Renungan untuk Pejuang Mengenang perjuangan Munir, sebuah pentas monolog digelar. Mungkin upaya untuk membuat ikon. |
Suara gemuruh pesawat tempur meraung-raung. Layar terbuka. Sosok lelaki tengkurap di bawah siraman sinar merah, sinar dari ujung seng berbentuk corong yang menggantung tepat di atas tubuhnya. Mengancam, bagai ujung pisau membara, siap menancap di dada.
"Seperti yang kutakutkan selama ini, akhirnya orang-orang itu membunuhnya. Aku mengetahui dari koran-koran. Aneh rasanya
."
Laki-laki itu mulai bergerak-gerak, akhirnya bangun. Bercerita tentang kematian, tentang makna hidup, penyesalan dan kemarahan. Bagi sebagian orang, kematian merupakan kehilangan besar. Tetapi, bagi sejumlah orang lain, kematian adalah perayaan kemenangan.
Meski sempat ada kata-kata yang terlepas, Whani Darmawan, lakon tunggal pentas monolog itu, dengan lancar mengalirkan kata-kata. Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (13/1) pekan lalu itu, penuh. Di depan lebih dari 300 pengunjung, Whani memainkan emosi. Lebih-lebih istri Munir, Suciwati, yang menyempatkan diri hadir. Dia terisak dan beberapa kali menyeka air mata. Maklum, kenangan dan emosinya bangkit.
Di bawah arahan sutradara Landung Simatupang, tontonan yang mengandung makna pembelaan dan solidaritas ini menjadi tontonan yang cukup menarik, setidaknya bagi aktivis hak asasi manusia dan masyarakat yang peduli. "Kebersamaan, antusiasme, dan konsen para aktivis ini yang lebih penting. Saya tidak menduga yang menonton begitu banyak," ujar Landung.
Realitas bisa diungkapkan secara verbal. Tapi dunia panggung punya realitasnya sendiri. Faruk H.T. mengatakan, kata-katanya berserakan di mana-mana. Kompleksitas masalahnya tidak ada, juga kompleksitas karakternya. Sebagai renungan, kualitas kata-katanya masih menjadi kata-kata jalanan. "Dari sisi naskah tidak ada yang baru, tidak ada yang bisa membuat syok," kata Faruk.
Memang, naskah yang ditulis F.X. Rudy Gunawan ini absurd dan linear. Landung juga mengakui. Semua orang tahu cerita ini, dan tidak ada hal baru. Dalam naskah juga telah disebutkan, "semua orang tahu". Artinya, semua orang sudah tahu peristiwa ini, dan mereka bisa membaca di mana saja. "Bagi saya ini sebuah renungan. Ini solidarity making. Saya menyebut ini teater dalam rangka. Lebih penting misi dari capaian estetikanya," ujar Landung.
Sependapat dengan Landung, Whani menerima naskah itu, meski ia harus berjuang keras agar semua unsur terpenuhi. Upaya maksimal itu mentok sehingga unsur estetika terkesampingkan. Bagi Whani, yang lebih penting pesan perjuangan itu sampai ke masyarakat dan dapat memberikan kesegaran baru bagi mereka yang berkonsentrasi pada masalah ini. "Kalau semata-mata pertimbangan estetika, saya akan menolak," ujar Whani.
Demikian pula Rudy, yang berharap agar pertunjukan ini dapat menghidupkan kembali kepedulian orang terhadap kasus yang ironis dan tragis yang dialami sahabatnya. "Ini upaya kami agar Munir bisa menjadi ikon perjuangan HAM," ujar Rudy, yang juga salah seorang pendiri Perkumpulan Seni Indonesia.
"Begitulah sahabatku mati. Di tengah orang-orang yang takjud dan tak bisa berbuat apa pun. Semua orang tahu
," kata Whani sambil menunjuk layar di belakangnya. Sebuah ilustrasi visual dalam bentuk potongan slide muncul. Sambil terus berbicara, rekaman gambar tentara berbaris, menembak, suara roda tank menggilas tanah dan bebatuan, juga aktor pantomim Jemek Supardi dan kawan-kawan memperagakan peristiwa kekerasan.
Seluruh tubuh dan wajah tiga pelakon gerak dan mimik itu terbalut riasan warna putih. Mereka hanya mengenakan potongan kain penutup aurat. Jemek dipaksa masuk dalam sebuah potongan tong, diikat, ditarik, bahkan diseret. Slide ini menunjukkan kekerasan yang dilakukan sebuah lembaga di negeri ini. Whani berbaris tegap dengan sikap memberi hormat. "Perayaan kemenangan, kebejatan manusia. Perayaan kemenangan, kekejaman, dan kegelapan jiwa manusia. Perayaan kemenangan para penindas dan antek-antek kejahatan di muka bumi."
Didukung ilustrasi musik Tony Prabowo dan artistik Hendro Suseno, pentas solidaritas berjudul Matinya Seorang Pejuang: A Tribute untuk Munir ini menjadi lebih hidup. Bagi para aktivis, pertunjukan ini dinilai sangat menarik. Mereka tetap antusias hingga sesi diskusi ditutup. Ketua Forum LSM DIY, Tri Wahyu, mengatakan, "Bagus. Acara ini sangat bagus. Pertunjukan tadi mengingatkan kami bahwa perjuangan Cak Munir belum selesai."
L.N. Idayanie
|