Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Investigasi

Saya Sudah Kirim Surat Dua Kali

Bagaimana sikap Departemen Kehutanan atas kasus Kapal MV Mirna?

Saya sudah mengirim surat dua kali ke Kepala Staf Angkatan Laut agar masalah MV Mirna diserahkan kepada Dinas Kehutanan. Sebab, masalah itu termasuk agenda 100 hari pemerintah. Jadi, harus selesai. Tapi, yang jadi soal, cukong-cukongnya licin dan jaringannya luas baik nasional maupun internasional.


Apa isi surat yang Anda kirim?

Saya meminta agar masalah kapal Mirna diserahkan ke Departemen Kehutanan untuk diproses. Beberapa waktu lalu ada utusan (dari Danlantamal) datang, hanya belum ketemu. Kita berharap ada serah-terima.


Saya kirim surat kedua sudah dua minggu yang lalu (sebelum diwawancarai Tempo, 24 Desember 2004). Tapi belum ada balasan.


Anda tahu ada surat keterangan sahnya hasil hutan palsu dari Departemen Kehutanan?

Tak ada istilah SKSHH terbang. Itu hanya bahasa-bahasa yang melegitimasi kejahatan. Kenapa kapal dari Papua harus dibawa ke Surabaya? Itu permainan juga. Menurut aturan, harus kembali ke pelabuhan awal, lalu dibongkar dan dihitung kembali. Tapi mereka tak mau ke pelabuhan tujuan. Dikatakan tujuannya ke Surabaya, tetapi di laut mereka bisa belok ke mana suka. Sampai saat ini pemerintah selalu bilang tak ada ekspor gelondongan atau kayu olahan gergajian keluar. Tetapi tiap hari 500 truk masuk ke Malaysia. Itu juga ilegal. Jadi, pada saat ditangkap, tidak ada surat, kemudian datang surat itu pun tetap ilegal. Kalau ada yang bisa membuatkan SKSHH, berarti orang itu layak diperiksa.


Adakah pejabat Departemen Kehutanan yang sudah diperiksa?

Belum. Tapi jika ada pihak Dephut yang terlibat masalah ini, dia sudah ditindak dan dipecat.


Apakah kasus Mirna merupakan modus baru?

Ini bukan pola baru. Modusnya amat bervariasi karena mereka sudah melakukannya berpuluh-puluh tahun. Ini kejahatan yang luar biasa rapi terorganisasi dengan melibatkan banyak sekali pihak. Boleh dikatakan semua institusi pemerintahan, kenegaraan, itu dirusak mereka.


Bagaimana Anda melihat langkah TNI AL yang proaktif dalam penyelidikan kasus Mirna?

Nah, (justru) ada apa ini? Ini yang saya sayangkan. Semua perangkat hukum harus konsisten membangun sifat saling percaya. Jangan salah satu unsur pemerintah tidak percaya dengan unsur lain. Kepentingan kita hanya satu: pencurian kayu harus hilang. Cukong-cukong harus ditangkap, lalu kerugian dikembalikan kepada negara agar bisa digunakan masyarakat lagi. Kami juga berharap hukumannya berlapis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data