Meneropong Singapura, Sang Kota Tua Sebuah buku yang memotret Singapura dari sisi yang berbeda. Adakah keping sejarah yang tersisa di balik taburan mal-mal itu? |
DISCOVER SINGAPORE ON FOOT
Penulis: Dominique Grêle
Fotografer: Lydie Raimbault
Penyunting: Nancy Chng
Tebal: 155 halaman
Penerbit: Select Publishing, Singapore, Desember 2004
Adakah Singapura mampu mengirim kita kepada masa lalu, ketika lorong-lorong itu masih sunyi dan penuh pejalan kaki dan mal-mal belum menjadi rumput yang menyelimuti seluruh negeri?
Bagi warga Indonesia (kaya-raya), Singapura pernah menjadi surga belanja. Yang lebih tua mungkin masih ingat akan suasana di Bugis Street pada malam hari 1970-an, tatkala para transeksual dengan kostum provokatif meliuk dan melenggang di antara meja-meja warung makan terbuka, sementara aroma parfumnya sejenak memenuhi udara. Bagi pelancong Barat, Singapura menjadi perhentian nyaman untuk meloncat ke negara eksotik Asia lainnya. Buku Discover Singapore on Foot hasil penelitian Dominique Grêle and Lydie Raimbault, yang disunting dengan telaten oleh Nancy Chng, layak disambut hangat. Pada era gerak cepat yang para penghuninya tak sempat mengurangi laju langkah, buku ini muncul bagai sahabat, yang menggenggam tangan kita dan menggugah bawah sadar kita.
Buku ini seolah mengajak kita melakukan pelancongan mini dengan menelusuri tiap kawasan, bukan saja sambil menyimak apa yang tampak di sekitar kita, tapi juga sejarahnya. Ambil contoh salah satu perjalanan di kawasan Chinatown, yang diberi subjudul Religious Sites of the First Migrants. Sambil melangkah menjelajahi jalan-jalan dan lorong-lorong, kita bisa mencuci mata menyusuri arsitektur bangunan-bangunan di kiri-kanannya; mencari kaitan mental dengan apa yang sempat kita pelajari tentang arus-arus pendatang, yang datang sendiri maupun yang didatangkan oleh pemerintah kolonial Inggris. Tempat-tempat ibadah yang menjadi saksi yang membisikkan ceritanya ke dalam benak kita dan rumah-rumah lama yang sanggup berkisah.
Sayang, banyak juga peninggalan bersejarah yang ditelantarkan begitu saja. Selain memeliharanya, bangunan-bangunan ini juga digunakan dalam kehidupan sekarang. Mereka memberi tempat pada restoran-restoran dan toko-toko yang menjajakan barang yang lumrah dipakai maupun yang unik.
Setelah penyusuran yang sekelumit melalui buku ini saja, barulah kita menyadari betapa kaya kota Singa ini akan budaya sejarahnya, karena "saksi-saksi" dari kekayaan ini, yang masih berdiri di berbagai tempat dan tetap terpelihara. Sayang, rumah atau gedung bersejarah itu tampak kerdil dan redup karena berjejer dengan bangunan-bangunan modern yang menjulang bagai raksasa bertolak pinggang menghalangi pemandangan di baliknya. Apalagi kita lazim lebih memperhatikan gedung-gedung baru atau mal untuk berbelanja.
Ada beberapa bagian yang berkisah tentang nama-nama jalan yang lucu bagi telinga Indonesia, umpamanya Jalan Ampas. Buku ini, pada akhirnya, juga membangun sebuah jigsaw puzzle, yang menggambarkan sejarah terbentuknya dan berkembangnya Singapura hingga kini. Inilah perjalanan metaforis yang pasti membawa kepuasan lahir dan batin.
Dewi Anggraeni
|