memang hebat terhadap anak-anak pra-sekolah dan taman kanak-kanak. Jika mau menciutkan diri dan ikut tenggelam dalam jagat mereka, Anda akan memahami apa yang disebut "petualangan" bagi anak-anak pra-sekolah. Dora, si kecil berponi, adalah wakil dari psikologi anak-anak usia 2-6 tahun yang menganggap kebingungan arah jalan sebagai sebuah "bahaya". Ketika Dora tersesat di hutan dan harus menentukan arah, bayangkan perasaan khalayak penontonnya yang masih brindil itu. Dan oh, ketika Dora dibuntuti seekor serigala, apa yang kemudian dilakukan sang gadis cilik? Dia menyuruh sang serigala pergi, dan binatang galak itu dengan sopan langsung menyingkir.
Selain mengikuti petualangan gadis kecil dengan monyetnya, kartun ini mengajak penonton mempelajari kosakata, mengenal tempat-tempat baru di luar rumah, dan belajar menyelesaikan masalah bersama Dora. Di AS dan negara-negara Barat yang menayangkan serial Dora, film ini bahkan dijadikan referensi alternatif untuk mengajak anak-anak belajar bahasa Spanyol, bahasa kedua di Amerika. Beberapa kata Spanyol sering disisipkan di antara bahasa pengantar, termasuk untuk versi bahasa Indonesia. Sudah lazim kita mendengar sapaan Dora saat bertemu Boots, "Holas, Boots!" ujarnya. Juga kata-kata seperti "attencions" dan "donde estas?".
Dari sisi animasi, sebetulnya Dora tak terlalu istimewa. Garis gambar tokoh-tokohnya sangat sederhana dan gerak geriknya lamban. Di beberapa bagian, gerakan Dora dan Boots bahkan berhenti. Beberapa adegan diimbuhi tanda panah yang berkedip beberapa detik. Biasanya panah ini untuk menentukan arah tujuan.
Penataan semacam ini memang disengaja. Bocah-bocah cilik diajak berinteraksi dengan cerita. Gerakan lamban Dora seolah menuntun penontonnya ikut bertualang. Film ini juga mengajarkan kepada penontonnya untuk berempati. Pada salah satu episode, Dora bertanya pada Boots. "Apakah kamu tahu ke mana arah laut, Boots?" Ini episode yang mengisahkan Dora dan Boots menyelamatkan ikan merah kecil untuk kembali ke laut bertemu dengan keluarganya. Saat itulah panah besar muncul dan seperti tanda cursor yang berkedip-kedip menunjuk arah laut. Adegan ini akan memancing reaksi anak untuk ikut menunjukkan arah yang harus dituju Dora, sekaligus melatih mereka memecahkan sebuah masalah.
Di setiap akhir film, Dora akan mengajukan pertanyaan. "Bagian ma-nakah yang kalian sukai tadi?" Setelah itu, Dora dan Boots tampak diam sejenak seolah memberi kesempatan anak-anak menyatakan pendapatnya. Selain mencoba berinteraksi, bagian ini juga membantu anak untuk melatih ingatan.
Dora the Explorer bukanlah satu-satunya tontonan yang digandrungi anak-anak. Produk Nickelodeon lainnya yang laris adalah film SpongeBob SquarePants, yang diputar tiga kali sehari. Diciptakan Stephen Hillenburg, film ini mengisahkan Bob, setitik busa berwarna kuning terang yang hidup di dalam laut. Ia tinggal di "kota" dasar laut bernama Bikini Bottom. Di sana Bob berdiam di sebuah rumah berbentuk nanas ditemani seekor siput piaraannya bernama Gary.
Laiknya sebuah kota, penduduknya harus bekerja untuk menghidupi dirinya. Begitu pula Bob. Ia menjadi koki di sebuah restoran burger KrustyKrab milik seekor kepiting bernama Mr. Krabs. Rekan kerjanya seekor cumi-cumi bernama Squidward, yang bertetangga dengannya. Selain Squidward, Bob juga bertetangga dengan Patrick, bintang laut yang menjadi karib setianya. Masih ada tokoh tetap lainnya: Sandy Cheeks, seekor tupai perempuan.
Kehidupan di bawah laut ini tak jauh berbeda dengan kompleksitas dunia manusia. Bob mewakili karakter manusia positif yang naif dan kekanak-kanakan. Ia memang masih kecil, namun tak mau disapa "kid". Motonya satu, now it's time to feel the wrath of our mustaches. Ia mengabdi pada pekerjaannya dan tak peduli digaji berapa oleh Mr. Krabs, asal tetap bisa memasak burger di dapur. Bahkan, dalam sebuah episode, ia tak mempermasalahkan dikenakan pajak atas tindakan-tindakan yang tak perlu. Misalnya, membetulkan dasi merahnya yang dianggap Mr. Krabs membuang waktu.
Sifat naif Bob terlihat dari fisiknya. Dengan proporsi besar untuk tubuh bagian atas, Bob memiliki wajah yang terus tersenyum. Matanya bulat besar dengan titik tepat di tengah, seolah bisa meledak setiap saat, mewakili sifatnya yang reaktif dan mudah histeris. Mulutnya kerap terbuka memperlihatkan dua giginya. Suaranya cempreng.
Karakter lainnya tak kalah manusiawi. Sebagai kasir, Squidward digambarkan sangat pelit, sinis, dan anti-mengekspresikan perasaannya. Mr. Krabs ramah, kebapakan, namun manipulatif. Patrick setia, lugu, dan bodoh. Yang sedikit pintar adalah Sandy Cheeks?meski ia juga memiliki ketertarikan tak lazim terhadap penghuni laut.
Para penghuni tetap ini muncul di setiap episode dengan masalah sehari-hari. Namun, karena dilakoni sejumlah karakter yang unik, kartun ini menjadi terlihat lucu. Bayangkan saja ketika Squidward mengajak SpongeBob mo-gok kerja dan demo. SpongeBob langsung bernyanyi senang. "We want to strike.., we want to strike?." Tapi, saat ditanya apakah dia mengerti arti strike (mogok), dengan polos dia berkata tidak. Penggemar tokoh spons kuning ini tak cuma anak-anak. Orang dewasa juga ikut tergila-gila. Salah satunya Erik Sasono, penulis skenario film Brownies, yang mengaku tertarik dengan SpongeBob karena karakternya unik dan lucu. "Biasanya karakter kartun adalah hewan, manusia, atau mainan. Ini kok dari spons. Gaya animasinya juga beda, tidak harus halus dan cakep," ujar Erik. Kemunculan penggemar dewasa inilah yang mendorong stasiun Lativi menayangkan SpongeBob pada jam tayang primetime.
Karena serial ini laris di negara Barat, AS membuat versi layar lebar berjudul The SpongeBob SquarePants. Singapura, yang akan mengadakan premiere film layar lebarnya secara eksklusif di Pulau Sentosa, telah menyulap pulau itu menjadi Bikini Bottom, tempat tinggal SpongeBob dan teman-temannya. Berbagai lomba diadakan, di antaranya kompetisi Bikini Bottom Sand Sculpture, yang pemenangnya akan diundang ke pembukaan acara Nickelodeon Family Suite di Orlando, Florida.
Menjelang premiere di Singapura ini, Lativi ikutan sibuk dengan menyelenggarakan kompetisi selama Januari yang hadiahnya menonton premiere SpongeBob Movie di Singapura. "Pemenangnya satu keluarga yang sudah terpilih dan akan berangkat ke Singapura pada 28 Januari nanti," ujar Celerina, Manajer Promosi Lativi. Keluarga Bastian Abi Yusuf Saleh?bocah berusia sembilan tahun?berhasil mengalahkan sekitar 1.000 peserta penggemar serial ini.
Jadi, kids, daripada nonton sinetron yang isinya ibu tiri yang jahat atau ibu kandung yang disiksa, tampaknya Dora atau SpongeBob adalah alternatif yang jauh lebih sehat.
F. Dewi Ria Utari
|