Pemulihan Minimal Setahun |
Minggu pagi, Aryono melihat tsunami menggulung Aceh dan Sumatra Utara di layar televisi. Minggu sore, Aryono Pusponegorodemikian nama lengkapnyaterbang ke Banda Aceh. Beberapa koleganya dari Asian Medical Doctors for Disasters Association (AMDA) ikut serta.
Aryono memang dokter yang sigap. Menyaksikan Aceh yang belum disorot kamera televisi luluh lantak, ia tertegun. "Kehancuran bukan main, kematian juga tak bisa dibayangkan," ujarnya. "Kami juga prihatin melihat cara pengumpulan jenazah yang mestinya bisa lebih baik."
Cerita Aryono adalah cerita seorang dokter di daerah bencana raksasa. Ia sibuk bukan kepalang: terbang ke Aceh 26 Desember, pulang untuk menikahkan anak 7 Januari, lalu mengajar di Yogya, kembali lagi ke Aceh. Kamis malam lalu, wartawan Tempo Nurdin Kalim, Setri Yasra, dan Jojo Raharjo menemuinya di Rumah Sakit Kesdam I Iskandar Muda, Banda Aceh, untuk sebuah wawancara khusus. Dokter bedah itu bercerita seputar langkah penanganan korban, para dokter dan tenaga medis asing, serta aneka persoalan yang muncul setelah bencana.
Ketika kali pertama kali melihat kon-disi di sini, dalam pikiran Anda berapa lama keadaan ini bisa bertahan?
Kaget begitu tiba di bandara, cari mobil pun tak bisa. Banyak mayat, kami shock, kok bisa begini. Sebelum ini, setiap tahun saya ke sini untuk mengajar pelatihan gawat darurat komisi trauma IDI. Tapi sekarang, sampai di Masjid Raya Baiturrahman perubahan begitu tampak. Kalau kami ingat, pada 2000 bendera GAM masih begitu banyak. Tahun berikutnya mobil dari Sabang mulai masuk, dan kali ini semuanya berubah total. Bikin orang kelenger. Sebuah pemusnahan yang benar-benar luar biasa.
Pasien datang ke RS melebihi kapasitasnya. RSZA kami jadikan Internasional Medical Community. Saya kumpulkan semua orang asing di sana sehingga kita bisa atur cara kerja dan segala macam. Mereka sangat membantu, untuk urusan listrik, air, sampah-sampah got, dan lain-lain. Kami bagi, misalnya ICU kami serahkan teman-teman Singapura, kamar operasi dan X-ray ke relawan listrik, Jerman mengatasi persoalan listrik, Belgia mengambil bangsal anak. Mereka sudah tahu mesti bawa apa. Bagi-bagi tugas baik sekali. ICU-nya, setelah dibersihkan oleh orang Singapura, jadi lebih bersih daripada saat kita yang melakukan...haha.
Kegiatan teknis apa yang Anda lakukan sejak hari pertama?
Prinsip kami, kalau konsep ABCD (airway, breathing, circulation, disability) bisa diamankan, risiko kematian bisa diatasi. Setelah itu baru lakukan operasi yang lebih besar. Hari berikutnya, teman-teman dokter dari Sum-Sel, Sul-Sel, dan DKI datang kemari, bagi-bagi pekerjaan. Tiap bencana kan ada fase-fasenya. Minggu pertama fase akut, trauma, jadi unsur bedahnya lebih besar. Minggu kedua, giliran ISPA (infeksi saluran pernapasan bagian atas), diare. Khusus mengenai masalah penyakit pernapasan agak unik karena mereka mengisap air laut dan lumpur. Dan ini tak bisa diobati kecuali oleh ahli paru, dibersihkan paru-parunya. Maka, kita langsung minta ahli paru, semua dicuci parunya, sehingga bisa napas lagi. Kalau tidak, gimana mau napas, kan ada lumpurnya?
Minggu ketiga, sesuai pengalaman gempa Kobe, muncul penderita penyakit-penyakit kronis: paru, jantung, ginjal, tapi obatnya sudah habis. Dokternya juga meninggal dan saya sempat kehabisan persediaan alat, misalnya oksigen. Lalu beberapa orang dari militer mencari ke RS-RS yang rusak, mengumpulkan botol-botol oksigen. Karena semua habis, kami cari pabrik oksigennya. Ternyata gedungnya rata. Akhirnya terpikir, ada satu di luar kota. Kami mengirim tim dari militer. Yang jaga minta duit, tapi kebetulan ada tim DKI, tim yang paling kaya. Merekalah yang bayar.
Jadi, hari pertama sudah melakukan operasi?
Ya, tapi tak ada luka yang dijahit karena kan kotor, biarkan saja terbuka, daripada infeksi. Ini prinsip yang biasanya kita lupa: mau rapi, tapi malah infeksi. Memang, karena terbuka, kemudian ada belatung di sekitar luka. Tapi itu malah bagus, karena bersih. Nanti belatungnya tinggal disemprot dengan heater bersih. Membersihkannya lebih hebat daripada ahli bedah... haha.
(Di tengah perbincangan, datanglah tim medis dari Denmark, melaporkan keberadaan dirinya di Aceh. Dokter Aryono adalah ketua tim medical support).
Nah, seperti itu, tim kesehatan dari Denmark hanya membawa alat. RS lapangan komplet semua, tapi tanpa personel. Mereka bilang, silakan pakai alat kami. Wah, kami harus belajar dulu. Kalau tidak, bisa hancur-hancuran. Pintu yang semestinya terbuka sendiri bisa-bisa macet. Bagus sekali rumah sakit lapangan mereka. Bisa bikin oksigen sendiri. Di kamar operasi ada C-Arm untuk melihat patah tulang.
Apa saja kendala perawatan di hari pertama?
Tampak sekali kita tidak prepare untuk menghadapi mass casualty. Kita kan punya kursus, mulai buat orang awam, perawat, dokter, sampai untuk direktur RS. Jadi, ia harus mendaftar risiko apa saja yang mungkin terjadi di RS-nya, banjir, gempa, api, teroris, atau apa.
Dalam preparation ini harus berbuat untuk mencegah terjadinya functional collapse, management collapse, dan medical collapse. Khusus untuk bangunan, kalau ada gempa, jangan sampai terjadi structural collapse. Yang juga penting dalam management collapse, misalnya menyiapkan posisi alat. Kalau ada banjir, alat-alat yang penting dan mahal itu jangan di lantai. Jangan taruh di basement, taruh aja di lantai dua. Jangan alat yang berat di atas.
Ada persamaanya dengan bom Bali?
Waktu Bom Bali, medical support-nya hebat. Teman-teman di Bali dalam satu malam melakukan hampir 200 tindakan bedah, hanya berdasarkan damage control ABCD. Yang penting pasiennya hidup. Dunia pun mengakui kehebatan ini. Tapi, besoknya terjadi management collapse. Karena tak tahu pasien ini namanya siapa, tindakan apa yang harus dilakukan, mau makan apa, ribut. Orang masuk juga seenaknya, jalanan juga macet. Ini sebenarnya tanggung jawab kepala RS, bagaimana jalanan di depan RS tak macet.
Kalau ada mass casualty, kita ajarkan itu. Yang pertama kali harus dilakukan oleh satpam adalah kunci semua pintu, tak ada yang boleh pulang. kalau pulang, bubar ini RS, terjadi functional collapse karena personelnya tak ada. Memang mereka juga manusia, yang butuh mencari tahu nasib keluarganya. Mestinya kun-cinya dikunci.
Begitu pula di sini saat gempa. Harusnya pintu dikunci, tak boleh ada yang keluar, karena pasien pasti masuk banyak di sini. Ini penting dalam disaster plan sehingga RS tetap berfungsi. Di sini RS juga berfungsi meski personelnya di bawah standar, kewalahan. Direkturnya yang ahli bedah langsung turun tangan.
Ada anggapan tim medis hanya terfokus ke Banda Aceh, padahal daerah-daerah pantai barat lain lebih parah....
Kalau Anda lihat Banda Aceh, saat ini jumlah dokter, tim medis, perawat, dan alat kesehatan lebih banyak daripada jumlah pasiennya. Karena ada tim asing, relawan lokal, dan lain-lain. Kami coba organize. Orang asing di RS Zainoel Abidin. Yang punya peralatan ICU, keluarkan, yang punya alat bedah, masukkan ke ruang bedah, sehingga bisa jalan.
Saat ini kita juga mulai menyisir, sweeping daerah-daerah penampungan pengungsi, untuk early diagnosis, early treatment, vaksinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kalau perlu, pasien-pasien yang berbahaya, keadaannya menular, bawa ke RS.
Itu untuk Banda Aceh. Untuk luar Banda Aceh, kami sudah bertemu dengan Tim BUMN di Posko Bandara Iskandar Muda. Ternyata mereka aktif sekali. Sejak hari pertama, mereka sudah menembus Aceh Besar dan daerah pantai barat lainnya. Kami sudah negosiasi, mereka sediakan helikopter dan alat komunikasi, sedang kami sediakan tim dokter bersama IDI.
Kami juga bekerja sama dengan WHO mendapatkan paket disaster kit, mulai antibiotik, obat pilek, analgesik, obat diare, termasuk tablet-tablet water purifier yang bisa dimasukkan ke air apa pun sehingga langsung siap minum. Kita akan dapat sekitar 40 boks besar, akan kita bawa ke daerah-daerah terpencil.
Sampai berapa lama stamina seperti ini dipertahankan?
Harus terus. Karena banyak personel kesehatan yang meninggal dunia. Ini harus diganti. Selama di sini kita belum bisa merekrut. Masih harus didatangkan dari luar. IDI, persatuan perawat, harus organized. Maksudnya biar bisa bertahap, terencana, digantikan oleh tim yang tepat. Mereka itu harus dilatih tentang gawat darurat, tentang ICU, tentang operasi, dan lain-lain. Dan itu bukan pekerjaan ringan. Bisa makan enam bulan hingga setahun.
Bagaimana dengan dokter-dokter asing?
Kalau dokter asing mungkin enggak ya. Presiden sudah menyatakan bahwa mereka pada Maret sudah harus meninggalkan Aceh. Saya rasa sudah cukuplah kalau sampai Maret. Masalahnya, kita orang Indonesia harus melatih mereka dan itu makan waktu. Sebab, tenaga kesehatan itu harus direkrut, dilatih, segala macam.
Bagaimana dokter Indonesia melihat serbuan dokter asing?
Tak benar kalau dikatakan mereka duluan ke lokasi terpencil seperti Lam No dan Calang. Sejak hari kedua, dokter-dokter dari BUMN sudah sampai, tapi mereka tak mau menyatakan diri sebagai pahlawan. Tapi di mana pun, di daerah-daerah bencana mana pun, selalu ada tendensi dari negara-negara yang membantu untuk membuktikan siapa dulu yang sampai. Menancapkan bendera, ini gua sudah sampai, shooting TV. Sampai-sampai di Armenia, dua pesawat tabrakan karena dulu-duluan sampai untuk memberikan bantuan.
Dan di dunia ini seperti ada kesepakatan bahwa di mana ada gempa di atas 7 skala Richter, tanpa diminta bantuan dari luar negeri datang. Kita ini istimewa, karena fase akutnya collapse, structure, search, and rescue (CSSR) tak mampu kita lakukan. Mereka mempunyai kemampuan itu. Dengan anjing, dengan alat-alat, dengan sekop, melihat ke reruntuhan mencari gempa.
Tapi benarkah ada dokter Indonesia menolak dokter asing yang masuk ke Meulaboh?
Tidak benar itu. Dokter dari RS Hasan Sadikin dan dokter BUMN sudah masuk duluan. Di sana yang hebat malah Komandan Koremnya, Kolonel German. Begitu tahu bakal ada gempa dan tsunami, ia giring warganya ke sana, sehingga meski kerusakannya parah, korbannya tak terlalu banyak. Anak Mapala UI juga ke sana. Lalu, baru orang asing masuk. Waktu gempa di Bengkulu pun, yang pertama datang dokter-dokter dari Palembang. Mereka jalan darat 12 jam, yang lain tak bisa datang karena airport-nya rusak. Mereka kerja keras 24 jam, lalu tidur, capek. Baru kemudian datang bantuan asing yang masuk TV itu. Gimana sih? Jadi, kita enggak dilihat.
Tapi di belakang layar terjadi persaingan itu atau tidak?
Enggak ada. Kami kerja sama Saya bilang kepada mereka, "Kamu bukan tim Australia, kamu bukan tim Jerman, bukan tim Spanyol, saya bukan tim Indonesia, tapi we are team for Aceh. Saya susun, operasi ini operatornya orang Australia, asistennya orang Indonesia. Lalu operasi lain operatornya orang Indonesia, asistennya orang Jerman, disusun saja. Nurut ini, nurut mereka.
Koordinasinya dari kita, nurut mereka, asal kita berani, lu mesti begini, jangan macam-macam. Cuma mereka kaget, kok bisa melakukan operasi dengan peralatan sederhana seperti ini. Ingat konsep tak ada yang dijahit? Mereka kaget, karena maunya kan rapi, teliti. Seperti kerusuhan Semanggi, itu kan dilakukan pembedahan seperti itu sejam. Pilah-pilah menurut ABCD-nya. Yang tidak masuk, pulang. Beres. Prinsip-prinsip ini harus kita pegang. Sepuluh menit harus bisa tangani, selesai, maka orang itu tak jadi mati. Dan tak ada jahit-menjahit.
Setelah Maret, dokter asing itu pergi, kita bisa tangani?
Saya kira iya. Tak ada masalah. Sekarang saja RS ini operasinya sudah terjadwal, tak dilakukan secara emergency lagi. Tinggal tenaganya saja. Nanti IDI yang akan atur jadwal kedatangan tim medis, biar enggak emosional sekarang datang, lalu nanti pulang semua.
Termasuk daerah-daerah di luar Banda Aceh. Seperti sekarang di Lhok Seumawe diisi dokter dari USU, Meulaboh RS Hasan Sadikin dari Bandung, Sigli dari Jawa Timur, di Banda Aceh ada Jakarta (Pemprov DKI dan FK UI), Sum-Sel, dan Sul-Sel. Saya rasa mampu. Ada DKI yang mampu, duitnya cukup.
Terus bagaimana dengan penanganan trauma?
Yang penting, pertama, pasien jangan mati dulu. Misalnya datang dengan suara serak. "Arrggh..." Berarti airway-nya enggak bener, maka tinggal bikin lubang saja di lehernya, beres. Seperti saat Merapi meletus pada 1995, 67 pasien mati karena mengisap abu. Saya ajak teman ke kamar mayat, lubangi leher, bersih. Semestinya kalau lekas ditangani pernapasannya, selamat dia. Kedua, kalau tak mampu bernapas, bisa berdarah, bisa bocor parunya, sehingga kita bikin lubang aja di samping dada, selangnya apa saja bisa, mulai selang yang bagus, sampai selang yang bisa menyirami tanaman, sampai bambu pun bisa.
Kalau penanganan trauma psikologis bagaimana?
Pasti ada, dan di sini juga ada. Itu yang disebut Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Di sini pun ada pasien-pasien seperti itu. Dan itu perlu konseling. Biasanya petugas medis yang kena itu. Tak tahan melihat pasien yang begitu hancur-hancuran. Seperti kasus WTC 911, banyak sekali PMK, polisi, paramedis yang kena PTSD. Sifatnya jadi berubah, marah-marah sendiri atau murung. Ini butuh konseling oleh psikiater. Dan di tim kita sudah ada psikiater. Tentara menembak temannya sendiri, iya itu contoh. Dan itu bisa dicegah asal kita waspada dengan tanda-tandanya. Relawan dan wartawan juga. Makanya, sebetulnya di tempat bencana, 7-10 hari, Anda harus keluar. Kalau tidak, mulai mikir enggak beres. Kerja pun tidak optimum, mulai mikir yang enggak-enggak.
Sampai sekarang penduduk Aceh masih trauma: tak mau makan ikan....
Ya itu normal. Seperti waktu ada kapal dari Sabang tenggelam, orang juga tak mau makan ikan. Lama-lama juga lupa.
Bagaimana dengan kemungkinan penyebaran wabah?
Saya tak terlalu khawatir selama bisa jaga kebersihan sesuai ayat-ayat Quran tadi. Mayat juga tak sebanyak dulu, tinggal yang di gedung-gedung saja. Baunya juga sudah tak ada. Soal penyakit, asal hygiene dipertahankan, tak jadi masalah. Penyakit menular itu kan sumbernya tiga: food, flies, dirty fingermakanan, lalat, dan tangan kotor. Kontaminasi sumber air: itu yang berbahaya. Tapi Australia datang dengan mesin water purifying berkapasitas 20 ribu liter per jam. Asal distribusi air bagus, tak masalah. Yang penting penyuluhan untuk hidup sehat.
Pelajaran apa yang bisa kita petik dalam penanganan bencana ini?
Harus siap-siap. Anda hidup di daerah banjir, Anda harus siap hadapi banjir. Anda hidup di daerah gempa, ya rumahnya jangan dari beton dong, seperti rumah-rumah bikinan Belanda di sini, rumah kayu yang ada kakinya. Kalau ada gempa, kaki rumah itu yang goyang. Makanya, kalau Jakarta kena gempa, ya sudah selesai... tidur aja, besok sudah terperangkap. Enggak bisa ngapa-ngapain. Coba bayangin, collapse structure search and rescue, alatnya saja enggak punya. Anjing untuk nyari enggak ada. Kalau bom aja enggak ada masalah, tapi bagaimana kalau serangan gas atau senjata biologi? Habis sudah....
Di luar negeri, sistemnya sudah jalan. Tapi yang penting adalah prepare, persiapan. Artinya, kita siap dan akrab dengan bencana ini. Kalau di Jepang anak-anak sudah diajar, kalau gempa jangan lari, ngumpet aja di bawah meja. Kalau di hotel juga begitu, jika ada gempa jangan lari, stay in your room, jangan lari. Yang mati itu kan yang lari. Lihat ICU kita, itu monitornya ditaruh di atas tempat tidur. Bayangin aja kalau gempa, mati ketiban. Mestinya disekrup. Itu tabung oksigen yang gede, bisa ngejar kita kalau ada gempa. Mestinya diikat. Relawan itu juga begitu. Datang dengan semangat saja. Self protection-nya tak ada. Sarung tangan yang tipis tak ada gunanya. Masker juga tak ada gunanya. Karena bau itu 10 menit aja sudah biasa. Penyakit juga tidak bakalan lewat hidung.
Adakah pengalaman yang belum pernah ditemui di tempat lain?
Mayat yang begitu banyak, tak terurus. Karena itu, kita sempat usulkan, yang pertama harus diselesaikan di Aceh, mayat itu harus bersih dulu. Yang kedua, masjid raya harus bersih supaya bisa sa-lat pertama pada Jumat setelah bencana. Ini tak tercapai. Masjid Raya itu kan simbol Aceh, supaya kembali citranya. Berikutnya, pembersihan RS Zainoel Abidin, karena kita perlu RS.
Aryono Pusponegoro
Lahir:
- Cirebon, Jawa Barat, 20 April 1939
Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Carolina, Praha, Cekoslowakia (1966)
- Spesialis Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran UI (1968)
Karier:
- Magang dan praktek kerja di sejumlah rumah sakit di Eropa, Amerika, dan Asia (1968-1982)
- Dokter di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta (1982-1987)
- Dokter di bagian bedah RSCM, Jakarta (1987 - sekarang)
- President Indonesian College of Surgeons
- Director 118 Emergency Ambulance Service
- Guru Besar FK UI, Jakarta
|