Selalu Ranting, Bukan Batang Bukan sekali ini skandal uang palsu melibatkan tentara atau polisi. Kisah pagar makan tanaman. |
SKANDAL uang palsu tampaknya akrab dengan kisah pagar makan tanaman. Dalam sejumlah kasus, ada saja nama aparat keamanan terlibat atau terselip di balik gulungan duit haram itu. Selain kasus terjeratnya Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Zyaeri, pejabat Badan Intelijen Negara, pekan lalu, sudah banyak tentara atau polisi yang terlibat.
Empat tahun lalu, kesaksian paling seru diberikan oleh Ismail Putra di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam perkara uang palsu senilai Rp 23 miliar itu, Ismail menuding bahwa dia mencetak duit palsu karena perintah seseorang yang mengaku Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Tyasno Sudarto.
Ismail adalah mantan calon perwira TNI Angkatan Darat dan pernah bertugas di Combat Intelligence Regiment-5 saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Dia mau terlibat dalam proyek uang palsu karena disebut-sebut untuk membiayai operasi intelijen di Timor Timur menjelang jajak pendapat Agustus 1999. Persisnya, duit itu akan dipakai untuk membayar milisi prointegrasi agar mau memenangkan referendum.
Kesaksian itu tentu saja jadi berita ramai di media massa. Apalagi, Ismail mengaku bertemu muka dengan orang yang mengaku Tyasno di Hotel Central, Jakarta Pusat pada Juli 1999. Saat itulah, orang itu meminta Ismail menyediakan kertas untuk mencetak uang. Ismail menyebut orang yang mengaku sebagai Tyasno itu adalah mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Di-ponegoro.
Seperti yang dilontarkan Ismail di depan hakim, pada pertemuan itu Tyasno telah mengetahui detail identitas Ismail Putra. Bahkan orang itu tahu persis Ismail adalah mantan anggota Combat Intelligence dan pernah masuk ke daratan Malaysia saat terjadi konfrontasi. Tyasno juga tahu dan membeberkan silsilah keluarganya. ?Padahal, saya tidak pernah membuat uraian itu kecuali kepada Bais (Badan Intelijen Strategis?Red),? kata Ismail saat itu.
Menurut dia, Tyasno telah menyediakan 17 rim kertas uang (security paper). Tak jelas asal-usul kertas khusus itu. Tugas Ismail adalah mencetak duitnya. Menurut rencana, dari stok kertas uang itu bakal dicetak pecahan Rp 50 ribu bergambar Soeharto. Tapi tak semua bisa dicetak. Hanya Rp 19 miliar yang mulus diproduksi. Dari jumlah itu pun, hanya Rp 1,8 miliar yang betul-betul terpakai. Sisanya, menurut Ismail, telah dimusnahkan karena dinilai kurang layak.
Tudingan Ismail tadi dibantah keras Tyasno. Bahkan, dalam beberapa kesempatan saat itu, bekas Pangdam Diponegoro itu menyatakan kesaksian Ismail adalah fitnah yang sama sekali tak berdasar. ?Saya mohon ini diklarifikasi dengan teliti. Itu hanya fitnah semata.?
Sayang, pengadilan tak pernah memanggil Tyasno. Kasus itu memang secara politik sangat sensitif. Sampai dengan vonis jatuh bagi Ismail, klarifikasi itu pun tak pernah dilakukan. Akibatnya, sulit membuktikan apakah duit palsu itu buat operasi intelijen atau bukan. Sejumlah tersangka kasus ini kini sudah bebas setelah dijatuhi vonis.
Bukan hanya Tyasno Sudarto yang disebut-sebut berada di belakang sindikat pemalsu uang seperti tudingan Ismail. Sejumlah perwira tinggi lain juga sering terselip dalam kasus duit palsu ini. Kalau bukan perwira aktif, biasanya yang dipasang adalah pensiunan militer atau polisi. Cuma, belum tentu benar ada kaitannya, meski di lain pihak belum tentu juga salah.
Keterlibatan orang-orang militer atau polisi di bisnis pemalsuan duit pun serba remang-remang. Soalnya, setiap anggota kelompok yang dibekuk petugas biasanya memilih bungkam. Akibatnya, penyidikan duit bodong itu sering membentur angin. Yang tertangkap kebanyakan cuma ranting, bukan pokok batangnya. Memang, ada satu-dua pensiunan tentara terpegang tangan, tapi jurus tutup mulut tampaknya cukup ampuh untuk menghilangkan jejak mereka yang berada di atas jaringan itu.
Empat tahun lalu, polisi pernah memeriksa Kolonel (Purn) Soemarjono. Bekas manajer tim Thomas dan Uber Cup itu dibekuk lantaran diduga sebagai dalang pemalsuan rupiah di Surabaya, tapi Soemarjono di depan polisi lebih banyak bungkam. Polisi kesulitan menelusuri mata rantai selanjutnya.
Kasus paling anyar dibongkar Polda Metro Jaya, Oktober 2004. Satuan reserse ekonomi membekuk tiga orang pengedar duit palsu. Kali ini yang dipalsukan bukan rupiah, tapi dolar Amerika. ?Dolar palsu itu sangat mirip dengan aslinya,? ujar Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Ajun Komisaris Besar Polisi Aris Munandar.
Menurut Aris, polisi saat itu langsung bergerak begitu menerima informasi ada seseorang yang bersedia menukar US$100 dengan Rp 100 ribu?jauh lebih murah dari nilai yang berlaku. Cara seperti ini, kata Aris, jelas gaya tukang edar uang palsu: mereka biasanya menjual produknya dengan harga murah.
Setelah mengendus jejak, akhirnya polisi membekuk secara terpisah tiga tersangka, yakni Edi Purnomo, Maman, dan Anton alias Broto. Edi dan Broto dibetot petugas saat mereka berada di depan sebuah hotel di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta. Dari tangan Edi disita sekitar 2.000 lembar US$100 palsu. Sisanya, 400 lembar, diciduk dari tangan Maman.
Yang menarik, ketiga tersangka itu menunjuk satu nama sebagai pemilik duit palsu itu. Mereka mengatakan duit itu milik Antonius Sudjarwo, seorang kolonel di TNI Angkatan Udara. Karena melibatkan lembaga militer, polisi pun meminta bantuan Polisi Militer TNI Ang-katan Udara untuk mengecek kebenaran informasi itu.
Sayang, Antonius Sudjarwo tak bisa dikontak untuk dimintai konfirmasi. Walau begitu, Mabes TNI AU mengiyakan ada anggotanya yang ditahan. Juru bicara TNI AU Marsekal Muda Sagoem Tambun membenarkan bahwa markasnya telah menahan Antonius untuk pemeriksaan lebih lanjut. Antonius, kata Sagoem, kini meringkuk di tahanan Polisi Militer TNI Angkatan Udara. Penyidikan terhadap Antonius masih terus berlanjut. Kata Sagoem: ?Kita masih terus mencari akar dan rantingnya. Jaringan ini harus diungkap tuntas.?
Seperti umumnya jaringan pemalsu uang, mereka memutus mata rantai. Antonius, misalnya, pernah mengaku dolar palsu itu bukan duit miliknya. Semua uang itu adalah titipan rekannya, seorang anggota TNI Angkatan Darat bernama Murod. Berdasarkan keterangan Antonius, Murod yang menitipkan tas berisi duit itu kepada dia. Polisi sedang mencari saksi untuk menguji cerita Antonius itu. Murod sendiri tak lagi bisa dihubungi. Kata Antonius, rekannya itu sudah meninggal dunia.
Aparat boleh curiga dengan keterangan Antonius. Sejauh ini, polisi memang belum mencium duit palsu Antonius sebagai bagian dari suatu ?pekerjaan besar?. Meski begitu, mereka terus memantau gerak pemalsu yang menerapkan sistem jaringan tertutup dalam menjalankan aksinya. Para pemalsu itu bekerja seperti sistem sel. Urusan cetak duit dan pengedar serta pemesan biasanya dilakukan oleh orang yang tak saling kenal. ?Mereka baru bergerak setelah ada pesanan dari pengedar,? ujar Aris.
Nezar Patria, Ayu Cipta
|