Lamno, Jam Malam dan Baju Koyak Sukarelawan Tempo mendatangi Lamno, wilayah yang hanya bisa dijangkau lewat udara dan laut. Sempat bersitegang dengan TNI. |
Senja jatuh di perairan Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Kapal nelayan berkapasitas 20 ton yang kami tumpangi merapat di dermaga darurat, Senin dua pekan lalu. Enam setengah jam perjalanan diayun laut yang brutal, dari Banda Aceh ke Lamno, berakhir sudah.
Tak jauh dari tempat kapal kami merapat, tampak bangkai jembatan beton. Jembatan penghubung Lamno-Meulaboh, kota terbesar kedua di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), itu tinggal puing. Bau anyir mayat sayup-sayup tertiup angin di wilayah yang baru dijangkau bantuan pada hari kelima setelah bencana ini.
Selepas mata memandang, yang tampak cuma remah bangunan. Perkampungan, tempat puluhan ribu anak manusia pernah bertumbuh dan menuliskan sejarah, rata tanah. Empat pekan lalu, ada 48 desa yang dihuni 23 ribu penduduk di kawasan pesisir berpagar Gunung Grotee ini. Sekarang yang tinggal hanyalah 26 desa. Lainnya telah binasa bersama sekitar 8.000 penghuninya. Kaget, miris muncul dari 20 teman sekapal, gabungan relawan dari Tempo, PT LNG Arun, Jaringan Relawan Sosial (JRS), dan Flora Fauna International (FFI).
Belum sempat habis takjub menyaksikan kuasa alam, kami dikagetkan sapaan seorang tentara. "Pak, Bu, mari segera kami antar ke kantor Kecamatan Lamno. Mobil sudah menunggu," katanya.
Kami tak segera menuruti permintaan tentara. Sudri, dari JRS, telah menegaskan bahwa akan ada Tim Relawan Tempo?yang tiba sehari sebelumnya?yang segera menjemput. Namun, para tentara tetap berkeras mengantar kami ke kantor kecamatan. Segan berpanjang kata, apalagi kondisi badan sedang lunglai setelah diguncang laut, kami menuju dua kendaraan bak terbuka yang disediakan tentara.
Tapi, ada persoalan mesti dituntaskan. Bagaimana nasib 20 ton logistik bantuan PT Arun dan JRS yang kami bawa dari Banda Aceh? Apakah barang-barang yang amat dibutuhkan pengungsi ini dibiarkan teronggok di dermaga? "Tenang. Semua barang ini akan dikumpulkan di gudang Koramil. Kami yang akan mendistribusikan kepada pengungsi," kata salah seorang tentara.
Penjelasan itu merisaukan. Sejak awal kami sudah bertekad untuk menyalurkan barang bantuan dengan tangan sendiri. Menurut pantauan kami, Koramil membagikan logistik dengan sistem kupon. Para kepala keluarga (KK) yang mendapat kupon berkumpul di tempat Koramil membagikan bantuan. Sistem yang mungkin saja kurang sensitif karena banyak pengungsi?total ada 15 ribu pengungsi di Lamno?yang tidak melapor. Banyak pula di antara mereka yang tidak berada di pos pengungsian, tetapi menumpang di rumah sanak-kerabat yang selamat.
Sebuah pesan dari Muhammad, 42 tahun, pengungsi Lamno yang kami jumpai di Banda Aceh, menguatkan tekad kami untuk melakukan distribusi sendiri. "Agar setiap lembar biskuit bermanfaat, agar setiap tetes air diterima yang berhak, sebaiknya Anda salurkan sendiri barang bantuan," begitu kata Muhammad.
Lagi pula, bila hanya meminjam tangan pasukan Koramil untuk distribusi, untuk apalah guna kami bersusah-susah terombang-ambing di lautan? Bukankah lebih mudah mengikuti pola dropping ala helikopter tentara asing yang saban hari singgah di Lamno? Cukup terbang dan jatuhkan bantuan dari udara, lalu melesat terbang lagi. Tak perlu repot memastikan barang bantuan itu sampai di tangan penduduk.
Taryono Darusman, 31 tahun, Ketua Tim Relawan Tempo, yang datang sehari sebelumnya, menghampiri dan menenangkan kegelisahan kami. "Kita lakukan negosiasi nanti saja," katanya berbisik. Taryono menambahkan, tim kami memang tidak punya gudang yang memadai. Mau tak mau, 20 ton logistik harus segera dibongkar-muat dan dititipkan di gudang Koramil.
Esok harinya, perundingan dilanjutkan. Beberapa kawan, yakni Tajudin, penduduk lokal, Romo Sudri, Amirudin dan Faisal (PT Arun), Ilham Sinambela (FFI), dan Taryono menjumpai para petinggi militer di kawasan Lamno. Letnan Ramli Saragih, Komandan Koramil, meminta kami mengerti bahwa koordinasi sepenuhnya dipegang Koramil. Toh, ia menambahkan, sejak hari pertama tsunami, pasukan Koramil telah mengerahkan seluruh persediaan logistiknya untuk membantu masyarakat.
Tarik-ulur "koordinasi" ini akhirnya menghasilkan kesepakatan. Koramil menyalurkan sebagian besar beras yang kami bawa, 9 ton, dengan catatan tim kami terlibat dalam proses distribusi. Lalu, satu dari empat drum minyak tanah diminta oleh satuan Polisi Militer (POM). Barulah sisanya, 80 karung beras, beberapa karung gula dan garam, beberapa kaleng minyak goreng, obat-obatan, selimut bayi, makanan siap saji, susu balita, satu drum solar, dan tiga drum minyak tanah, bisa dengan leluasa kami salurkan.
Ada persoalan lain. Demi keamanan, Koramil melarang relawan?terutama warga asing?menjelajah wilayah melampaui radius 3 kilometer dari pusat kecamatan. Kami harus mematuhi aturan ini karena di dalam tim terdapat Eric Grigorian, fotografer Amerika pemenang World Press Photo 2003.
Sebagai catatan, hari-hari itu di Lamno diterapkan jam malam. Lewat pukul 22.00, semua orang dilarang keluar rumah atau tenda pengungsian. "Khawatir ketemu orang gunung," kata M. Husein, Kepala Kantor Pos Lamno. Orang gunung adalah sebutan masyarakat bagi anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Beberapa kali kami juga mendengar suara letusan senjata api di kejauhan, tapi peristiwa apa yang sebenarnya terjadi tak bisa dikonfirmasi. "Ada kontak senjata," begitu komentar singkat para tentara tanpa mau menjelaskan lebih jauh.
Sebenarnya, aturan radius 3 km ini berdampak kurang nyaman. Hampir seratus persen bantuan, terutama tim medis dari Humanity First, Medicine San Frontiers, PMI, tim dokter dari Pakistan, semuanya tumplek-blek di tengah Kota Lamno. Monggo, silakan, Bapak-Ibu pengungsi di perbukitan datang mencari bantuan ke pusat kota.
Padahal, kondisi pengungsi di perbukitan jauh dari nyaman. Tak sedikit di antara mereka yang telah berjalan kaki tiga, lima, bahkan delapan hari, siang-malam tanpa bekal, demi menyelamatkan diri. Fisik mereka tak lagi kuat untuk mencari bantuan di pusat Lamno. Mestinya, mereka yang kami datangi langsung.
Syukurlah, kami mendapat dukungan dari Batalion Kesehatan TNI-Angkatan Darat untuk melewati radius 3 km. "Silakan. Kalau perlu, anak buah saya yang kawal," kata Mayor Dr Malissa, Komandan Batalion Kesehatan TNI-AD, yang ditugasi di Lamno. Berbekal dukungan ini kami mendistribusikan bantuan sampai ke Desa Lambaro dan Desa Meudeun, 6 dan 12 kilometer dari pusat Lamno. Pelayanan medis juga kami lakukan di dua tempat ini dengan didukung dr Christy Sandy dari JRS Sumatera Utara.
Lambaro dan Meudeun, perbukitan yang indah dengan kisah sedih berlapis-lapis. Tentang Fatimah Rum, 60 tahun, yang tak tahu lagi kabar lima anak dan suaminya. Tentang pesantren yang kehilangan ratusan santri. Tentang Teuku Ridwan, 14 tahun, yang punggungnya luka tercabik-cabik setelah empat jam terbawa air tsunami. Juga tentang puluhan nyawa yang tak tertolong karena paru-paru mereka terlalu lama terisi air laut.
Lambaro dan Meudeun juga menjadi saksi lemahnya koordinasi. Sampai pekan ketiga setelah tsunami, sebagian pengungsi di kedua desa ini belum mendapat bantuan memadai. "Anak-anak banyak yang menunjukkan gejala malnutrisi," kata Christy Sandy.
Kasus diare, menurut Christy, juga meluas lantaran pengungsi terlalu sering menyantap mi instan mentah. Tak tersedia minyak tanah untuk memasak, kayu bakar pun basah terendam air. Para perempuan saling meminjamkan baju, termasuk pakaian dalam. Akibatnya, gatal-gatal lantaran infeksi jamur menerjang.
Selasa, hari ke-16 setelah tsunami, kami menyaksikan truk Koramil berkeliling ke pos pengungsian membagikan karung berisi baju yang telah dua pekan lebih tersimpan di gudang Koramil. Sayang, ketika karung dibuka, banyak pakaian yang basah dan koyak di sana-sini. Seorang lelaki memandang tumpukan baju yang sama sekali tak pantas pakai itu. Katanya lirih, "Kalau saja pakaian ini bisa dimanfaatkan."
Mardiyah Chamim (Lamno)
|