Surat itu Tanggung Jawab Saya |
Karier birokrat bisa terhenti dalam sesaat. Prijono Tjiptoherijanto, 52 tahun, Sekretaris Wakil Presiden, mendadak mengundurkan diri, Rabu pekan lalu. Sehari sebelumnya, surat arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada para menteri yang ditandatanganinya dipersoalkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Sesaat sebelum mundur, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini masih menyiapkan konsep penyatuan kesekretariatan presiden dan wakil presiden. "Konsep itu terhenti karena interupsi," kata ayah dua anak ini. Kamis malam pekan lalu, Prijono menerima wartawan Tempo Arif Zulkifli, Agung Rulianto, Widiarsi Agustina, dan fotografer Santirta untuk menjelaskan duduk persoalannya.
Mengapa Anda membuat surat sekontroversial itu?
Surat itu kan semacam resume dari lampiran undang-undang yang diminta Pak Kalla (Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Prijono menjelaskan kedudukan pemerintah dan lembaga tinggi negara seperti yang diatur dalam UUD 1945 dan UU No. 22 Tahun 2003?Red).
Anda salah menginterpretasi perintah Wakil Presiden?
Pokoknya surat itu yang bikin persoalan, ya sudah.
Wakil Presiden menyebut surat ini inisiatif Anda?
Yang pasti, surat itu saya tanda tangani. Saya tidak bereaksi sewaktu di DPR karena saya belum melihat sendiri surat itu. Jadi keesokan harinya saya lihat sendiri berkasnya di kantor saya. Setelah saya cek semuanya bener, ya sudah. Karena itu kesalahan saya, saya harus bertanggung jawab. Saya mengajukan pengunduran diri dan beliau (Wakil Presiden) menerima.
Anda tidak ingat pernah membuat surat sepenting itu?
Waktu Pak Alvien (Alvien Lie, anggota DPR) membacakan surat itu saya sempat kaget juga, masak sih, saya membuat surat yang melecehkan seperti itu? Pangkat saya apa kok bisa melarang (menteri datang ke DPR)? Mungkin Pak Alvien mencampurkan antara isi surat dan opini (dia sendiri). Setelah saya cek isi surat itu lebih banyak mengimbau, bukan langsung melarang.
Anda sempat meragukan keaslian surat itu?
Saya sempat berpikir, siapa tahu ada kekeliruan. Kalau surat saya kan mestinya nomornya ada garis miring. Kali ini tidak. Mungkin teman-teman (staf di sekretariat wakil presiden) tidak teliti atau mungkin mereka punya penomoran sendiri. Selain itu biasanya tanda tangan saya garis ke atasnya ada tiga. Ini kok garisnya ada empat. Tapi, setelah pagi itu saya yakin betul (surat itu asli), saya mengundurkan diri.
Saat mengkonsep surat itu, Anda tidak menduga akibatnya?
Seharusnya kalau itu surat intern di kabinet. Jadi tidak apa-apa. Sifatnya internal dan untuk informasi saja. Tetapi, setelah dibuka di DPR, jadi persoalan.
Bagaimana reaksi Wakil Presiden saat Anda mengundurkan diri?
Biasa saja, dia langsung menerima.
Wakil Presiden lepas tangan dalam kasus ini?
Ya, boleh saja orang punya tafsiran sendiri-sendiri.
Surat seperti apa sih yang biasa Anda kirim untuk para menteri?
Biasanya mengingatkan menteri mengenai hasil sidang kabinet yang harus ditindaklanjuti. Sewaktu zaman Pak Hamzah Haz (mantan wakil presiden) juga sering (saya membuat surat).
Anda punya pengalaman sebagai sekretaris wakil presiden. Mengapa sampai membuat blunder seperti ini?
Ya, memang blunder. Begitu surat yang saya tanda tangani itu keluar, ya itu tanggung jawab saya.
|